Iklan Atas Zona Muslim

Jenis Pakaian Yang Dilarang Untuk Laki-Laki (Bag. 2 Habis)
4/ 5 stars - "Jenis Pakaian Yang Dilarang Untuk Laki-Laki (Bag. 2 Habis)" Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang Pakaian Yang Dilarang Bagi Laki-Laki . Berikut selengkapnya Pengharam...

Jenis Pakaian Yang Dilarang Untuk Laki-Laki (Bag. 2 Habis)

Admin

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang Pakaian Yang Dilarang Bagi Laki-Laki. Berikut selengkapnya

Pengharaman Pakaian Ketenaran.

Dari Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [ثُمَّ أُلَهَّبَ فِيهِ النَّارُ]

“Siapa yang memakai pakaian syuhrah (ketenaran) di dunia, maka Allah kelak akan memakaikannya pakaian kehinaan pada Hari Kiamat [kemudian dinyalakan neraka dengannya].”[2]

Ibnu al-Atsir berkata, “Syuhrah adalah terlihatnya sesuatu. Yang dimaksud dengan pakaiansyuhrah adalah pakaian yang membuat pemakainya menjadi terkenal di kalangan manusia karena warnanya yang berbeda dari warna pakaian manusia umumnya, sehingga manusia pun memandang kepadanya sementara dia membanggakan dirinya atas mereka dengan penuh kesombongan.”

Makruhkah Laki-Laki Memakai Pakaian Merah?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum laki-laki memakai pakaian merah dalam beberapa pendapat --al-Hafizh Ibnu Hajar menghitungnya ada tujuh pendapat-- yang bisa diringkas ke dalam dua pendapat berikut.[3]

Pertama: Makruh Memakai Pakaian Merah. Ini adalah pendapat ulama Hanafiyah dan Hanabilah. Dalil mereka adalah sebagai berikut.

1. Hadits al-Barra’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami dari tujuh hal.” Kemudian dia menyebutkan salah satu di antaranya: “(memakai) mayatsir (pelana sutra) yang berwarna merah”.[1]

Dan dalam suatu riwayat dari hadits ‘Imran bin Hushain disebutkan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mitsarah urjuwan (pelana sutra yang berwarna merah tua)”.[2]

Mayatsir [Bentuk jamak kata mitsarah. –Pent.] adalah bantal-bantal kecil berwarna merah yang dijadikan para pengendara (hewan tunggangan) --dari kalangan a‘jam(non-Arab)-- sebagai alas duduknya.

Penulis berkata: Bahwa dalil ini lebih khusus daripada yang diklaim kelompok ini, dan maksimal kandungannya hanyalah pengharaman pelana sutra berwarna merah. Maka, manakah dalil yang menunjukkan pengharaman barang selain pelana tersebut padahal telah pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memakai pakaian merah beberapa kali sebagaimana akan disebutkan nanti? Ada kemungkinan larangan beliau tersebut lebih karena orang-orang non-Arab membuatnya dari bahandibaj dan sutra.

2. Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dia berkata, “Ada seorang laki-laki yang memakai pakaian berwarna merah melewati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memberi salam kepada beliau tetapi beliau tidak menjawab salamnya.”[3] Hadits ini dha‘if.

3. Dari seorang perempuan Bani Asad, dia berkata, “Aku pernah pada suatu hari berada di sisi Zainab, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami saat itu sedang mewarnai pakaian miliknya dengan magrah.” Magrah adalah lumpur merah (yang biasa dipakai sebagai bahan pewarna). Selanjutnya, dia berkata, “Ketika kami sedang melakukan hal itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam muncul di hadapan kami. Begitu melihat magrah tersebut, beliau balik pergi. Melihat hal itu, Zainab sadar bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka dengan apa yang dia lakukan. Maka dia mengambil pakaian itu lalu mencucinya hingga hilang semua warna merahnya. Kemudian ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kembali dan tidak melihat apapun lagi, beliau pun masuk (ke dalam rumah Zainab).”[4] Hadits ini dha‘if.

4. Hadits yang diriwayatkan dari Rafi‘ bin Yazid ats-Tsaqafi secara marfu‘:“Sesungguhnya syaitan menyukai warna merah. Berhati-hatilah kalian dari warna merah dan semua pakaian ketenaran.”[5] Hadits ini juga dha‘if.

Kedua: Boleh Memakai Pakaian Berwarna Merah. Ini adalah pendapat Malikiyah dan Syafi‘iyah. Argumen mereka sebagai berikut.

Hadits al-Barra’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang laki-laki yang berperawakan sedang (tidak tinggi dan tidak pendek). Aku pernah melihat beliau mengenakan satu setel pakaian berwarna merah. Tidak pernah aku melihat sesuatu yang lebih bagus darinya.”[1]

2. Dari Jabir bin Samrah radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku pernah memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam yang terang dengan sinar bulan. Aku pun memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memandang bulan. Saat itu beliau sedang memakai satu setel pakaian berwarna merah. Menurutku, beliau lebih indah daripada bulan.”[2]

Kelompok pertama membantah (pendalilan dengan hadits ini) dengan mengatakan bahwa pakaian merah yang dikenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu bukanlah merah murni, tetapi bercampur dengan warna lain.

Pendapat Yang Rajih: Yang tampak bagi penulis adalah bahwa dalil-dalil kelompok yang menyatakan makruh tidak begitu kuat. Dengan begitu jelas bahwa tidak masalah memakai pakaian merah. Namun, jika seseorang memilih tidak memakai pakaian merah yang murni yang tidak bercampur dengan warna lain, maka itu lebih baik dan lebih berhati-hati karena menghindari perselisihan. Wallahu a‘lam.

Pakaian Mu‘ashfar (Yang Dicelup Dengan Warna Kuning).

Dari Abdullah bin ‘Amru radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku memakai dua potong pakaian yang dicelup dengan warna kuning, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا

Sesungguhnya ini termasuk pakaian orang-orang kafir, maka jangan engkau memakainya.”[3]

Dalam riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ قلت: أغسلها، قال: بَلْ أَحْرِقْهَا

“Apakah ibumu yang menyuruhmu memakai ini?” Aku berkata, “Aku akan mencucinya.” Beliau bersabda, “Bahkan engkau harus membakarnya.”
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah ibumu yang menyuruhmu memakai ini”menunjukkan bahwa pakaian itu termasuk di antara pakaian dan perhiasan kaum perempuan dan kebiasaan mereka. Adapun perintah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membakarnya, maka dikatakan bahwa itu merupakan satu bentuk hukuman dan peringatan keras untuk mencegah dia dan selainnya dari melakukan perbuatan tersebut.[4]

Dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu “bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memakai pakaian yang bersulam sutra dan pakaian yang dicelup dengan warna kuning, dan melarang memakai cincin emas, serta melarang membaca al-Qur’an saat rukuk”.[5]

Para ulama berbeda pendapat tentang pakaian mu‘ashfar, yaitu pakaian yang dicelup dengan warna kuning. Jumhur ulama membolehkannya, di antaranya: asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, dan Malik.

Di pihak lain, sekelompok ulama menyatakan hukumnya makruh tanzih berdasarkan hadits yang valid dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dia berkata, “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup dengan celupan kuning.”[1]

Al-Khaththabi berkata, “Larangan ini diarahkan kepada pakaian yang dicelup setelah ditenun. Adapun pakaian yang kainnya dicelup saat dipintal lalu ditenun, maka tidak masuk dalam larangan ini.

Sejumlah ulama menggiring larangan di sini kepada orang yang sedang berihram untuk haji atau umrah agar bersesuaian dengan hadits Ibnu Umar seputar pakaian yang terlarang dipakai oleh orang yang sedang berihram.”[2]

Penulis berkata: Pendapat yang paling kuat adalah bahwa tidak boleh memakai pakaian yang dicelup dengan warna kuning berdasarkan hadits-hadits yang valid di atas. Terutama pakaian yang kuningnya berwarna mencolok sehingga menyerupai pakaian perempuan. Oleh karena itu, al-Baihaqi berkata, “Seandainya hadits-hadits ini sampai kepada Imam asy-Syafi‘i, pastilah beliau berpendapat dengannya insya Allah.”

Adapun tentang hadits Ibnu Umar, maka di dalamnya sama sekali tidak disebutkan objek yang dicelup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga ada kemungkinan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup rambut atau pakaiannya, di samping bahwa warna kuning yang disebutkan hadits tersebut bisa dibawa kepada kuning yang tidak mencolok sehingga menyerupai pakaian perempuan. Wallahu a‘lam.

Pakaian Yang Terdapat Tanda Salib.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membiarkan di dalam rumahnya ada tanda salib satu pun. Beliau pasti menghapusnya.”[3]

Pakaian Yang Terbuat Dari Kulit Binatang Buas, seperti singa, harimau, macan dan sebagainya, baik itu untuk bahan pakaian maupun sepatu. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لاَ تَرْكَبُوا الْخَزَّ وَلاَ النِّمَارَ

“Janganlah kalian berkendara (dengan duduk di atas pelana) sutra dan kulit harimau.”[4]

Beliau melarang penggunaannya karena mengandung unsur perhiasan dan kesombongan, dan karena merupakan perhiasan orang-orang non-Arab (Persia).[5]

Foot note:
[3] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5885), at-Tirmidzi (2784), Abu Dawud (4097), dan Ibnu Majah (1904).
[4] Shahih. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4098) dan Ahmad (II/325).
[5] Al-Majmu‘ (IV/335).
[6] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5783) dan Muslim (2085).
[1] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5788) dan Muslim (2087).
[2] Jenis pakaian luar yang terdiri dari 2 potong, yang satu di atas yang lain, seringnya berupa izar danrida’. -Pent.
[3] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5789) dan Muslim (2088).
[4] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5787), an-Nasa’i (5331), Abu Dawud (4093), dan Ibnu Majah (3573).
[5] Fath al-Bari (I/257) cetakan as-Salafiyah.
[1] Dinilai shahih oleh al-Albani. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4094), an-Nasa’i (5334), dan Ibnu Majah (3576). Lihat al-Misykat (4332).
[2] Al-Mughni (II/204), Fath al-Bari (X/285), dan Syarh Muslim (XIV/32).
[3] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5833) dan Muslim (2069).
[4] Surat al-Hajj:32.
[1] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5426) dan Muslim (2067).
[2] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5835) dan Muslim (2068).
[3] Shahih. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4057), at-Tirmidzi (1720), an-Nasa’i (VIII/160), dan Ibnu Majah (3595).
[4] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (375) dan Muslim (2075).
[1] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5837).
[2] Hasan. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4029), Ibnu Majah (3606), dan Ahmad (II/92). Termuat pula di dalam Shahih al-Jami‘ (6526).
[3] Majma ‘ al-Anhar (II/532), al-Inshaf (I/481), Fath al-Bari (X/305), dan Nail al-Authar.
[2] Shahih. Hadits Riwayat: at-Tirmidzi (2788), dan termuat di dalam Shahih al-Jami‘ (6907).
[3] Dha‘if. Hadits Riwayat: at-Tirmidzi (2807) dan Abu Dawud (4069).
[4] Dha‘if. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4071), Ibnu Abi ‘Ashim dalam al-Ahad (3069), dan ath-Thabarani (XXIV/57 - XXV/185).
[5] Dha‘if. Hadits Riwayat: ath-Thabarani dalam al-Ausath (7708).
[1] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5848).
[2] Dha‘if. Hadits Riwayat: at-Tirmidzi (2811), an-Nasa’i dalam al-Kubra (9640), Abu Ya‘la (7477), dan al-Hakim (IV/207), dan dikuatkan oleh hadits sebelumnya.
[3] Shahih. Hadits Riwayat: Muslim (2077).
[4] Syarh Muslim karya an-Nawawi (XIV/55).
[5] Shahih. Hadits Riwayat: Muslim (2078), at-Tirmidzi (264), dan an-Nasa’i (1041).
[1] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5851) dan Muslim (1187).
[2] Syarh Muslim karya an-Nawawi (XIV/54).
[3] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5952).
[4] Shahih. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4129) dan Ibnu Majah (3656).
[5] Aun al-Ma ‘bud (XI/188).

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru