Iklan Atas Zona Muslim

Penjelasan Singkat Seputar Harta Warisan
4/ 5 stars - "Penjelasan Singkat Seputar Harta Warisan" Diantara disiplin ilmu dalam islam yang penting dipelajari oleh kaum muslimi  adalah ilmu mawarits, yaitu ilmu yang khusus membahas tenta...

Penjelasan Singkat Seputar Harta Warisan

Admin
Pembagian warisan dalam islam

Diantara disiplin ilmu dalam islam yang penting dipelajari oleh kaum muslimi  adalah ilmu mawarits, yaitu ilmu yang khusus membahas tentang hukum waris secara lengkap. Dengan memahami waris dengan baik, maka akan menyelamatkan kita dari berlaku dzolim kepada orang lain. Namun dengan jerih payah ulama kini kita sudah mudah mempelajari tentang waritsan tanpa harus bersusah payah. Dan berikut ini penjelasan ulama tentang warits.

Definisi Ilmu Mawarits (warisan)

Ilmu mawarits adalah suatu ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah tertentu --berupa fiqih(pemahaman) dan hisab (perhitungan)-- yang berkaitan dengan harta warisan dan orang-orang yang berhak menerimanya agar setiap orang yang memiliki hak dari harta peninggalan benar-benar mendapatkan bagian yang menjadi haknya.[1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menamai mawarits dengan faraidh. Beliau bersabda,

أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Berikanlah bagian faraidh (warisan yang telah ditetapkan) kepada yang berhak, maka bagian yang tersisa adalah untuk ahli waris laki-laki yang paling dekat (nasabnya).”[2]

Baca juga: Panduan Lengkap Shalat Tahajud Praktis dan mudah Diamalkan

Faraidh adalah bentuk plural dari kata faridhah yang merupakan bentuk turunan dari kata dasar al-fardh yang berarti at-taqdir (menentukan kadar), seperti yang terdapat di dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ

“... maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu fardhu-kan itu.”[3]

Artinya, mahar yang telah kamu tentukan kadarnya itu.

Jadi, al-faraidh adalah bagian-bagian yang telah ditentukan kadarnya untuk setiap ahli waris. Harta yang diwariskan disebut juga dengan nama al-irts, al-mirats, dan at-tarikah.

Kedudukan dan Urgensinya

Ilmu mawarits termasuk di antara ilmu-ilmu yang memiliki kedudukan yang tinggi dan pengaruh yang besar. Untuk menunjukkan keagungannya, cukuplah dengan fakta bahwa Allah tabaraka wa ta‘ala telah menjelaskannya dengan rinci dan menentukan dengan jelas pembagiannya di dalam al-Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala sendiri yang menentukan dan membagi-bagi besar setiap bagiannya. Semua itu dalam rangka menegaskan pentingnya setiap ahli waris mendapatkan bagian yang telah ditentukan untuknya sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya. Hanya Allah Subhanahu wata’ala yang mengetahui apa saja yang membawa maslahat bagi hamba-hamba-Nya dan apa saja yang menyebabkan mafsadat kepada mereka. Dia Maha Mengetahui siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan harta itu. Dia Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu nyatakan atau rahasiakan), padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”[4]

Baca juga : Macam-macam Shalat Sunnah Rawatib, Qabliyah-Ba'diyah

Dengan begitu, perselisihan dan pertengkaran dalam masalah ini bisa dicegah terjadinya karena yang menentukan dan menjelaskan dengan rinci bagian-bagian warisan adalah Allah Subhanahu wata’ala sendiri, yang tiada seorang pun yang bisa mengubah hukum-Nya dan tiada seorang pun yang bisa menolak keputusan dan perintah-Nya.

Dari sini terlihat betapa pentingnya mempelajari ilmu yang mulia ini. Telah diriwayatkan sejumlah riwayat yang menjelaskan keutamaan dan urgensi ilmu ini. Hanya saja riwayat-riwayat tersebut tidak cukup kuat untuk dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apa yang telah dipaparkan di atas sebenarnya sudah cukup mewakili sehingga tidak lagi memerlukan riwayat-riwayat tersebut. Namun, tidak ada salahnya saya sebutkan sebagian di antaranya di sini dengan tetap memberikan peringatan tentang kelemahannya.

1. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru secara marfu‘:

الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ: آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ

“Ilmu itu ada tiga dan yang selain itu adalah tambahan, yaitu; ayat muhkamah (ayat hukum), atau sunnah yang shahih, atau faraidh (pembagian warisan) yang adil.”[1]

2. Diriwayatkan secara marfu‘:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ، وَعَلِّمُوهُ، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ، وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي

“Wahai Abu Hurairah, belajarlah ilmu faraidh dan ajarkanlah karena sesungguhnya ia adalah setengah ilmu. Ilmu ini akan dilupakan dan menjadi yang pertama kali dicabut dari umatku.”[2]

3. Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud radhiallahu ‘anhu secara marfu‘:

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ، وَتَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا النَّاسَ، فَإِنِّي امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ، وَسَيُقْبَضُ هَذَا الْعِلْمُ مِنْ بَعْدِي حَتَّى يَتَنَازَعَ الرَّجُلاَنِ فِي فَرِيضَةٍ، فَلَا يَجِدَانِ مَنْ يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا

“Pelajarilah al-Qur’an dan ajarkanlah kepada manusia. Pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah kepada manusia karena aku seorang yang akan dipanggil (wafat). Ilmu ini senantiasa akan berkurang hingga ada dua orang yang akan bertengkar karena masalah pembagian harta warisan, sedang keduanya tidak mendapatkan orang yang dapat memutuskan antara keduanya.”[3]

Hadits-hadits ini dan selainnya, meskipun lemah, tetapi dengan jalan-jalan periwayatannya yang banyak, menimbulkan kesan bahwa mereka memiliki dasar yang kuat.

Hak-Hak Yang Berkait Dengan Harta Peninggalan

Jika seseorang wafat dengan meninggalkan sejumlah harta, maka harta peninggalan (at-tarikah) tersebut berkait dengan lima jenis hak, yang sebagiannya didahulukan daripada sebagian yang lain. Jika jumlah harta peninggalan hanya sedikit, maka hak-hak tersebut ditunaikan sesuai dengan urutan berikut.

1. Biaya pengurusan jenazah[1], berupa biaya memandikan, mengafani, menguburkan, dan semisalnya, dengan menghindari pemborosan dan pengiritan yang berlebihan. Biaya ini didahulukan pembayarannya daripada utang dan selainnya karena kedudukan biaya ini seperti kedudukan dana pembelian pakaian bagi orang yang masih hidup, maka tidak boleh diabaikan hanya untuk membayar utang.

2. Utang yang berkait dengan barang yang termasuk di antara harta peninggalan, seperti utang dengan jaminan berupa barang dari harta peninggalan, dan yang semisal dengan itu.

3. Utang yang termasuk dalam tanggung jawab si mayit, yaitu yang tidak berkait dengan jaminan berupa barang di antara barang-barang peninggalannya, baik itu yang merupakan hak Allah Subhanahu wata’ala seperti zakat, kafarat, atau puasa, maupun yang merupakan hak sesama manusia seperti pinjaman, uang sewa, dan sebagainya.

4. Melaksanakan wasiat selama tidak melebihi sepertiga dari sisa harta peninggalan (setelah dikurangi biaya dan utang-utang di atas) karena biaya pengurusan jenazah dan utang-utang tersebut harus dibayarkan karena termasuk di antara kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Adapun sisa dari harta peninggalan, maka itulah harta yang boleh dikeluarkan sepertiga untuk wasiatnya.

Para ahli fiqih sepakat bahwa pembayaran utang lebih didahulukan daripada wasiat berdasarkan hadits Ali radhiallahu ‘anhu. Dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan bahwa utang dibayarkan sebelum pelaksanaan wasiat.”[2]

Di samping itu, wasiat merupakan salah satu bentuk tabarru‘ (sedekah), sehingga ketika harta peninggalan sedikit, maka tidak ada keraguan bahwa utang harus lebih didahulukan daripada wasiat, karena membayar utang adalah kewajiban, dan kewajiban lebih utama daripada sedekah.

Betul bahwa wasiat disebutkan lebih dahulu daripada utang di dalam ayat:

مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ

“(Pembagian-pembagian tersebut) sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya.”[3]

Akan tetapi, itu karena wasiat menyerupai harta warisan dalam hal diambil tanpa diganti, sehingga ahli waris merasa berat untuk menunaikannya. Karena itu, ada kemungkinan wasiat diabaikan oleh ahli waris. Berbeda halnya dengan utang di mana orang lebih rela untuk membayarnya. Karena itu, Allah Subhanahu wata’ala mendahulukan penyebutannya dalam ayat ini sebagai anjuran untuk menunaikannya, dan sebagai penegasan bahwa seperti halnya utang, wasiat pun wajib ditunaikan secepatnya.[1]

Baca juga : Inilah 13 Manfaat dan Keutamaan Shalat Berjamaah Yang Luar Biasa

5. Membagi seluruh harta peninggalan yang tersisa setelah dikurangi hal-hal di atas kepada para ahli waris yang berhak menerima sesuai dengan bagian-bagian yang telah ditentukan kadarnya di dalam Kitabullah. Inilah yang akan menjadi pembahasan kita dalam bab ini.

Saat membahas masalah-masalah mawarits, akan selalu dijumpai masalah percabangan dan penumpukan, serta kesulitan dalam menarik kesimpulan --bagi para pemula--. Di samping itu, dibutuhkan kadar pengetahuan yang lumayan tentang ilmu hitung. Maka dengan menimbang semua itu, penulis akan menempuh metode meringkas dan menyederhanakan dalam membahasnya. Penulis tidak akan berpanjang lebar menyebutkan cabang-cabangnya, tetapi “mencukupkan diri pada kalung yang melingkari leher”[2] dan berusaha memasukkan informasi ke dalam tabel-tabel untuk menjelaskan bagian-bagian para mustahik dalam berbagai kondisi, disertai pemaparan kaidah-kaidah penting yang melandasi pembagian harta peninggalan kepada para ahli waris, dan memberikan contoh-contoh kasus untuk beberapa masalah demi membantu memahaminya.

Rukun-Rukun Pewarisan

Telah disebutkan di atas bahwa kata al-irts terkadang berarti harta yang diwariskan dan terkadang berarti hak untuk menerima harta warisan dan pemindahannya kepada orang yang berhak menerima. Dengan dasar itu, rukun pewarisan ada tiga. Jika ketiganya terpenuhi, maka pewarisan terlaksana. Namun, jika satu saja tidak terpenuhi, maka tidak ada pewarisan.

1. Al-Muwarrits (pewaris), yaitu orang yang meninggal atau yang dianggap meninggal, misalnya: orang yang hilang.

2. Al-Warits (ahli waris), yaitu keluarga mendiang yang masih hidup, atau yang dianggap hidup, misalnya: janin.

3. Al-Mauruts atau at-Tarikah (harta yang diwariskan atau harta peninggalan), yaitu apa saja yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal, baik berupa harta maupun selainnya.

Syarat-Syarat Pewarisan[3]

Agar pewarisan terlaksana, disyaratkan tiga hal yang berkait dengan pewaris dan ahli waris. Ketiga syarat itu adalah sebagai berikut.

1. Pewaris Dipastikan Telah Meninggal Secara Hakiki, atau dianggap telah meninggal secara hukum, sebagaimana terjadi pada kasus orang hilang yang telah diputuskan meninggal oleh hakim, atau diperkirakan meningggal sebagaimana yang terjadi pada janin yang gugur karena suatu tindak kejahatan yang menimpa ibunya di mana pelakunya harus membayar diyat berupa ghurrah[1].

Baca juga : Panduan Lengkap Shalat Idul Adha dan Idul Fitri

2. Ahli Waris Dipastikan Masih Hidup Setelah Kematian Pewaris, atau dianggap masih hidup, seperti pada kasus janin yang keluar dari kandungan (karena keguguran) dalam keadaan masih hidup pada waktu pewaris meninggal.

3. Hubungan Yang Menyebabkan Pewarisan (antara mendiang pewaris dan ahli warisnya) diketahui dengan pasti, baik hubungan pernikahan, kekerabatan, maupun wala’. Begitu pula, diketahui dengan pasti sisi kekerabatan keduanya, apakah sebagai anak, ayah, ibu, saudara, ataukah paman, dan diketahuinya tingkat kekerabatan yang mempertemukan mendiang dan ahli waris.

Demikian tulisan tentang hukum harta waris dalam islam. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita.


Footnote:
[1] Redaksi definisi ini disarikan dari kumpulan definisi yang telah disebutkan oleh ulama. Lihat: Ibnu ‘Abidin (V/499), ad-Dasuki (IV/456), Nihayah al-Muhtaj (VI/2), dan al-‘Adzb al-Faidh (I/62)
[2] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (6735) dan Muslim (1615) dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.
[3] Surat al-Baqarah:237.
[4] Surat al-Mulk:14.
[5] Dha‘if. Hadits Riwayat: Abu Dawud (2885), Ibnu Majah (54), dan selain keduanya dengan sanad yang dha‘if.
[6] Dha‘if. Hadits Riwayat: Ibnu Majah (2719), ad-Daruquthni (IV/67), dan al-Hakim (IV/332), al-Baihaqi (VI/209). Lihat: al-Irwa’ (VI/104).
[7] Dha‘if. Hadits Riwayat: at-Tirmidzi (2091), al-Hakim (IV/333), dan al-Baihaqi (VI/208). Lihat: al-Irwa’ (1664).
[8] Urutan ini adalah versi Hanabilah dan salah satu pendapat di kalangan Hanafiyah. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa urutannya dimulai dengan membayar utang-utang.
[9] Al-Albani menilainya hasan. Hadits Riwayat: at-Tirmidzi (2094), Ibnu Majah (2715), dan Ahmad (I/79). Lihat: al-Irwa’ (1667).
[10] Surat an-Nisa’:11.
[11] Syarh as-Sirajiyah halaman 4-5.
[12] Peribahasa arab yang berarti mencukupkan diri dengan yang sedikit atau pointnya saja. -Penj.
[13] Hasyiyah Ibnu ‘Abidin (V/483) dan al-‘Adzb al-Faidh (I/17-18) cetakan al-Halabi.
[14] Ghurrah adalah budak laki-laki atau perempuan yang dihargai dengan 5 ekor unta. Diyat ini akan diambil oleh ahli waris janin.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru