Iklan Atas Zona Muslim

Ustadz Ja'far Umar Thalib : Pemerintah Indonesia Bukan Ulil Amri
4/ 5 stars - "Ustadz Ja'far Umar Thalib : Pemerintah Indonesia Bukan Ulil Amri " Oleh : Al Ustadz Ja'far Umar Thalib. Banyak pertanyaan dan pernyataan diseputar pemerintah Indonesia, apakah pemerintah Indonesia...

Ustadz Ja'far Umar Thalib : Pemerintah Indonesia Bukan Ulil Amri



Oleh : Al Ustadz Ja'far Umar Thalib.

Banyak pertanyaan dan pernyataan diseputar pemerintah Indonesia, apakah pemerintah Indonesia ini Ulil Amri yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya agar kita mentaatinya, ataukah bukan ? Berikut ini saya bawakan tentang siapakah Ulil Amri yang kita diperintah oleh Allah dan RasulNya untuk mentaatinya.

Ulil Amri itu secara bahasa artinya orang yang mempunyai wewenang atau orang yang mempunyai kekuasaan. Gelar Ulil Amri ini diberikan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya :

يا أيهاالذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم فإن تنازعتم فى شيء فردوه إلى الله و الرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا - النساء ٥٩.

"Wahai orang-orang yang beriman , taatilah oleh kalian Allah dan taatilah RasulNya dan Ulil Amri dari kalangan kalian, maka kalau kalian bertikai tentang sesuatu masalah, kembalikanlah penyelesaian pertikaian itu kepada Allah dan RasulNya, bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir (yakni hari kiamat). Yang demikian itu (yakni merujuk kepada Allah dan RasulNya dalam menyelesaikan pertikaian) adalah baik dan akan lebih baik lagi akibatnya dibelakang hari". S.An Nisa' 59.

Bahkan Allah Ta'ala bersumpah dengan DiriNya, bahwa orang yang mengaku beragama Islam tetapi tidak mau merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya dalam menyelesaikan pertikaian diantara mereka atau keberatan dengan keputusan hukum dari RasulNya terhadap pertikaian itu, maka yang demikian itu dianggap tidak beriman samasekali.

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا فى أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما - النساء ٦٥.

"Maka tidak, demi Tuhanmu, mereka sungguh tidak beriman, sehingga mereka menjadikan engkau hai Muhammad sebagai hakim yang memutuskan perkara yang mereka pertikaikan diantara mereka, kemudian mereka tidak mendapati pada diri mereka keberatan atas apa yang engkau putuskan dan mereka dianggap beriman juga bila mereka tunduk melaksanakan putusanmu dengan setunduk-tunduknya". S. An Nisa' 65.

Jadi Ulil Amri Minkum itu ialah Penguasa dari kalangan kaum Mu'minin yang ciri khasnya ialah, bila bertikai dalam satu masalah dengan rakyatnya, maka dia merujuk kepada Al Qur'an dan As Sunnah dan ridho dengan segala putusan yang didapat dari padanya. Inilah pula yang ditegaskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (hadits ke 1838) dari Ummu Hushain radhiyallahu anha bahwa belian mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam menegaskan dalam khutbah beliau di Mina dalam haji wada' :

ولو استعمل عليكم عبد يقودكم بكتاب الله فاسمعوا له وأطيعوا

"Dan seandainya diperlakukan kepemimpinan atas kalian seorang hamba sahaya yang memimpin kalian dengan Kitabullah (Al Qur'an dan As Sunnah), maka dengarkanlah perintahnya dan taatilah perintahnya".

Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallah membatasi kewajiban agama untuk ta'at kepada penguasa itu ialah bila kita melihat pada penguasa itu kekafiran yang nyata menurut pandangan dalil Al Qur'an dan As Sunnah :

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال : دعانا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ، فبايعناه ، فكان فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة فى منشطنا ومكرهنا ، وعسرنا ويسرنا ، وأثرة علينا ، أن لا ننازع الأمر أهله ، قال : إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان - رواه مسلم فى صحيحه (الحديث رقم ١٧٠٩)

"Dari Ubadah bin As Shamith radhiyallahu anhu, bahwa beliau memberitakan : Rasulullah shallahu alaihi wa aalihi wasallam pernah memanggil kami, maka beliau mengambil perjanjian dari kami, maka diantara perkara yang kami diambil perjanjian dari padanya ialah bahwa kami harus mendengar dan mentaati petintah penguasa kami dalam keadaan kami senang dengan penguasa itu ataupun dalam keadaan kami membencinya, dan bahkan walaupun penguasa itu mengabaikan hak kami, tetap kami harus mentaatinya, dan kami juga diambil janji untuk tidak merebut kekuasaan dari penguasa yang sedang berkuasa, kemudian Rasulullah menambahkan dalam isi perjanjian kami dengan beliau : "Kecuali bila kalian melihat pada penguasa itu kekafiran yang nyata, dimana kalian mempunyai dalil dari sisi Allah (yakni Al Qur'an dan As Sunnah) yang menunjukkan kepastian kekafirannya". Hr. Muslim dalam Shahihnya hadits ke 1709.

Adapun riwayat yang menunjukkan bahwa selama penguasa itu mengerjakan shalat maka dia adalah penguasa Muslim. Hal ini ada kesalahpahaman. Karena dalam perkara ini ada dua riwayat yang satu dengan yang lainnya saling menjelaskan. yaitu :

1. Dari Ummi Salamah radhiyallahu anha menyatakan bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

ستكون أمراء فتعرفون وتنكرون ، فمن عرف برىء ، ومن أنكر سلم ، ولكن من رضي وتابع - قالوا أفلا نقاتلهم ؟ قال : لا ما صلوا - رواه مسلم فى صحيحه الحديث رقم ١٨٥٤.

"Akan ada dibelakang hari para penguasa yang kalian kenali orangnya tapi kalian ingkari perbuatannya, maka barangsiapa yang memahami kemungkaran yang dilakukan penguasa itu adalah sebagai kemungkaran maka dia telah terlepas dari kemungkaran penguasa itu dan barang siapa yang mengingkari kemungkaran yang dikakukan penguasa itu, maka dia akan selamat dari kemungkaran itu. Akan tetapi yang meridhoi dan mengikuti kemungkaran itu yang akan binasa". - Para Shahabat bertanya : Apakah tidak sebaiknya kami perangi saja penguasa itu ? Rasulullah menjawab : "Tidak boleh selama dia shalat". Hr. Muslim dalam Shahihnya hadits ke 1854.

Hadits ini seolah-olah menegaskan bahwa selama penguasa itu mengerjakan shalat untuk dirinya, maka selama itu pula dia adalah Ulil Amri Minkum yang harus ditaati. Padahal hadits ini telah diterangkan oleh hadits berikutnya.

2. Dari Auf bin Malik radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم ، ويصلون عليكم وتصلون عليهم ، وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم و يبغضونكم ، وتلعنونهم ويلعنونكم - قيل : يا رسول الله أفلا ننابذهم بالسيف ؟ قال : لا ما أقاموا فيكم الصلاة ، وإذا رأيتم من ولاتكم شيئا تكرهونه فاكرهوا عمله ، ولا تنزعوا يدا من طاعة - روا مسلم الحديث رقم ١٨٥٥.

"Sebaik-baik penguasa kalian ialah yang kalian mencintainya dan penguasa itu mencintai kalian, mereka mendoaka kebaikan atas kalian dan kalian mendo'akan kebaikan atas mereka, dan sejahat-jahat penguasa kalian ialah yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian dan kalian mendoakan kutukan Allah atas mereka dan mereka mendoakan kutukan Allah atas kalian. Ada yang bertanya : Apakah tidak sebaiknya kami binasakan mereka denga pedang-pedang kami ? Nabi bersabda : Tidak boleh, selama penguasa itu menegakkan shalat diantara kalian. Maka bila kalian melihat pada penguasa itu sesuatu perkara yang kalian tidak menyukainya, maka bencilah amalannya, dan jangan kalian mencabut diri kalian dari kemestian taat kepadanya". Hr. Muslim hadits ke 1855.

Hadis ini menegaskan bahwa yang dimaksud penguasa itu Muslim selama dia shalat, ialah bahwa penguasa itu menegakkan kewajiban shalat di kalangan rakyatnya. Yakni mewajibkan rakyatnya untuk menegakkan shalat berjama'ah lima waktu di masjid-masjid. Bukan hanya shalat untuk dirinya saja.

Demikianlah yang diterangkan oleh Al Imam An Nawawi rahimahullah :

وأما قوله : أفلا نقاتلهم ؟ قال : لا ما صلوا - ففيه معنى ما سبق أنه لا يجوز الخروج على الخلفاء بمجرد الظلم أو الفسق ما لم يغيروا شيئا من قواعد الإسلام

"Adapun pernyataannya : Apakah kami perangi saja penguasa seperti itu ? Beliau menjawab : Tidak boleh selama mereka shalat - Maka padanya ada makna seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwasanya tidak boleh memberontak kepada para khalifah hanya karena semata-mata kedzaliman dan kefasikan yang ada padanya, selama penguasa itu tidak merubah sedikitpun dari kaidah-kaidah Islam".

Demikianlah bila penguasa itu tidak merubah kaidah-kaidah Islam, maka ia adalah Ulil Amri Minkum, yang harus ditaati dalam kebaikan dan tidak boleh memberontak kepadanya walaupun dia berbuat kedzaliman dan kefasikan. Namun bila dia merubah kaidah syura dengan demokratisme, kaidah kebenaran satu-satunya hanya ada pada Islam, dirubah dengan pluralisme, dimana diyakini bahwa semua agama itu sama baiknya dan sama benarnya. Kaidah hukum yang sah hanyalah hukum Islam, dirubah dengan hukum yang dibikin oleh penjajah kafir dari Belanda dan KUHP yang menyingkirkan hukum Islam dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka penguasa yang demikian itu bukanlah Ulil Amri Minkum.

Al Allamah Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi rahimahullah dalam Al Ushuluts Tsalathah menerangkan bahwa kepala thaghut itu ada lima, antara lain ialah pemimpin yang tidak menjalankan hukum Allah. Beliau berdalil dengan firman Allah

Ta'ala :

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون - المائدة ٤٤

"Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir". Al Maidah 44.

Demikianlah sesungguhnya, bahwa dalil-dalil tersebut dan keterangan para Ulama' terhadap dalil-dalil itu , menjadi landasan untuk menilai bahwa pemerintah Indonesia itu bukanlah Ulil Amri Minkum dan atau bukan pemerintah yang kita diwajibkan untuk taat kepadanya.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru