Iklan Atas Zona Muslim

Kriteria Seorang Istri Boleh Di Cerai
4/ 5 stars - "Kriteria Seorang Istri Boleh Di Cerai" Jika kondisi rumah tangga (suami istri) ada dalam kondisi stabil dimana tidak ada faktor-faktor pendorong untuk melakukan perceraian dita...

Kriteria Seorang Istri Boleh Di Cerai

Admin

Jika kondisi rumah tangga (suami istri) ada dalam kondisi stabil dimana tidak ada faktor-faktor pendorong untuk melakukan perceraian ditambah dengan keberadaan anak ditengah-tengah mereka maka perceraian adalah makruh. Kemakruhan ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam;

ﺇِﻥَّ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﻳَﻀَﻊُ ﻋَﺮْﺷَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺒْﻌَﺚُ ﺳَﺮَﺍﻳَﺎﻩُ، ﻓَﺄَﺩْﻧَﺎﻫُﻢْ ﻣِﻨْﻪُ ﻣَﻨْﺰِﻟَﺔً ﺃَﻋْﻈَﻤُﻬُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔً، ﻳَﺠِﻲﺀُ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻓَﻌَﻠْﺖُ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻣَﺎ ﺻَﻨَﻌْﺖَ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﻓَﺮَّﻗْﺖُ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗِﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺪْﻧِﻴﻪِ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ : ﻧِﻌْﻢَ ﺃَﻧْﺖَ ﻓَﻴَﻠْﺘَﺰِﻣﻪُ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ

“Sesungguhnya iblis menempatkan singgasananya di atas air. Dia mengutus pasukan dan prajuritnya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar fitnahnya (godaannya). Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan begini dan begitu.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya tidak biarkan dia sehingga saya berhasil menceraikannya dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu. maka syaitan tersebut menemani Iblis.” (HR. Muslim)

Dan talak menjadi sunnah bahkan menjadi wajib jika keduanya (suami-istri) atau salah satunya melalaikan hak-hak Allah yang wajib atasnya diantaranya adalah meninggalkan kewajiban shalat.

Berkenaan dengan pelanggaran meninggalkan shalat yang dilakukan oleh istri anda, maka ada hal penting yang anda harus ketahui bahwa orang yang meninggalkan shalat tidak lepas dari tiga kondisi;

1. Meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya.

2. Meninggalkan shalat sama sekali karena malas

3. Terkadang meninggalkan shalat karena malas dan terkadang pula mengerjakannya.

Adapun hukum dari masing-masing tiga kondisi diatas sebagai berikut;

Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya atau karena tidak suka dengan kewajiban shalat, maka ia adalah kafir. Ibnu Hazm Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ummat ini atas wajibnya shalat yang lima waktu. Barangsiapa yang menyelisihi masalah ini berarti ia kafir.’ [Al-Muhalla I/228]

Adapun orang yang meninggalkan shalat karena malas mengerjakannya, maka para ulama berbeda pendapat mengenai kekafirannya. Dan yang unggul bahwa jika ia meninggalkan shalat secara total dalam arti ia tidak pernah mengerjakan shalat hingga matinya maka ia adalah kafir masuk dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam 'Perjanjian antara kami dengan kalian adalah (mengerjakan) shalat. Siapa yang meninggalkan shalat, maka ia telah kafir.’ [Shahih. HR. at-Tirmidzi 2621 dan an-Nasa’i I/231]. Adapun jika ia tidak meninggalkannnya secara total, dimana terkadang ia mengerjakannya dan kadangpula meninggalkannya maka ia tidak divonis kafir namun ia telah melakukan dosa besar, ia berada dibawah ancaman adzab yang pedih.

Istri tidak shalat, diceraikan atau tidak?
Jika anda telah mengetahui tentang tiga kondisi orang yang meninggalkan shalat beserta hukumnya, maka pertanyaan anda kami jawab sebagai berikut;

Jika istri anda masuk dalam kategori pertama dan kedua maka anda wajib menceraikan istri anda tersebut. Sungguh tidak ada kebaikan yang diharapkan dari istri seperti itu. Jika ia berani mengingkari kewajiban yang datang dari Rabb-nya maka kewajibannya kepada manusia (suami) tentu lebih mudah ia ingkari. Pada dirinya tersimpan berbagai keburukan dan kebusukan, jiwanya sakit dan berpenyakit. Dan ia tidak pantas anda serahkan pendidikan anak-anak anda kepadanya.

Adapun jika ia masuk dalam kategori yang ketiga, terkadang mengerjakan dan terkadang meninggalkan shalat, maka urusannya pada anda antara meneruskan ikatan pernikahan dengannya atau memutuskannya. Namun kami sarankan, sebelum anda mengambil jalan memutuskan pernikahan dengannya maka hendaknya anda terlebih dahulu mengupayakan berbagai cara agar ia mau mengerjakan shalat secara konsisten. Baik dengan cara menasehatinya langsung atau meminta orang lain untuk menasehatinya. Jika anda menasehatinya, maka nasehatilah ia dengan cara yang baik, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Mudah-mudahan dengan cara itu ia tersadar dari kesalahannya dan segera bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Demikian. Wallohu a'lam

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru