Iklan Atas Zona Muslim

Mana Lebih Baik, Kitab Fiqih Sunnah Atau Shahih Fiqih Sunnah?
4/ 5 stars - "Mana Lebih Baik, Kitab Fiqih Sunnah Atau Shahih Fiqih Sunnah?" Oleh: Ust. Luthfi Abdu Robbihi Lc MA Mungkin masih ada diantara kita yang belum mengetahui perbedaan dari dua kitab diatas. Tak jaran...

Mana Lebih Baik, Kitab Fiqih Sunnah Atau Shahih Fiqih Sunnah?



Oleh: Ust. Luthfi Abdu Robbihi Lc MA

Mungkin masih ada diantara kita yang belum mengetahui perbedaan dari dua kitab diatas. Tak jarang, Ada yang menganggap bahwa kedua kitab ini sama, namaun ada juga yang mengira kitab Shahih Fiqih Sunnah merupakan penyempurna dari Fiqih Sunnah. Padahal jika diamati lebih dalam kedua kitab ini sebenarnya berbeda.

Dibalik perbedaan yang ada, namun ada kesamaannya yaitu kedua kitab ini bisa dibilang sama-sama terkenal dan penting. Kitab Fiqih Sunnah lebih dikenal di kalangan teman-teman Ikhwanul Muslimin, sedangkan Kitab Shahih Fiqih Sunnah lebih banyak dikenal teman-teman Salafy. Dan point pentingnya juga, Kedua kitab diatas bukanlah termasuk kitab Turats, artinya kitab diatas dikarang oleh Ulama’ zaman ini.

Sekilas Tentang Kitab Fiqh Sunnah

Penulis kitab: Sayyid Sabiq. Beliau adalah salah seorang Ulama’ dari al-Azhar fakultas Syari’ah. Beliau lahir di Mesir pada tahun 1335 H/1915 M. Dan beliau wafat pada tahun 1420 H/ 2000 M.

Pada mulanya Sayyid Sabiq memulai menulis makalah ringkas tentang Fiqih terkhusus bab Thaharah atau bersuci pada sebuah Majalah mingguan al-Ikhwanu al-Muslimun. Dalam setiap tulisannya itu, beliau sering mengutip kitab-kitab hadits ahkam, seperti Subulu as-Salam karya As-Shan’ani (w. 1182 H) yang mensyarah kitab Bulughu al-Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Nailu al-Authar karya as-Syaukani syarah Muntaqa al-Akhbar karya Ibnu Taymiyyah al-Jadd (w. 652 H). Dari tulisan-tulisan itulah akhirnya menjadi sebuah buku yang diberi judul Fiqh Sunnah ( فقه السنة )

Jilid pertama kitab ini diterbitkan pada tahun 1365 H di Mesir atau sekitar tahun 1949 M, dan pada muqaddimahnya berisi sambutan oleh pemimpin al-Ikhwan al-Muslimun, yaitu Syaikh Hasan al-Banna (w. 1949 H).

Jilid ke-dua dalam kitab Fiqih Sunnah ini mengupas mengenai masalah zakat, puasa, jenazah dan hal-hal yang berkaitan dengannya, haji, hingga masalah pernikahan.

Kemudian sampai dengan jilid ketiga, yang berisikan berbagai hal seputar pernikahan (wali dan kedudukannya, hak dan kewajiban suami-istri, nafkah, akad nikah, walimah, dan sebagainya), serta berbagai hal yang berkaitan dengan hudud/hukuman.

Dan terakhir beliau menulis jilid ke-empat, yang merupakan jilid terakhir dari kitab Fiqih Sunnah. Pada Jilid terakhir ini mengupas mengenai jihad, perang, jizyah, ghanimah, kafarat sumpah, hukum jual-beli, riba, pinjaman, gadai, mudharabah, dan utang. Masing-masing percetakan mungkin akan berbeda  jumlah jilidnya.

Beberapa karya beliau lainnya : Mashadir al-Quwwah fi al-Islam, ar-Riba wa al-Badil, al-Aqaid al-Islamiyyah, Islamuna.

Isi Kandungan Kitab

Dalam muqaddimahnya, Penulis memulai tulisannya dengan menjelaskan tentang universalitas ajaran Islam. Selain itu beliau juga menjelaskan sejarah tasyri’ hukum islam secara ringkas. Baru kemudian beliau memulai kitabnya dari bab Thaharah.

Sesuai dengan namanya; Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq sering menyampaikan hukum fiqihnya terlebih dahulu, baru kemudian beliau kuatkan dengan dalil-dalilnya baik dari al-Qur’an maupun dari as-Sunnah. Seperti misalnya dalam bab Thaharah, Sayyid Sabiq sebutkan macam-macam air, setelah itu beliau sebutkan dalil naqlinya.

Dilihat dari tulisannya, Sayyid Sabiq lebih cenderung memilih menjauhi perdebatan madzhab yang panjang, dan menyebutkan ikhtilaf diantara para Ulama’ pada hal-hal yang memang perlu disebutkan saja. Tujuan beliau adalah mempermudah bagi para pembaca untuk memahami kitabnya. Selain itu Kitab beliua ini juga tidak berafiliasi kepada satu Madzhab tertentu.

Kitab Ta'liq Terhadap Fikih Sunnah

Kitab Fiqih Sunnah ini juga tak lepas dari kritik dari Ulama’ lain, karena memang masing-masing Ulama berijtihad yang sangat mungkin hasil Ijtihad itu berbeda antara satu dan yang lain. Kitab yang berisi kritikan terhadap kitab Fiqih Sunnah adalah kitab “Tamamu al-Minnah fi at-Ta’liq ‘ala Fiqhi as-Sunnah” karya Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1999 M).

Inti dari kritik dalam kitab Tamamu al-Minnah ini, menurut penulis terdapat dua tema besar:

Pertama, berkaitan dengan hadits yang dipakai berasal dari buku para ulama terdahulu. Dimana Sayyid Sabiq tidak men-tahqiq atau memilahnya lebih jauh, karena berprinsip pada kaidah “Setiap ilmu yang diambil dari ahlinya bisa diterima”. Sebagai contoh Syaikh Al Albani berbeda pendapat dengan Syaikh Sayyid Sabiq dalam hadits tentang kewajiban zakat perdagangan. Menurut Syaikh Al Albani hadits tersebut drajatnya dhaif.

Kedua, perbedaan pada sumber fiqih antara keduanya. Syaikh Al Albani cenderung mengikuti makna tersurat (zhahiru an-nash) dari teks hukum, sedangkan Syaikh Sayyid Sabiq lebih dekat pada maqashid nash (tujuan makna nash -red). Syaikh Al Albani tidak segan berbeda pendapat dengan jumhur ulama terdahulu, seperti dalam pengharaman emas bagi wanita, sedangkan Syaikh Sayyid Sabiq biasanya menghormati pendapat jumhur ulama.

Mengkritik hasil karya Ulama lain bukanlah hal baru dalam Islam.

Selayang Pandang Kitab Shahih Fiqih Sunnah

Nama lengkap kitab ini adalah Shahih Fiqih Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhihu Madzahibi al-Aimmah.
Nama Penulis : Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim
Ta’liq: Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syeikh bin Baz, Syeikh Ibnu Utsaimin.

Saya pribadi mengalami kesulitan dalam mencari biografi dari Syeikh Abu Malik Kamal bin Salim ini. Ada yang mengatakan bahwa beliau asalnya dari Mesir, lalu pindah ke Saudi Arabia pada tahun 1420 H/2002 M. Asalnya beliau adalah seorang Insinyur, lalu akhirnya menekuni bidang syariah.

Ketika di Mesir, Syeikh Abu Malik ini merupakan murid dari Syeikh Musthafa al-Adawi yang termasuk murid dari Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i (1932-2001 H) dari Yaman. Syeikh Musthafa al-Adawi ini juga dahulunya lulusan tekhnik mesin, lalu menekuni bidang Syariah.

Saat ini Syeikh Abu Malik Kamal bin Salim telah menjadi Ulama’ Saudi Arabia. Jika ingin lebih mengetahui kajian beliau, bisa klik di: [Video:http://ar.islamway.com/videos/scholar/1524] atau [audio: http://ar.islamway.com/lessons/scholar/1524].

Karya lain Syaikh Abu Malik : Fiqhu as-Sunnah li an-Nisa’, al-Fiqhu al-Mushaffa,

Kandungan Kitab

Seperti halnya kitab Fiqih Sunnah, kitab Shahih Fiqih Sunnah bisa dikategorikan pula dalam kitab perbandingan Madzhab. Abu Malik mengawali kitabnya dengan menyebutkan sejarah Ilmu Fiqih. Begitu juga beliau kemukakan pula sejarah kitab-kitab fiqih dari turats sampai modern.

Abu Malik menyebutkan keistimewaan dan sekaligus kekurangan metode penulisan kitab-kitab itu. Misalnya dalam penyusunan bab, ushlub yang digunakan suatu kitab, sampai dalam bab isi dari kitab itu. Sampai akhirnya, Abu Malik merasa menemukan metode yang pas dan cocok untuk beliau tulis saat ini.

Abu Malik juga menyebutkan pertentangan antara Ulama’ Ahli Hadits dengan Ahli Fiqih pada zaman dahulu, sehingga Abu Malik merasa perlu untuk menulis kitab yang mencakup keduanya, baik Fiqih maupun Hadits.

Tidak ketinggalan Syaikh Abu Malik mencantumkan pula sejarah terjadinya ikhtilaf para Ulama’, sejarah kemunculan taqlid dalam madzhab serta perkembangan madzhab.

Keistimewaan lain dari kitab ini adalah adanya tarjih/ pilihan pendapat yang lebih kuat dari para Ulama’ ketika terjadi khilaf. Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa banyak teman-teman Salafy menggunakan kitab ini.

Meski diakui pula oleh penulis sendiri, bahwa pen-terjihan suatu pendapat oleh beliau hanyalah sesuai dengan keilmuan yang telah beliau dapatkan dan ketahui, dan beliau tidak mengharuskan orang lain untuk mengikuti tarjih beliau.

Penutup

Kedua kitab ini memiliki nama yang hampir sama. Meski Penulisnya berbeda. Bisa dikatakan bahwa kedua kitab ini tidak beraflisiasi kepada salah satu madzhab tertentu, bahkan cenderung menjauhkan diri dari madzhab.

Yang menjadi beda adalah tarjih atau pemilihan pendapat yang dianggap kuat. Tentu setiap penulis memiliki metode masing-masing dalam pen-tarjihan suatu hukum syar’i.

Intinya, jika ingin lebih jelas mari kita baca kedua-duanya. waAllahu a'lamu bisshawab.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru