Iklan Atas Zona Muslim

Ustadz A. Hassan, Sang Pendebat Ulung Dari Persis
4/ 5 stars - "Ustadz A. Hassan, Sang Pendebat Ulung Dari Persis" Ustadz Hassan bin Ahmad atau lebih dikenal dengan Ahmad Hassan atau A. Hassan (lahir di Singapura pada 31 Desember 1887) adalah guru orma...

Ustadz A. Hassan, Sang Pendebat Ulung Dari Persis

Admin
Biografi a. Hassan Persis

Ustadz Hassan bin Ahmad atau lebih dikenal dengan Ahmad Hassan atau A. Hassan (lahir di Singapura pada 31 Desember 1887) adalah guru ormas Persatuan Islam dan seorang ulama pembaharu Nusantara yang terkenal sangat tajam lisan dan pena-nya. Keteguhan, ketegasan, dan keberaniannya dalam mempertahankan pendiriannya membawa Beliau untuk berpolemik dengan beberapa kalangan yang tidak menyetujui pendapat Beliau. Polemik ini bisa berupa saling membantah lewat tulisan maupun debat terbuka berhadap-hadapan muka.

Beberapa polemik yang bisa dicatat yang kami rangkum dari berbagai sumber diantaranya adalah :

Pertama, debat terbuka dengan kelompok Ahmadiyah. A. Hassan saat itu mewakili pihak Pembela Islam. Risalah resmi perdebatan ini telah dicetak dan diterbitkan oleh kedua belah pihak, baik Ahmadiyah maupun Pembela Islam.

Kedua, debat terbuka dengan salah seorang pendiri NU, KH. Abdul Wahhab Chasbullah tentang taqlid. Tentang debat ini, A. Hassan menerbitkannya dalam bentuk buku berjudul “Debat Taqlid”.

Ketiga, debat terbuka dengan seorang anggota PKI yang berpaham atheis bernama Muhammad Akhsan tentang eksistensi Tuhan dan keadilan Tuhan. Debat ini kemudian dibukukan dan dikembangkan pembahasannya lebih lanjut menjadi sebuah buku berjudul “Adakah Tuhan ?”

Keempat, debat terbuka dengan anggota PKI lainnya bernama Suradal Mahatmanto yang merasa tidak puas dengan hasil debat terbuka sebelumnya yang dilakukan A. Hassan dengan Muhammad Akhsan.

Tamar Djaja (murid A. Hassan) melaporkan – sebagaimana dikutip oleh Akh Minhaji dalam bukunya – bahwa debat tersebut tidak berakhir dengan lancar, karena Mahatmanto sangat emosional dan tidak mampu menyediakan argumentasi-argumentasi yang jelas untuk mempertahankan keyakinannya atau menyerang pandangan A. Hassan.

A. Hassan sendiri juga dikabarkan tidak puas dengan debat tersebut, karena menilai bahwa Beliau telah mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi tantangan dari seorang atheis, yang dalam pandangannya keyakinan seorang atheis sangat berbahaya bagi umat Islam di Indonesia.

Kelima, polemik Beliau dengan Husain al Habsji Surabaya tentang masalah bermadzhab. Bermula dari terbitnya buku A. Hassan berjudul “Risalah al Madzhab” dan “Halalkah Bermadzhab ?”, Husain al Habsji kemudian menerbitkan 2 buku berjudul “Risalah Lahirnya Madzhab yang Mengharamkan Madzhab-Madzhab” dan “Risalah Haramkan Orang Bermadzhab?” untuk membantah pendirian A. Hassan tersebut.

A. Hassan menyerang balik dengan menerbitkan bantahannya di Majalah Pembela Islam edisi 8 Januari 1957 dengan judul “Menjawab Buku Bantahan Tuan Haji Husain al Habsyi, Surabaya”.

Keenam, polemik Beliau dengan Teungku Hasbi ash Shiddieqy tentang mushafahah (jabat tangan antara pria dan wanita non mahram). Terjadi saling bantah antara keduanya, sampai kemudian A. Hassan menantang Hasbi berdebat secara terbuka, namun Hasbi tidak menyanggupinya. Tentang bantahan A. Hassan terhadap Hasbi ini dapat dijumpai dalam buku berjudul “Wanita Islam”.

Ketujuh, polemik Beliau dengan Soekarno tentang tema Islam dan kebangsaan. Tentang pandangan dan tanggapan A. Hassan dalam tema ini dapat dilihat dalam buku “Islam dan Kebangsaan”.

Kedelapan, polemik Beliau tentang kewajiban berjilbab dengan sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai “Aliran Baroe” . Tentang ini dapat dilihat dalam buku “Jilbab”.

Kesembilan, rencana debat terbuka dengan Majelis Syura Masyumi yang sebenarnya sudah direncanakan namun kemudian dibatalkan.

A. Hassan menolak pendapat Majelis Syura Masyumi yang membolehkan seorang perempuan pergi keluar rumah tanpa didampingi seorang mahram atau suaminya. Pendapat A. Hassan sendiri dalam masalah ini dapat dibaca pada buku “Wanita Islam”.

Kesepuluh, Tamar Djaja mencatat bahwa A. Hassan pernah berpartisipasi dalam debat dengan beberapa intelektual Belanda – Kristen, misalnya Dierhuis, Elsink, dan Shoemaker, tentang Islam dan ke-Kristenan. Beliau diberitakan sukses memberika jalan bagi Shoemaker untuk memeluk agama Islam dan kemudia menjadi teman dekatnya.

Tentang kristologi sendiri A. Hassan tercatat pernah membantah sebuah buku berjudul “Isa di Dalam Al Qur’an” yang ditulis oleh seorang propagandis Kristen bernama Rifai Boerhanoeddin. Tentang ini dapat dibaca pada karya Beliau berjudul “Bibel Lawan Bibel”.

Kesebelas, debat dengan Menteri Agama tentang penetapan miqat bagi jamaah Haji. Debat ini direncanakan oleh Persatuan Haji Indonesia. Menurut Tamar Djaja, debat akhirnya dibatalkan karena sulit sekali untuk mengubah miqat yang secara dormal telah ditentukan oleh Pemerintah Indonesia dan dijalankan sejak lama oleh umat Islam di Indonesia. Pandangan A. Hassan mengenai miqat sendiri dapat dibaca di “Risalatul Hajj”.

Kedua belas, polemik yang tajam antara A. Hassan dengan Buya HAMKA yang berlangsung hampir berbulan-bulan. Bahkan A. Hassan sampai menulis satu nomor khusus di Majalah Al Lisaan dengan judul “Pengajaran Bahasa Arab untuk Buya Hamka” dan membagikannya secara gratis kepada masyarakat.

Ke-13, polemik A. Hassan dengan Sulaiman Thayib tentang masalah riba. Dalam masalah ini A. Hassan mempunyai pendapat yang kontroversial, yakni memboleh riba fadhl dan riba nasi-ah dengan syarat-syarat tertentu.

Ke-14, polemik A. Hassan dengan Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), ayah dari HAMKA.

Bermula dari pendapat Haji Rasul yang melarang kaum perempuan untuk ikut shalat ‘ied berjamaah di tanah lapang pada saat Hari Raya.

Dalam polemik ini Haji Rasul menulis buku berjudul “al Mishbah” (1938). Pendapat Haji Rasul ini menimbulkan kontroversi.

Muncul bantahan-bantahan terhadapnya. Bantahan pertama muncul Hasbi ash Shiddieqy. Bantahan kedua muncul dari A. Hassan.

A. Hassan dan Haji Rasul sendiri sebenarnya tokoh yang memiliki banyak kesamaan : sama-sama jago berdebat, sama-sama gemar berpolemik, sama-sama tajam lisan dan tulisan, sama-sama teguh, berani, keras kepala, dan sama-sama “ngeyel”.

A. Hassan membantah pendapat Haji Rasul melalui tulisan-tulisan Beliau di Majalah Al Lisan yang dipimpin oleh Beliau sendiri.

Haji Rasul tidak mau kalah. Beliau menyerang balik A. Hassan melalui buku berjudul “al Ihsan” (1941) yang ditulisnya ketika Beliau berada di pengasingan di Sukabumi, Jawa Barat.

Menurut informasi yang kami terima, buku tersebut belum pernah diterbitkan. Juga tidak diketahui apakah ada respon balik dari A. Hassan atau tidak. Kami sendiri belum berkesempatan untuk mendokumentasikan polemik ini.

Dari keseluruhan debat dan polemik yang tercatat tersebut tak penah sekalipun A. Hassan mengaku kalah dari lawan-lawannya.

Setiap muncul bantahan dari lawannya, sesegera mungkin setelah Beliau mengetahuinya Beliau akan bantah balik dengan lebih keras lagi. Sikap keras dan alot Beliau dalam berdebat dan berpolemik ini tak jarang membuat segan lawannya, seperti terlihat dari sikap enggan Hasbi ash Shiddieqy dalam memenuhi tantangan debat dari A. Hassan.

Buya HAMKA sendiri dalam bukunya “Kenang-Kenangan Hidup” pernah mengeluhkan kerasnya sikap dan tajamnya lisan dari A. Hassan ini.

Dibalik kehebatan A. Hassan dalam berdebat, ada riwayat menarik yang menceritakan bahwa A. Hassan pernah kalah berdebat.

Riwayat tersebut tercatat dalam buku Api Sejarah karya sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara. Cerita tersebut ada dalam Api Sejarah jilid 1 halaman 492 (yang ada pada kami versi cetakan kelima April 2012).

Riwayat tersebut menceritakan debat yang terjadi antara A. Hassan dengan Mama Adjengan Gedong Pesantren Sukamiskin dan KH. Hidajat. Tema yang diambil tentang bid’ah. Diceritakan pula bahwa dalam debat tersebut ada persyaratan bahwa siapa saja pihak yang kalah dalam maka dia harus meninggalkan kota Bandung.

Diceritakan bahwa dalam debat tersebut A. Hassan menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak mengikuti petunjuk Rasulullah, menambah atau mengurangkan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah dhalalah, dan ini bersumber dari hadits shahih.

Mama Adjengan Sukamiskin dan KH. Hidajat kemudian bertanya kepada A. Hassan : “Apakah Rasulullah pernah mengajarkan dan menjelaskan adanya hadits shahih atau dha’if ?”

A Hassan menjawab : “Tidak pernah.”

A Hassan ditanya lagi : “Lalu siapa yang mengategorisasikan hadits menjadi shahih atau dha’if, dan lain-lainnya ?”

A Hassan menjawab : “Imam Bukhari dan Imam Muslim.”

Selanjutnya Mama Adjengan Sukamiskin menyatakan bahwa kalau demikian maka A. Hassan tidak mengikuti Rasulullah, tetapi mengikuti Imam Bukhari dan Imam Muslim. Apa itu bukan bid’ah ? Karena tadi A. Hassan mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak bersumber dari Rasulullah adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah dhalalah.

Singkat cerita, A. Hassan akhirnya kalah debat. Dan konsekuensinya, Beliau harus meninggalkan kota Bandung, dan kemudian berhijrah ke Bangil. Dengan kata lain, riwayat ini menjelaskan bahwa alasan kepindahan A. Hassan dari Bandung ke Bangil adalah karena kalah debat dengan Mama Adjengan Sukamiskin dan KH. Hidajat. (selesai nukilan dari Api Sejarah)

Ahmad Mansyur menerima riwayat ini secara lisan dari keluarga kedua orang ulama yang menjadi lawan debat A. Hassan tersebut.

Namun Ahmad Mansyur sendiri tampaknya agak ragu dengan cerita tersebut. Beliau menulis setelah menceritakan riwayat tersebut :

“Benarkah demikian ? Apakah kepindahannya disebabkan faktor politik yang lain ? Diperlukan penelitian ulang untuk mengetahui jawabannya.”

Riwayat yang disampaikan dalam Api Sejarah tersebut di atas kemudian dibantah oleh Tiar Anwar Bachtiar dalam buku “Persis dan Politik”.

Menurut Tiar Anwar, riwayat ini hanya bersumber pada satu sumber saja yang masih harus dikonfirmasi, dan tidak menyertakan sumber pembanding. Tiar Anwar mengkritik Ahmad Mansyur karena semestinya riwayat seperti ini tidak perlu dicantumkan, apalagi tanpa menyertakan sumber pembanding. Kalaupun dicantumkan, seharusnya disertai data pendamping atau cukup dijadikan catatan kaki sebagai bahan kajian lebih lanjut.

Riwayat ini sendiri sebenarnya bertentangan dengan riwayat yang disampaikan Syafiq A. Mughni dalam bukunya “Hassan Bandung : Pemikir Islam Radikal” (yang ada pada kami adalah versi cetakan tahun 1980). Dalam halaman 69 – 71 buku tersebut disebutkan bahwa alasan kepindahan A. Hassan dari Bandung ke Bangil adalah atas permintaan Bibi Wantee, seorang sahabat A. Hassan, yang melihat penghidupan A. Hassan di Bandung kurang menggembirakan dilihat dari sudut materi. Awalnya A. Hassan akan menetap di Surabaya, tetapi kemudian mendapatkan tanah di Bangil.

Syafiq A. Mughni sendiri menerima cerita tersebut di atas dari hasil wawancara dengan Abdul Qadir Hassan, salah seorang putera A. Hassan sendiri.

Tampaknya, riwayat yang disampaikan oleh Syafiq A. Mughni dari Abdul Qadir Hassan lebih kuat untuk diterima dengan beberapa pertimbangan.

Diantaranya adalah bahwa riwayat yang disebutkan oleh Syafiq A. Mughni jelas siapa sumber beritanya, dalam hal ini Abdul Qadir Hassan, seorang ulama Persis yang sangat masyhur yang mengikuti jejak ayahnya. Sedangkan riwayat yang disampaikan oleh Ahmad Mansyur tidak dijelaskan siapa sumber beritanya. Ahmad Mansyur hanya menyebutkan bahwa dia menerima riwayat secara lisan dari keluarga ulama yang menjadi lawan debat A. Hassan. Namun tidak dijelaskan, siapa keluarga yang dimaksud tersebut.

Riwayat yang disampaikan oleh Syafiq A. Mughni juga diperkuat oleh tokoh lainnya Zainal Abidin Ahmad dalam tulisannya yang berjudul “Mengenal A. Hassan” sebagaimana dinukil oleh Akh Minhaji dalam buku biografinya tentang A. Hassan. Dalam tulisan itu dijelaskan bahwa A. Hassan pindah ke Bangil karena menurut Beliau, Bandung sudah tidak kondusif lagi bagi kehidupan santri-santrinya, biaya hidup di Bandung saat itu terlalu mahal, dan juga berbagai tempat hiburan yang ada di Bandung akan mengganggu fokus belajar para santri.

Selain itu, diketahui bahwa kepindahan A. Hassan ke Bangil terjadi pada 1940, sebagaimana disebutkan dalam buku Syafiq A. Mughni dan Akh Minhaji (note : dalam biografi A. Hassan yang tertulis di halaman belakang buku Tarjamah Bulughul Maram dinyatakan bahwa kepindahan tersebut terjadi pada tahun 1941).

Dan setelah kepindahannya, A. Hassan masih hidup kurang lebih sekitar 18 tahun (wafat tahun 1958). Diketahui pula bahwa selama rentang 18 tahun tersebut, tidak tampak sedikitpun dalam diri A. Hassan perubahan sikap, terutama menyangkut masalah bid’ah, sebagaimana yang menjadi tema debat dimana A. Hassan konon mengalami kekalahan. Beliau tetap berpegang pada pendapatnya, mempublikasikannya, dan mempertahankannya dari serangan lawan-lawannya. Ini diketahui dari tulisan-tulisan, buku, dan fatwa-fatwa Beliau.

Sebagai contoh, dalam bukunya berjudul “Apa Dia Islam” yang dicetak dan dipublikasikan pada tahun 1951, atau sebelas tahun setelah kepindahan Beliau ke Bangil, Beliau masih tetap memperingatkan umat dari bahaya bid’ah. Beliau menjelaskan :

“Menurut keterangan dari hadits-hadits bahwa mengadakan bid’ah dalam urusan keduniaan yang memberi faidah bagi manusia, dipuji dan dijanjikan ganjaran yang tidak putus bagi pembuatnya selama bid’adnya itu memberi faidah.”

“Sebaliknya, ada hadits-hadits melarang dengan keras dan mengancam dengan siksa atas orang yang berbuat bid’ah dalam urusan ibadah dan yang menyerupai ibadah, karena, menurut Islam, yang berhak mengatur urusan ibadah dan cara-caranya hanyalah Allah dan Rasul-Nya, tidak lain.” (selesai nukilan)

Secara logika, seseorang yang pernah kalah dan mengakui kekalahan dalam suatu perdebatan mengenai suatu pendapat, tentu akan berpikir seribu kali ketika dia akan mengemukakan kembali pendapatnya itu ke khalayak ramai setelah dia kalah dalam debat, karena hal tersebut akan mudah dipatahkan kembali oleh lawan debat yang mengalahkannya tersebut.

Jika benar A. Hassan pernah kalah dalam suatu perdebatan tentang bid’ah dengan ajengan/kyai di Bandung, dan diketahui setelahnya A. Hassan masih gencar mempublikasikan tulisan, berfatwa, dan berdebat tentang bid’ah, maka sebenarnya ajengan/kyai yang berhasil mengalahkan A. Hassan dalam debat itu dapat dengan mudah membantah A. Hassan kembali, atau setidak-tidaknya mereka akan mengungkit-ungkit kembali cerita tentang kekalahan A. Hassan dalam debat ke masyarakat luas untuk menggiring opini bahwa A.Hassan bukanlah ulama yang kredibel dan berilmu dangkal, sehingga masyarakat akan menjauhi dan tidak mendengar fatwa-fatwa.

Namun, sebagaimana diketahui dalam sejarah, hal tersebut tidak pernah terjadi. Dalam rentang antara 1940 – 1958, tidak pernah diketahui ada yang mempublikasikan cerita tentang kekalahan debat A. Hassan, padahal saat itu cerita tersebut sangat ampuh menghentikan, atau setidaknya menghambat, dakwah A. Hassan. Cerita tersebut baru muncul di era 2000-an, puluhan tahun setelah A. Hassan wafat.

Jadi dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, maka riwayat A. Hassan kalah debat seharusnya ditolak.

A Hassan sendiri pada saat masih hidup pernah memperingatkan tentang adanya berita-berita bohong yang menyebut bahwa dirinya kalah dalam perdebatan. Keterangan ini sebagaimana pernah dipublikasikan dalam Majalah Pembela Islam edisi 8 Januari 1957.

Sebagai contoh berita yang tersebar di Jember dan Bondowoso yang menyebut bahwa A. Hassan tidak sanggup bermunazharah dengan Husain al Habsji lalu menyerah atau mengaku kalah. A. Hassan membantah berita tersebut dengan mengatakan :

“Dengan ini saya menjawab, bahwa Tuan Haji Husain al Habsji – sampai sekarang – belum mau berdebat dan belum mau menyerah, belum dapat juri, belum diizinkan oleh Tuan Natsir, Tuan Isa, Tuan Hamka dan lain anggota Konstituante, lantaran Tuan Haji Husain al Habsji pergi mencari perlindungan kepada mereka.” (selesai nukilan)

Juga ketika A. Hassan mendapat pertanyaan apakah benar Sayyid Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, guru Madrasah at Taraqqi, Malang, pernah datang ke Bangil dan berdebat dengan A. Hassan dan A. Hassan mengakui bahwa Sayyid Abdullah benar dalam beberapa masalah yang diperdebatkan.

A Hassan menjawab dengan tegas :

“Dengan ini saya menjawab, bahwa selama saya di Bangil, belum ada siapapun datang ke rumah saya berdebat, lalu saya terima kebenarannya. Saya bersedia menerima kebenaran dari siapapun.”

“Dari itu saya minta tuan Sayyid Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih – kalau benar ia sudah berdusta – supaya ia datang ke Bangil, dengan membawa beberapa temannya untuk menyaksikan.” (selesai nukilan)

Sebagai tambahan, ada satu riwayat menarik yang mungkin bagi sebagian kalangan bisa dianggap bahwa untuk kali ini A. Hassan benar-benar “kalah” dalam berargumen.

Riwayat ini diceritakan oleh Sejarawan Abubakar Aceh dalam bukunya yang bercerita tentang biografi KH. Wahid Hasyim, seorang mantan Menteri Agama yang merupakan putra dari KH. Hasyim Asy’ari dan ayah dari Gus Dur.

Abubakar Aceh, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Penerbitan Kementerian Agama saat Wahid Hasyim menjadi Menteri, menceritakan sebagai berikut :

“Pada suatu pagi tatkala menjadi Menteri Agama, ia (Wahid Hasyim) menerima surat dari Tuan A. Hasan. Tuan A. Hassan mengeluh dalam surat itu bahwa sekarang di Indonesia sudah tumbuh kembali dengan subur syirik modern berupa penyembahan patung-patung dan gambar-gambar pemimpin dengan kehormatan yang sangat diagung-agungkan dan didewa-dewakan.”

“Wahid Hasyim tersenyum. Ia memanggil seorang pegawainya dan mendiktekan sebuah surat, yang didalamnya antara lain terdapat kalimat : ‘Saya turut bersedih hati. Tetapi hal yang Tuan (A. Hassan) kemukakan itu tidak mengherankan saya, dalam dalam masa Nahdlatul Ulama dan Persatuan Islam takaran-takaran (berselisih paham) dalam masalah tashwir (gambar/foto), Tuanlah yang menghalalkan berpotret (berfoto). Sekarang dengan sendirinya kita melihat akibat-akibat dari istinbatul hukum itu.” (selesai nukilan)

A Hassan sendiri memang pernah memfatwakan membolehkan gambar dan patung yang tidak ditakuti akan disembah orang, sebagaimana tercantum dalam “Soal Jawab”.

Abubakar Aceh tidak menerangkan lebih lanjut apakah A. Hassan membalas surat dari Wahid Hasyim itu atau tidak. Begitupun, tidak diketahui apakah A. Hassan lantas mencabut fatwanya tentang tashwir atau tidak. Wallahu a’lam.

Selanjutnya, ada beberapa hal menarik tentang polemik-polemik dan debat-debat A. Hassan ini.

Pertama, beragamnya lawan polemik A. Hassan, bahkan mencakup hampir semua aliran.

Dari Kaum Tua (seperti K. H. Abdul Wahab Chasbullah dan Husain al Habsyi), Kaum Nasionalis (seperti Bung Karno), Kaum Atheis (seperti Akhsan dan Mahatmanto), Misionaris (Shoemaker, dkk), Kaum Liberal (seperti Majalah Aliran Baroe), Golongan sesat yang mengaku Islam (seperti Ahmadiyyah), hingga ke Pemerintah (Kementerian Agama).

Bahkan lebih dari itu, A. Hassan tidak segan-segan pula berpolemik dengan rekan-rekan sejawatnya yang sebenarnya masih sama-sama tergolong Kaum Muda, seperti polemik Beliau dengan Bapak-Anak (Haji Rasul dan HAMKA) dan Hasbi ash Shiddieqy.

Beragamnya lawan polemik A. Hassan tersebut menunjukkan kepada kita bagaimana keluasan wawasan dan ilmu Beliau serta penguasaan Beliau terhadap berbagai isu agama yang saat itu sedang hangat.

Kedua, bagi A. Hassan kebenaran lebih pantas untuk diutamakan ketimbang siapapun, meski itu guru, murid, ataupun kawan sendiri. Ini salah satunya terlihat ketika bagaimana Beliau tak segan-segan untuk mengkritik secara terbuka Partai Masyumi, padahal banyak tokoh Masyumi saat itu yang masih terhitung murid A. Hassan sendiri, seperti M. Natsir, Isa Anshary, dan lain-lain.

Siapapun yang pernah membaca Majalah Pembela Islam edisi tahun 1950-an dan Majalah Kritik, terasa sekali bagaimana A. Hassan tanpa tedeng aling-aling mengkritik perilaku tokoh-tokoh Masyumi yang dinilainya jauh dari aturan syariah.

Ketiga, bagi yang pernah membaca karya-karya polemik Beliau akan sangat terasa sekali bagaimana ketinggian adab Beliau dalam membantah. Beliau sangat berfokus pada argumentasi/hujjah lawan, bukan pada diri pribadi lawan tersebut.

Beliau akan menukil satu persatu argumen lawan tersebut secara utuh, menjelaskan wajh dalalah dan mengklarifikasinya, serta kemudian membantahnya satu per satu dari semua sisi, lengkap dengan dalil naqli dan 'aqli yang Beliau yakini lebih benar.

Keempat, Beliau tak ragu untuk ruju' kepada kebenaran jika nampak jelas di mata Beliau bahwa argumen Beliau keliru. Ini berulang kali Beliau sebutkan dalam karya-karya Beliau.

Salah satu contoh yang bisa disebutkan disini adalah ketika Beliau membahas tentang kelemahan hadits "tidak sah nikah melainkan dengan wali", yang dimuat dalam kitab Soal Jawab. Beliau akhiri pembahasan tersebut dengan kalimat yang sangat indah :

“Kalau ada keterangan kuat yang dapat merubah pendirian itu, saya tidak akan mundur untuk menerimanya."

Alangkah indahnya kalimat Beliau tersebut. Semoga Allah merahmati Beliau.

Dan inilah adab yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu : "dia tidak akan mundur untuk menerima kebenaran, meskipun bertentangan dengan pendiriannya semula."

Dan inilah yang diperjuangkan A. Hassan sepanjang hayatnya : larangan taqlid buta, dan seruan untuk berittiba' kepada dalil Al Qur'an dan as Sunnah. Semoga Allah merahmati Beliau.

Sebagai penutup, mari kita simak nukilan perkataan HAMKA tentang A. Hassan yang kami cuplik dari pidato yang disampaikan HAMKA saat menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar Mesir yang berjudul “Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia”. HAMKA menyampaikannya pada 21 Januari 1958, dan saat itu A. Hassan masih hidup.

HAMKA mengatakan :

“Yang masih hidup, Alhamdulillah, ialah Syekh Ahmad Hassan di Bangil. Beliau adalah yang paling muda dari mereka dan paling terakhir timbulnya dengan perserikatan Persatuan Islam-nya di tahun 1928. Adalah Beliau sebaik-baik khalaf daripada sebaik-baik salaf.”

“Beliau tetap melanjutkan jihad dan berdiam di Bangil, mengarang dan menerbitkan sendiri karangannya dan menyiarkannya kepada umum, lebih-lebih di kalangan pengikut Beliau yang setia. Tetapi sejak beberapa tahun yang akhir ini, Beliau ditimpa sakit pada kakinya, sehingga terpaksa sebelah kaki Beliau dipotong dan ditukar dengan kayu. Tetapi pertukaran kaki itu tidaklah mempengaruhi kegiatan Beliau menyiarkan Islam. Mengarang, menyiarkan pendapat dan memperteguh aqidah Islam, dan kalau perlu bertukar fikiran dan berdebat, berhadapan dengan lawan Beliau, sampai lawan itu tunduk mengaku salah atau kalah.”

“Laksana Syekh Jarullah az Zamakhsyari, pengarang Tafsir ‘Al Kasysyaf’, yang terkenal. Kuat hatinya, kuat hujjahnya dan pahit kritiknya, kalau perlu terhadap kawannya sendiri dengan jujurnya. Sehingga seperti Syekh Zamakhsyari itu, bila terdengar saja kaki kayunya dari jauh, orang sudah bertanya-tanya : ‘Beliau sudah datang ! Apakah pula masalah baru yang hendak Beliau perdebatkan ?”

“Semoga Tuhan melanjutkan usia Beliau untuk mempertahankan Islam dan menyerang beku dan jumud, memberantas taqlid !” (selesai nukilan)

Dan beberapa bulan selepas pidato HAMKA tersebut, A. Hassan wafat. Beliau wafat di Surabaya pada 10 November 1958 pada usia 70 tahun. Semoga Allah merahmati Beliau.


Referensi :

  • Hassan Bandung : Pemikir Islam Radikal, Syafiq A. Mughni, Bina Ilmu, 1980
  • Risalah Politik A. Hassan, A. Hassan, Pembela Islam Media, 2013
  • Jilbab, A. Hassan, Lajnah Penerbitan Pesantren Persis Bangil, 1984
  • Apa Dia Islam, A. Hassan, Al Ma’arif, 1951
  • Adakah Tuhan ?, A. Hassan, CV. Diponegoro, 1992
  • Bibel Lawan Bibel, A. Hassan, Lajnah Penerbitan Pesantren Persis Bangil, 1983
  • Tarjamah Bulughul Maram, A. Hassan, CV. Diponegoro, 1999
  • Soal – Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama, A. Hassan dkk, CV. Diponegoro, 2007
  • Kumpulan Risalah A. Hassan, A. Hassan, Pustaka Elbina, 2005
  • Majalah Pembela Islam, Persatuan Islam Bahagian Pustaka Bangil, Edisi 8 Januari 1957
  • Wanita Islam : Tentang Jilbab, Di Podium, Jabat Tangan, A. Hassan, Lajnah Penerbitan Pesantren Persis Bangil, 1989
  • Api Sejarah, Ahmad Mansyur Suryanegara, Salamadani, 2012
  • Persis dan Politik, Tiar Anwar Bachtiar & Pepen Irpan Fauzan, Pembela Islam Media, 2012
  • A Hassan Sang Ideologi Reformasi Fikih di Indonesia 1887 – 1958, Akh Minhaji, Pembela Islam Media, 2015
  • Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim, Aboebakar Atjeh, Pustaka Tebuireng, 2015
  • Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, HAMKA, Tintamas Jakarta, 1961
  • Studi tentang Karya Tulis Dr. H. Abdul Karim Amrullah, drs. Sanusi Latief, dkk
  • Sumber Artikel : http://jejakislam.net/gerak-dakwah-persis/

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru