Iklan Atas Zona Muslim

Membantah Pernyataan Cak Nun "Malam Lailatul Qadar Sudah Tidak Ada"
4/ 5 stars - "Membantah Pernyataan Cak Nun "Malam Lailatul Qadar Sudah Tidak Ada"" Berikut ini adalah bantahan untuk Emha Ainun Najib atau akrab dipanggil cak nun, Hadahullah, seorang MASTER FILSAFAT, AHLUL KALAM Pimpinan D...

Membantah Pernyataan Cak Nun "Malam Lailatul Qadar Sudah Tidak Ada"

Admin




Berikut ini adalah bantahan untuk Emha Ainun Najib atau akrab dipanggil cak nun, Hadahullah, seorang MASTER FILSAFAT, AHLUL KALAM Pimpinan Da'i Islam Nusantara, dan Liberal.

Pernyataan Cak Nun Di bantah Oleh Ustadz Firanda Andirja Hafizhahullah

Bismillah,

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد؛

Di antara bahaya nya da'i penyesat umat adalah, mereka menciptakan sebuah pemahaman2 baru yang sangat bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah, bahkan perkara yang Utama dalam Islam sekalipun, yakni mengenai keyakinan yang menolak dan menafikan keyakinan umat Islam akan turunnya Malam Lailatul Qadar di 10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan...yang mana kebenaran dari adanya malam ini termaktub di dalam Al Qur'an dan As Sunnah...

Beginilah yang dilakukan seorang budayawan yang di "Ustadz kan" oleh kaum Islam NUsantara JUAL JIN, Caknun namanya, ia berkata di dalam ceramahnya ia berkata :

"27 ribu kilometer, dari atas bumi, ya toh..

Berkumpul lah, 1247 malaikat yang akan melakukan pertemuan untuk menentukan, siapa di antara penduduk bumi yang akan mendapatkan malam Lailatul Qadr"

Kemudian ia melanjutkan : "ini coba, 14 abad Islam hidup itu orang masih menunggu Lailatul Qadr, padahal ini gara-gara tidak kenal SASTRA ! Padahal tidak ada berita bahwa ada Malam Lailatul Qadr yang turun ke dunia ini, yang ada adalah Al Qur'an di turunkan pada malam Lailatul Qadr, jadi tidak ada Lailatul Qadr nya turun"

~~~~~~~

Inilah salah satu bentuk kefatalan dari keyakinan Cak Nun, yakni dia meyakini bahwasannya tidak ada berita bahwa ada Malam Lailatul Qadr yang turun di dunia ini, yang ada adalah Al Qur'an di turunkan pada malam Lailatul Qadr, jadi tidak ada Lailatul Qadr nya turun"

Dia memahami Ayat Al Qur'an dengan akal-akalannya alias ilmu Filsafat, ilmu Kalam, terbukti dari ucapannya yang mengatakan "ini gara-gara tidak kenal SASTRA" namun benarkah keyakinan semacam ini ? Mari kita preteli syubhat Ahlul Kalam ini satu persatu

~~~~~~~~

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Orang yang meyakini adanya malam Lailatul Qadr pada 10 terakhir Ramadhan, pada malam ini beliau meningkatkan amaliah ibadah beliau yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya.

Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من رمضان – شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله . متفق عليه

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” [ Muttafaqun ‘alaihi ]

~~~~~~~

Kemudian diperkuat lagi dengan sabda Rasulullah yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan)”. (H.R Al Bukhari no. 1878)

~~~~~

Bagaimana mungkin Cak Nun berkeyakinan bahwasannya Malam Lailatul Qadr itu tidak ada, dan dia menafsirkan bahwasannya Malam itu hanya turun sekali yakni pada saat Al Qur'an diturunkan pada Malam itu, sementara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya agar mencari keutamaan Malam Lailatul Qadr pada 10 malam terakhir yang ganjil di bulan Ramadhan ? Ini menunjukkan bahwasannya Malam Lailatul Qadr ada di setiap Zaman, bahkan hingga menjelang hari Kiamat, Wallahu a'lam...

~~~~~~~

Kemudian dia berceloteh lagi dengan membawakan dan mencomot dalil dari Al Qur'an, dan meyakinkan kepada Muqollidnya / para audiens bahwasannya malam Lailatul Qadr itu tidak ada :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Dan seterusnya, jadi yang TURUN itu Al Qur'an nya, dan sudah TURUN, enteni iku opo ? Yang kamu TUNGGU itu apa ?? Jadi Ndak ada MALAM Lailatul Qadr itu Turun, Ndak ada ! Yang Turun itu Al Qur'an, karena kalimatnya : Sesungguhnya Kami telah mendatangkannya, nya itu Al Qur'an, Fii di Lailatul Qadr, nah kalau kita pakai LOGIKA SASTRA sederhana ! Kapan saja engkau Memetik Puisi Al Quran masuk ke dalam Hatimu, dan membuatmu takjub kepada kehidupan, maka kamu berada di Lailatul Qadr itu !"

-Selesai Penukilan-

~~~~~~~

Lihatlah sekali lagi, jika orang awam yang mendengarkannya, maka sepintas kata2nya ini nampak indah dan diyakini kebenarannya, namun dibalik itu semua, ada banyak Talbis (pengkaburan ) dan syubhat di dalamnya, yang dapat menyebabkan seseorang teracuni akan aqidah sesat dari Cak Nun ini yang mana ia menggunakan LOGIKA SASTRA untuk memahami Al Qur'an, Wal Iyya Dzu Billah, dia tidak kembali dan merujuk kepada Penafsiran para Salafhus Shaleh, yakni Para Sahabat dan Tabi'in, juga para Ahli Tafsir Al Qur'an yang mana mereka lebih memahami akan Tafsir dari Ayat yang ia kutip tersebut, maka marilah kita simak apakah perkataannya ini benar atau justru ngawur ??

~~~~~

Allah Berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ *

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu? Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadr) lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr: 1-5)

📜 Tafsir Ayat ini :

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma dan lain-lainnya mengatakan bahwa Allah Subhanahu Wa ta'ala. menurunkan Al-Qur'an sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul 'Izzah di langit yang terdekat. Kemudian diturunkan secara terpisah-pisah sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam.

Ali ibnu Urwah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. merasa kagum dengan amalan mereka. Maka datanglah Jibril kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan berkata,

"Hai Muhammad, umatmu merasa kagum dengan ibadah mereka selama delapan puluh tahun itu tanpa berbuat durhaka barang sekejap mata pun. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. telah menurunkan hal yang lebih baik daripada itu."

Kemudian Malaikat Jibril 'alaihissalam membacakan kepadanya firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 1 -3)

Ini lebih baik daripada apa yang engkau dan umatmu kagumi. Maka bergembiralah karenanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersamanya saat itu.

Sufyan Ats-Sauri mengatakan bahwa telah sampai kepadaku dari Mujahid sehubungan dengan malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan. Bahwa amalan, puasa, dan Qiyamnya lebih baik daripada melakukan hal yang sama dalam seribu bulan. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan bahwa malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan yang di dalam bulan-bulannya tidak terdapat malam Lailatul Qadar.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah ibnu Di'amah dan Imam Syafi'i rahimahumallah serta yang lainnya yang bukan hanya seorang. Amr ibnu Qais Al-Mala'i telah mengatakan bahwa melakukan suatu amalan di malam kemuliaan lebih baik daripada melakukan amalan selama seribu bulan.

Dan pendapat yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar itu lebih afdal daripada melakukan ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar, merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, bukan yang lainnya.

Pengertian ini sama dengan apa yang disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. yang mengatakan:

«رِبَاطُ لَيْلَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ لَيْلَةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنَ الْمَنَازِلِ»

Berjaga-jaga selama semalam di jalan Allah (jihad) lebih baik daripada seribu malam di tempat-tempat yang lainnya.

Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Mengingat melakukan ibadah di dalam malam Lailatul Qadar sebanding pahalanya dengan melakukan ibadah selama seribu bulan, telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Barang siapa yang melakukan qiyam (salat sunat) di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala dan ridaAllah, maka diampunilah baginya semua dosanya yang terdahulu.

*******************

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{تَنزلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ}

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (Al-Qadar: 4)

Yakni banyak malaikat yang turun di malam kemuliaan ini karena berkahnya yang banyak. Dan para malaikat turun bersamaan dengan turunnya berkah dan rahmat, sebagaimana mereka pun turun ketika Al-Qur'an dibacakan dan mengelilingi halqah-halqah zikir serta meletakkan sayap mereka menaungi orang yang menuntut ilmu dengan benar karena menghormatinya.

Adapun mengenai ar-ruh dalam ayat ini, menurut suatu pendapat makna yang dimaksud adalah Jibril 'alaihissalam, yang hal ini berarti termasuk ke dalam Bab "Ataf khusus kepada umum." Menurut pendapat lain menyebutkan, ar-ruh adalah sejenis Malaikat tertentu, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya di dalam surat An-Naba. Hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala .:

{مِنْ كُلِّ أَمْرٍ}

untuk mengatur segala urusan. (Al-Qadar: 4)

Mujahid mengatakan bahwa selamatlah malam kemuliaan itu dari semua urusan.

Sa'id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Malam itu (penuh) kesejahteraan. (Al-Qadar: 5) Bahwa malam itu penuh keselamatan, setan tidak mampu berbuat keburukan padanya atau melakukan gangguan padanya.

Qatadah dan yang lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah semua urusan ditetapkan di dalamnya dan semua ajal serta rezeki ditakdirkan, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

فِيها يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِ

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Ad' Dukhan: 4)

Adapun firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

{سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ}

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al-Qadar: 5)

Sa'id ibnu Mansur mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Abu Ishaq, dari Asy-Sya'bi sehubungan dengan makna firman-Nya: untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al-Qadar: 4-5) Makna yang dimaksud ialah salamnya para malaikat di malam Lailatul Qadar kepada orang-orang yang ada di dalam masjid sampai fajar terbit.

Dan Ibnu Jarir rahimahullah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan berikut: Min kulli imri'in, yang artinya menjadi seperti berikut: Kepada setiap orang (malaikat memberi salam) di malam Lailatul Qadar sampai terbit fajar, yang dimaksud adalah Ahli MASJID..

Imam Baihaqi rahimahullah telah meriwayatkan sebuah atsar yang garib yang menceritakan turunnya para malaikat dan lewatnya mereka kepada orang-orang yang sedang salat di malam itu (malam kemuliaan) sehingga orang-orang yang Salat mendapat berkah karenanya.

Ibnu Abu Hatim rahimahullah telah meriwayatkan sebuah atsar yang garib dari Ka'bul Ahbar cukup panjang menceritakan turunnya para Malaikat dari Sidratul Muntaha dipimpin oleh Malaikat Jibril 'alaihissalam. ke bumi di malam kemuliaan dan doa mereka bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا عِمْرَانُ -يَعْنِي الْقَطَّانَ-عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ أَبِي هُريرة: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: "إنها ليلة سابعة -أو: تاسعة -وعشرين، وإن الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عدد الحصى"

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran Al-Qattan, dari Qatadah, dari Abu Maimunah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. pernah bersabda sehubungan dengan malam kemuliaan (Lailatul Qadar): Sesungguhnya malam kemuliaan itu jatuh pada malam dua puluh tujuh atau dua puluh sembilan (Ramadan), dan sesungguhnya para malaikat di bumi pada malam itu jumlahnya lebih banyak daripada bilangan batu kerikil.

📚[ Tafsir Ibnu Katsir/Tafsir Al Qur'anil Adzim ]

~~~~~~~~~

Jadi jelaslah, sebagaimana penjelasan dari para Sahabat, Tabi'in dan para Ulama Ahli Tafsir diatas, bahwasannya malam Lailatul Qadr itu ada pada setiap tahun, bahkan hingga akhir zaman, dan didapatkan oleh orang2 yang bersungguh2 mencari keutamaannya di malam 10 terakhir dengan cara ber itikaf di Masjid, bukan sebagaimana persangkaan Cak Nun yang memahami Al Qur'an dengan LOGIKA SASTRA ala Filsafatnya yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar itu hanya turun sekali saat Al Qur'an diturunkan pada malam itu, ini diperkuat dengan anjuran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada umatnya agar berat ittikaf/berdiam diri di dalam Masjid selama 10 malam terakhir Bulan Ramadhan, agar mereka bisa mendapatkan keutamaan Malam Lailatul Qadr pada 10 malam terakhir tersebut :

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya telah memberikan contoh kepada umatnya untuk meningkatkan amaliah ibadah ketika memasuki 10 Terakhir Ramadhan tersebut, dan berusaha untuk mencari malam Lailatul Qadr dengan mengerahkan upaya maksimal, sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Dahulu Rasulullah ketika memasuki 10 Terakhir dari bulan Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” (HR Al Bukhari no.1884)

~~~~~

Bahkan Allah Berfirman :

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Dan janganlah kalian mencampuri mereka itu (istri-istri kalian), sedang kalian beri’tikaf dalam MASJID”(Al Baqarah: 187)

~~~~~~~~~

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Bahwasanya (pahala) amalan pada malam yang barakah itu setara dengan pahala amalan yang dikerjakan selama 1000 bulan yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. 1000 bulan itu sama dengan 83 tahun lebih. Itulah di antara keutamaan malam yang mulia tersebut. Maka dari itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk meraihnya, dan beliau bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَاناًوَاحْتِسَاباً،غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمُ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)

~~~~~~~

~LAILATUL QADR TERJADI SETIAP TAHUN HINGGA AKHIR ZAMAN~

Lailatul Qadr terjadi pada setiap tahun. Ia berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil 10 hari terakhir (bulan Ramadhan) tersebut sesuai dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Lailatul Qadr itu (dapat) berpindah-pindah. Terkadang terjadi pada malam ke-27, dan terkadang terjadi pada malam selainnya, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits yang banyak jumlahnya tentang masalah ini. Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Bahwa beliau pada suatu tahun diperlihatkan Lailatul Qadr, dan ternyata ia terjadi pada malam ke-21″. (Fatawa Ramadhan, hal.855)

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud rahimahumallahu berkata: “Adapun pengkhususan (memastikan) malam tertentu dari bulan Ramadhan sebagai Lailatul Qadr, maka butuh terhadap dalil. Akan tetapi pada malam-malam ganjil dari 10 hari terakhir Ramadhan itulah dimungkinkan terjadinya Lailatul Qadr, dan lebih dimungkinkan lagi terjadi pada malam ke-27 karena telah ada Hadits-Hadits yang menunjukkannya”. (Fatawa Ramadhan, hal.856)

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'anhuma :

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ إِذَا قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya apabila beliau menjelaskan tentang Lailatul Qadr maka beliau mengatakan : “(Dia adalah) Malam ke-27″. (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Shahih Al-Musnad)

Kemungkinan paling besar adalah pada malam ke-27 Ramadhan. Hal ini didukung penegasan shahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu :

عن أبي بن كعب قال : قال أبي في ليلة القدر : والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadr) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)

~~~~~~

Terakhir : kemudian di antara bentuk keyakinan fatal nan Kufur Cak Nun yang berkata :

"MANA Malaikat ??? Gak ada dia Rapat Saya, gak ada Malaikat Rapat turunkan Lailatul Qadr"

Jawab : Wahai Cak Nun, berhati-hatilah akan ucapanmu itu, karena itu salah satu yang menyebabkan dirimu terjerumus kepada kekufuran ! Karena ia merupakan salah satu dari 6 Rukun Iman yang Utama, Engkau berkata dimana Malaikat ? Gak ada ? Nauzubillah, padahal jika kita mau mengikuti Logika SASTRAmu yg sempit itu, maka aku akan bertanya, mana OTAKMU ? Apakah kau bisa melihat OTAKMu sendiri ? Lalu mengapa engkau berkeyakinan dirimu punya OTAK ? Sedangkan engkau tidak bisa melihatnya secara langsung ?

Padahal Allah Berfirman, agar kita beriman kepada perkara yang Ghaib, termasuk beriman kepada Para Malaikat-Malaikat Allah Azza Wa Jall, meskipun kita tidak dapat melihat mereka :

Allah menjelaskan bahwa beriman kepada yang ghaib adalah salah satu ciri orang yang berTaqwa:

"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." [QS. Al-Baqarah ayat 3 ]

Jika engkau mengatakan, Mana Malaikat, Gak ada ?? Ketauhilah ! Ancamannya sangat berat Cak Nun :

Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman :

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Barangsiapa yang KAFIR kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, maka sesungguhnya orang itu telah SESAT sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136)

~~~~~~~

Demikianlah, semoga Nash, Dalil-dalil dan bayan/ penjelasan dari para Ulama diatas sekiranya lebih dari cukup untuk membantah Syubhat Cak Nun Hadahullah, semoga bermanfaat...

~~~~~

🔎Referensi : http://www(.)darussalaf(.)or(.)id/fiqih/10-terakhir-ramadhan-dan-lailatul-qadar/
http://www(.)manhajul-anbiya(.)net/bimbingan-sunnah-tentang-itikaf/
http://buletin-alilmu(.)net/2012/09/24/iman-kepada-malaikat/
Copas sumber refrensi dari Akhi Ibnu Herman

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru