Iklan Atas Zona Muslim

Macam-Macam Bacaan Adzan Berdasarkan Hadits Nabi
4/ 5 stars - "Macam-Macam Bacaan Adzan Berdasarkan Hadits Nabi" Seluruh lafadz adzan datangnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun perlu diketahui bahwa lafadz adzan memiliki tiga m...

Macam-Macam Bacaan Adzan Berdasarkan Hadits Nabi

Admin
Macam macam bacaan adzan

Seluruh lafadz adzan datangnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun perlu diketahui bahwa lafadz adzan memiliki tiga macam cara yang berbeda. Inilah tiga macam bacaan adzan yang dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, :

Lafadz Pertama : 

Terdiri dari 15 kalimat (4 kali takbir, lafadz yang lain dikumandangkan 2 kali selain kalimat tauhid yang akhir, karena kalimat tersebut dibaca sekali). Tata cara ini telah ditetapkan dalam hadist ‘Abdullah bin Zaid radhiallahu 'anhu, beliau berkata:

لَمَّا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاقُوسِ يُعْمَلُ لِيُضْرَبَ بِهِ لِلنَّاسِ لِجَمْعِ الصَّلَاةِ طَافَ بِي وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فِي يَدِهِ فَقُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتَبِيعُ النَّاقُوسَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ فَقُلْتُ نَدْعُو بِهِ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ فَقُلْتُ لَهُ بَلَى قَالَ فَقَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ ثُمَّ اسْتَأْخَرَ عَنِّي غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ قَالَ وَتَقُولُ إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا رَأَيْتُ فَقَالَ إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَقُمْ مَعَبِلَالٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ فَقُمْتُ مَعَ بِلَالٍ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهِ عَلَيْهِ وَيُؤَذِّنُ بِهِ قَالَ فَسَمِعَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ وَيَقُولُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ مَا رَأَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“Ketika Rasulallah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk menggunakan lonceng sebagai tanda bagi orang-orang untuk berkumpul guna mengerjakan shalat berjama’ah, aku bermimpi ada seseorang mengelilingiku dengan membawa lonceng ditangannya. Aku berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, apakah kamu menjual lonceng?”

Baca juga : Syarat-syarat Adzan dan Muadzin

“Apa yang hendak kau perbuat dengan lonceng ini?”, tanya seseorang dalam mimpiku. “kami ingin memanggil orang-orang berkumpul untuk shalat dengan membunyikan lonceng.” Jawabku. “Maukah aku tunjukkan kepadamu apa yang lebih baik dari itu?” tanya seseorang dalam mimpiku. Aku berkata, “Tentu aku mau”. Orang itu berkata : “Ucapkanlah :

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ - اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ - اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ - اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ - حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ - حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

Kemudian ia mundur dariku ke tempat yang tidak jauh, setelah itu dia berkata, “Jika engkau iqamah untuk shalat, maka ucapkanlah :

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

قد قامت الصلاة قد قامت الصلاة

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

Pagi harinya aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengabarkan mimpiku. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, insya Allah. Berdirilah bersama Bilal, sampaikanlah kepadanya apa yang kamu dapatkan dalam mimpimu agar ia mengumandangkan adzan tersebut. Karena dia lebih lantang suaranya darimu”.

Baca juga : 7 Sunnah-sunnah Adzan Yang Harus Diperhatikan

Aku bangkit bersama Bilal, mulailah ku sampaikan kepadanya adzan yang ku dengar ia pun mengumandangkannya. ‘Umar bin Khattab mendengar adzan tersebut dari rumahnya, ia pun keluar dengan menyeret rida’ (selendangnya), seraya berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, wahai rasulallah! Sungguh aku telah bermimpi persis seperti apa yang dimimpikan Abdullah bin Zaid”. Mendengar hal itu Rasulullah berucap : “Hanya milik Allah-lah segala pujian.” [1]

Cara ini dipegang oleh Abu Hanifah dan pendapat yang masyhur dari Ahmad[2].

Lafadz Kedua:

Lafadz adzan yang kedua terdiri 19 kalimat (seperti adzan pertama namun ditambah tarji' pada dua kalimat syahadat).

Apa itu Tarji'? Tarji' adalah: dengan suara pelan dalam menyebut dua kalimat syahadat –dalam batas terdengar oleh hadirin– kemudian mengulangi lagi dua kalimat syahadat itu namun dengan suara yang tinggi. Cara seperti ini telah ditetapkan dalam hadits Abu Mahdzurah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkannya adzan

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ , اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ

اَشْهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلاَّ الله , اَشْهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلاَّ الله

اَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله , اَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

Kemudian beliau bersabda: “ulangilah kembali dan ucapkan dengan suara keras:

أشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ إلاَّ الله ، أشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ إلاَّ الله

أشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ ، لاَ إلَهَ إلاَّ الله

Juga diriwayatkan dari Abu Mahdzurah dalam hadits lain:

أَنَّ النَّبِى –صلى اللهُ عليهِ وَ سلَّم– عَلَّمَهُ الأذَانَ تِسْعَ عَشْرَةَ كَِلمَة وَ الإقاَمَةَ سَبْعَ عَشرَة كَلِمَة

“Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Mengajarinya cara adzan dengan 19 kalimat, dan mengajarinya iqamah dengan 17 kalimat”.[3]

Adzan dengan cara sepeti inilah yang dipakai oleh Imam Syafi'i.[1]

Lafadz Ketiga: 

Lafadz adzan yang ketiga terdiri dari 17 kalimat (sama dengan sebelumnya, namun dengan pengucapan takbir yang hanya dua kali dan bukan empat kali).

Riwayat yang lain dari hadits Abu Mahdzurah, Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajarinya adzan seperti ini:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Kemudian mengulangi kembali

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الفَلاَحِ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ .

Akan tetapi dalam riwayat ini terdapat kesalahan (illat) dan tidak dapat menjadi hadits Shahih. Sedangkan riwayat yang shahih adalah hadits yang menyatakan Adzan dengan 4 kali takbir (Allahu Akbar).

Adzan dengan cara seperti inilah yang dipakai oleh Imam Malik dan dua murid Abu Hanifah (Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan)[3]

Baca juga : Kesalahan dan Kekeliruan dalam Adzan yang Sering Dilakukan

Dan sebagian ulama telah menguatkan pendapat cara adzan dengan disertai 4 kali takbir (cara kedua) sebagaimana dalam hadits Abu Mahdzurah. Karena tambahan redaksinya dapat diterima, tidak bertentangan, dan sepadan dengan riwayat yang menyatakan (bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya cara adzan dengan 19 kalimat)[2]

Kemudian mereka menguatkan pendapat di atas dari tata-cara adzan pertama (yang tanpatarji') bahwa hadits Ibnu Mahdzurah diriwayatkan tahun kedelapan Hijriyah setelah perang Hunain sedangkan hadits Ibnu Zaid jauh sebelum itu. Dan juga, karena tata-cara adzan yang diamalkan oleh penduduk Makkah dan Madinah adalah adzan dengan tarji'.[1]

Namun ulama yang lain ada juga yang berpendapat bahwa seluruh tata-cara adzan di atas boleh dan dibenarkan untuk memilih cara yang mana saja. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Ahmad –walaupun memilih cara pertama–, juga pendapat Ishaq dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[2] Dan bisa jadi pendapat ini lebih kuat dari pendapat yang menyatakan tarjih (menguatkan satu pendapat di antara pendapat lainnya). Karena terdapat suatu kaidah yang menyatakan bahwa,

العِبَادَاتُ الوَارِدَة ُعَلىَ وُجُوْهٍ مُتَنَوِّعَةٍ فَالأوْلىَ فِعْلُهَا عَلىَ هَذِهِ الوُجُوْه

“Ibadah yang muncul dengan beragam cara, lebih utama jika dikerjakan dengan seluruh cara tersebut” Wallahu a'lam.

Al-Tatswib Dalam Adzan Shalat Subuh

Al-Tastwib adalah ucapan muadzin "As-Shalatu Khairun Minan-Naum" dua kali setelah al-Haya 'alatain[3] dalam adzan shalat Subuh. Tatswib merupakan sunnah menurut pendapat mayoritas ulama (Jumhur)[4] dengan landasan hadits riwayat Abu Mahdzurah yang telah dibahas sebelumnya. Dalam hadits disebutkan, “Apabila dalam shalat Subuh, maka engkau ucapkanlah:

الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ - الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

اللَّهُ أَكْبَرُ- اللَّهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

"As-Shalatu Khairun Minan-Naum, As-Shalatu Khairun Minan-Naum, Allahu Akbar Allahu Akbar, La Ilaha Illallah.".

Pada redaksi yang lain, “Pada adzan pertama shalat subuh.” [5]

Ucapan tatswib dalam adzan shalat Subuh ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Bilal, Sa'ad al-Qaradz, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Nu'aim an-Nahham, Aisyah dan Abu Mahdzurah radhiallahu 'anhum. Mengenai sanad-sanadnya terdapat banyak pendapat, namun sanad yang lebih utama adalah tiga sanad terakhir. Walaupun seluruh sanad di atas jika ditinjau secara global, dapat menghasilkan sebuah ketetapan hukum Tatswib dalam adzan shalat Subuh.

Al-Tatswib Hanya Pada Adzan Pertama, Bukan Yang Kedua

Hadits-hadits tentang Tatswib yang dipaparkan di atas, di antaranya tidak menyebutkan tentang kapan dilakukannya, apakah pada adzan pertama atau kedua. Namun di antara hadits itu juga ada yang menyebutkan bahwa Tatswib dilakukan pada adzan pertama saja. Dan tidak ada satu pun hadits yang menyatakan bahwa Tatswib dilakukan pada adzan kedua.

Dari hadits-hadits tersebut dapat diambil hukum syar'i, bahwa Tatswib hanya dilakukan ketika adzan pertama saja, karena Tatswib dimaksudkan untuk membangunkan orang-orang yang sedang tidur –sebagaimana dijelaskan sebelumnya,– sedangkan adzan kedua dimaksudkan untuk memberi tahu bahwa waktu shalat telah masuk serta ajakan untuk melaksanakan shalat itu sendiri.

Baca juga : Hukum Iqamah Dan Tata cara Melakukannya

Sebagaimana diketahui juga, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memiliki dua muadzin untuk shalat Subuh, pertama adalah Bilal –yang juga terdapat riwayat Tatswibdarinya– dan kedua adalah Ibnu Ummi Maktum. Bilal dalam adzan subuhnya menggunakanTatswib saat adzan pertama, sedangkan Ibnu Ummi Maktum tidak didapati ia menggunakanTatswib dalam adzan Subuhnya, Wallahu a'lam.[1]

Catatan Tambahan:

Sebagian ulama dari madzhab Hanafi dan Syafi'i membolehkan Tatswib dalam adzan Isya. Mereka berpendapat bahwa waktu Isya adalah saat yang biasanya orang-orang sedang tidur dan lalai seperti saat Shubuh. Bahkan sebagian ulama madzhab Syafi'i menyatakan bahwaTatswib dibolehkan waktu shalat kapan saja. Ini adalah bid'ah yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang telah ditentang oleh Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu ketika Umar masuk ke dalam masjid untuk shalat, lalu mendengar seorang muadzin melakukan Tatswib dalam shalat Zhuhur, ia pun keluar dari masjid lalu ditanya seseorang,

أيْنَ؟ فَقَالَ : أخْرَجَتْنِى البِدْعَةُ

"Mau kemana engkau?" Umar pun menjawab, "Aku telah dikeluarkan dari masjid oleh perbuatan bid'ah ini".[13]

Baca juga artikel ini : Panduan Lengkap Shalat Tahajud Sesuai Sunnah

Demikian artikel tentang Macam-Macam Bacaan Adzan Berdasarkan As-sunnah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita. Jangan lupa share artikel ini kepada teman anda. Semoga menjadi nilai ibadah. Aamiin


Footnote:
[1]  Hadits Riwayat: Abu Daud (499), At-Tirmidzi (189), Ibnu Majah (706), lihat (Al-Irwa’) (2/264).Hasan
[2]  Al-Badai’ (1/147), Al-Mughni (1/404), Al-Ausath (1/16).
[3] Hadits Riwayat: Abu Daud (500-503), At-Tirmidzi (192), An-Nasa`i (2/4), Ibnu Majah (709). Hadits hasan.
[4] Al-Umm (1/85)
[5] Letak 'illah-nya terdapat pada lafadz ini. Dikeluarkan oleh Imam Muslim (379) dan selainnya.
[6] Al-Mudawwanah (1/57), al-Badi' (1/147)
[7] Al-Muhalla (3/203-206), al-Ausath (3/16), Nailul Authar (2/45), Zadul Ma'ad (2-389)
[8] Masail Ahmad karangan Abu Daud (27), al-Mughni (1/404), Majmu' al-Fatawa (22/336-337), al-Mumti' (2/51)
[9] Lafadz "Hayya 'Alas-Shalah" dan "Hayya 'Alal Falah"
[10] Mawahibul Jalil (1/134), al-Majmu' (3/92), al-Mughni (1/407), Subulus Salam (1/25)
[11] Hadits Hasan dari jalur-jalur periwayatannya, dikeluarkan oleh Abu Daud (501), An-Nasa`i (2/7-8), Ahmad (3/408). Dishahihkan esensinya oleh al-Albani dalam takhrij al-Misykat (645), walaupun dinilai sebagai hadits hasan jika ditinjau dari seluruh jalur periwayatannya. Wallahu a'lam.
[12] Tuhfatul Habib bi hukmil Adzanain Lil Fajri Wat-Tatswib" oleh syaikh Majdi bin Irfan
[13] Hadits Riwayat: Abu Daud (538), al-Baihaqi (1/424), al-Irwa (236). Dihasankan oleh al-Albani.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru