Iklan Atas Zona Muslim

Panduan I`tikaf Lengkap Dan Praktis Berdasarkan Qur`an Dan Sunnah
4/ 5 stars - "Panduan I`tikaf Lengkap Dan Praktis Berdasarkan Qur`an Dan Sunnah " Pengertian I'tikaf Secara bahasa, i'tikaf berarti tekun beribadah berdasarkan firman Allah SWT surat Al-Anbiya ayat : 52 “In...

Panduan I`tikaf Lengkap Dan Praktis Berdasarkan Qur`an Dan Sunnah

Admin

Pengertian I'tikaf

Secara bahasa, i'tikaf berarti tekun beribadah berdasarkan firman Allah SWT surat Al-Anbiya ayat : 52

“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya, “Inikah berhala- berhala yang kalian tekun beribadah kepadanya?”

Secara istilah, Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunah mendefinisikan i'tikaf dengan : menentap dan tinggal di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ilallah). Sayyid Qutub memperkuat pendapat tersebut, beliau mengatakan, “i'tikaf adalah cara (sunnah) Rasulullah SAW dengan berkhalwat untuk taqarrub ilallah, berdiam di masjid dengan niat tidak akan memasuki rumah kecuali ada kepentingan yang mendesak.”

I'tikaf adalah khalwat Rabbani. Karena disaat itu seseorang menyendiri dari pergaulan sesama makhluk demi cintanya kepada Rabb Maha Pencipta. Di masjid, ia mengingat Allah Rabbul Izzati dan mengagumi ciptaan-Nya. Berdoa, bermunajat, mengharap pahala dan memohon dihindarkan dari api neraka dan siksa-Nya yang pedih, Tenggelam dalam lautan cinta dan tangis kerinduan bertemu dengan Rabbnya.

I'tikaf dapat dilakukan jika memenuhi rukun-rukun i'tikaf; yakni mu’takif (orang yang beri'tikaf), tinggal dalam masjid yang dianjurkan dan memilih tempat untuk tetap beri'tikaf:

Dalil Syari'at I'tikaf 

Dari Aisyah ra. katanya, “Apabila Rasulullah SAW hendak i'tikaf pada sepuluh yang akhir di bulan Ramadhan, beliau shalat Subuh lebih dahulu, sesudah itu barulah beliau masuk ke tempatnya i'tikaf...,” (HR. Muslim).

Ibnu Umar berkata, Anas dan Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW dahulu membiasakan beri'tikaf sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sejak tinggal di Madinah, hingga beliau diwafatkan Allah SWT. (Muttafaq 'alaih). Dari Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra, “Bahwa Rasulullah SAW biasa beri'tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dan bulan Ramadhan. Berkata Nafi’, “Abdullah bin Umar memperlihatkan sendiri kepada saya tempat yang biasa ditempati oleh Rasulullah SAW buat beritikaf.”

Masjid yang Digunakan

Abu Hanifah, Ahmad, Ishak dan Abu Tsaur berpendapat bahwa i'tikaf itu sah dilakukan di setiap masjid yang dilaksanakan shalat lima waktu di dalamnya dan didirikan jama’ah.

Pendapat ini didasarkan pada hadits,

“Setiap masjid yang memiliki muadzin dan imam, boleh dilakukan i'tikaf di dalainnya.” (Riwayat Daruquthni).

Tetapi hadits ini adalah hadits mursal dan dhaif hingga tak dapat dipakai sebagai alasan.

Sementara, Imam Malik, Syafi'i dan Daud berpendapat bahwa i'tikaf sah dilakukan pada setiap masjid, karena tak ada keterangan yang menegaskan terbatasnya masjid tempat melakukan i'tikaf.

Menurut pengikut-pengikut Syafi'i, lebih afdhal beri'tikaf di masjid jami', yaitu masjid yang digunakan untuk melakukan shalat jum'at. Rasulullah SAW sendiri melakukan i'tikaf di masjid jami'.

Mengenai pekarangan masjid, menurut golongan Hanafi dan Syafi'i serta suatu riwayat dari Ahmad, adalah termasuk masjid. Sedangkan menurut Malik dan suatu riwayat lagi dari Ahmad, halaman tidak termasuk.

Menurut jumhur ulama, tidak sah seseorang beri'tikaf di masjid rumahnya sendiri. Masjid di rumah tidak bisa dikatakan masjid, juga tak ada perselisihan tentang boleh menjualnya. Bahkan, para wanita, termasuk isteri-isteri Nabi, melakukan i'tikaf di masjid Nabawi.

Bolehkah wanita beri'tikaf tanpa Izin suami?

Menurut Imam Syafi'i, sah saja bila seorang wanita beri'tikaf tanpa seizin suaminya, tetapi ia berdosa. Sedang menurut Madzhab Maliki, tidak boleh wanita beri'tikaf nadzar atau i'tikaf sunnah tanpa seizin suaminya, kalau ia tahu betul suaminya butuh sekali dengan isterinya itu.

Para wanita yang hendak beri'tikaf hendaknya tertutup dari penglihatan pria, agar tidak terlihat oleh mereka atau melihat mereka di dalam masjid tersebut

Waktu I'tikaf

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Sa'id, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang hendak beri'tikaf bersamaku, hendaklah ia melakukannya pada sepuluh terakhir.”

Dalam kitab Fiqhus Sunnah, yang dimaksud dengan “sepuluh terakhir” adalah nama bilangan malam yang bermula pada malam ke duapuluh satu atau malam ke dua puluh. Jadi, waktu masuk masjid untuk beri'tikaf itu ialah pada permulaan malam ke dua puluh satu atau ke dua puluh.

Menurut Abu Hanifah. dan Syafi'i waktu keluar mu'takif adalah setelah matahati terbenam Sedang menurut Malik dan Ahmad, boleh keluar setelah matahari terbenam, tetapi disunnahkan tinggal di masjid sampai waktu shalat 'ied.

Syarat-syarat i'tikaf


  • Mu'takif adalah orang muslim;
  • Mu'takif hendaknya tamyiz. Tidak sah i'tikaf yang dilakukan oleh orang gila ataupun anak kecil;
  • Dilakukan dalam masjid yang biasa untuk shalat jamaah;
  • Suci dari janabat, haid dan nifas;
  • Bagi wanita harus seizin suaminya (menurut Jumhur);
  • Mu'takif hendaknya melakukan shaum (Madzhab Maliki dan Hanafi). Sedangkan dalam madzhab Hanafi yang dimaksud shaum (puasa) hanyalah merupakan syarat sahnya i'tikaf wajib dan tidak dipersyaratkan dalam i'tikaf sunnah.
  • Niat I'tikaf; ketika hendak memulainya (Madzhab Syafi'i dan Maliki). 


Alasan Keluar Masjid

Udzur syar'i, seperti keluar untuk shalat Jum'at atau 'Ied. Karena itu beri'tikaf sangat disunahkan di masjid jami', agar tidak keluar dari masjid tersebut.

Udzur tabi’i, seperti buang air besar dan kecil, mandi janabat karena bermimpi (bila di masjid tidak memungkinkan). Mu'takif hanya diperbolehkan berada di luar masjid secukupnya saja.

Udzur dharuri, seperti keluar masjid karena khawatir barangnya hilang atau rusak, atau khawatir dirinya binasa atau celaka andaikan i'tikafnya diteruskan. ( Dr. Mahmud Abdullah al-'Ukazi, ”AI-Fiqh al-lslami, Jami'ah al-Azhar. 156-157).

Hal-hal yang disunnahkan dalam i'tikaf

Disunahkan bagi orang yang sedang beri'tikaf memperbanyak ibadah-ibadah sunnah serta menyibukkan diri dengan shalat, tilawah Qur'an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, berdo'a dan membaca salawat atas Nabi SAW. Dan ibadah-ibadah lain yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Termasuk juga dalam hal ini, mempelajari suatu ilmu, kajian kitab tafsir, hadits, membaca riwayat-riwayat Nabi dan orang-orang shaleh begitu juga buku-buku fiqih dan keagamaan.

Hal-hal yang Dimakruhkan dalam beri'tikaf

Pertama, Melakukan hal-hal yang tidak perlu (laghwi), baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Berdasarkan Hadits yang di riwayatkan oleh Turmudzi dan Ibnu Majah dari Abi Bashrah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Di antara baiknya keislaman seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.”

Kedua, Menahan diri tidak berbicara. Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Daud dan ibnu Majah dari Ibnu 'Abbas, “Sementara Nabi SAW berkhutbah, tampak olehnya seorang yang tetap berdiri. Nabi SAW berkata : Siapa orang itu?” Mereka mengatakan. “Namanya Abi Israel. Ia bernadzar akan terus berdiri dan tidak akan duduk, tidak akan berteduh dan berbicara dan akan terus Mansa.“ Mau Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah ia berbicara, bernaung dan duduk, dan hendaklah ia meneruskan shaumnya.

Hal-hal yang membatalkan I'tikaf

Adapun hal-hal yang membatalkan I'tikaf adalah :


  • Keluar dari masjid. Untuk i'tikaf wajib seperti i’tikaf nadzar, mu'takif tidak diizinkan keluar masjid sama sekali sampai habis waktu yang telah ditetapkan. kecuali ada udzur. Dalam i'tikaf sunnah, boleh keluar dari masjid, karena uzur atau tidak. Begitu mu'takif keluar masjid dan tanpa dinyatakan batal kemudian bila masuk ke masjid lagi ia berniat i'tikaf lagi, ia tetap mendapat pahala.
  • Murtad dari Islam. Firman Allah SWT dalam surat Az-zumar ayat: 65, “Seandainya engkau musyrik, akan gugurlah amalanmu.”
  • Pingsan dan gila, baik karena mabuk dan lainnya.
  • Haid dan nifas.
  • Senggama, Sekalipun tidak keluar mani. Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 187: “Janganlah kamu campuri isteri-isterimu ketika kamu dalam keadaan i'tikaf di masjid.” Menurut madzhab Syafi'i, jika persetubuhan karena khilaf, maka tidak membatalkan i'tikaf.
  • Mencium dengan syahwat atau bercumbu dan sebagainya hingga keluar mani. "Tapi kalau tidak keluar, maka tidak membatalkan i'tikaf. Wallohu a'lam bish showab.
Sumber : Kitab Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru