Iklan Atas Zona Muslim

Hukum Berdzikir Dengan Tangan Kiri
4/ 5 stars - "Hukum Berdzikir Dengan Tangan Kiri" Oleh : Ust. Abdullah Al-Jirani Berdzikir dengan tangan kiri Boleh saja. Karena sejauh pemerikasaan kami, tidak ada satupun dalil yang ...

Hukum Berdzikir Dengan Tangan Kiri



Oleh : Ust. Abdullah Al-Jirani

Berdzikir dengan tangan kiri Boleh saja. Karena sejauh pemerikasaan kami, tidak ada satupun dalil yang melarang berdzikir dengan tangan kiri. Barang siapa yang melarang, dituntut untuk mendatangkan dalil. Berdzikir termasuk jenis ibadah. Akan tetapi menghitungnya dengan tangan, termasuk perkara duniawi. Dan perkara duniawi hukum asalnya boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya.

Ada beberapa hal yang dilarang menggunakan tangan kiri dengan dalil yang jelas dan tegas dari nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti : makan, minum, memberi dan menerima sesuatu. Maka kalau hal ini kita katakan tidak boleh. Kenapa? karena ada dalil yang melarangnya.

Adapun berdzikir dengan tangan kiri, maka tidak ada dalil yang secara khusus/secara langsung yang melarangnya -sepanjang yang saya ketahui-.

Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- berdzikir dengna tangan kanan. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amer –rodhiallohu ‘anhu- beliau berkata :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ»، قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ: بِيَمِينِهِ

“Aku pernah melihat Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam- menghitung kalimat SUBHANALLOH.” Ibnu Qudamah berkata : “dengan tangan kanannya.” [HR. Abu Dawud : 1503 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Al-Albani –rohimahumallohu-].

Perbuatan nabi, paling tingginya menunjukkan hukum istihbab (anjuran) saja, dan tidak sampai derajat wajib. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam ilmu ushul fiqh. Jika hanya menunjukkan anjuran, maka konsekwensinya, berdzikir dengan tangan kiri merupakan perkara yang mubah (boleh).

Sebagian ulama’, seperti Asy-Syaikh Al-Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid –rohimahullah-, telah melemahkan tambahan lafadz “dengan tangan kanannya”. Karena tambahan ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Qudamah Al-Mishishi –rohimahullah- (syaikh Abu Dawud), dan dia telah ber-tafarrud (bersendiri) dalam meriwayatkannya. Muhammad bin Qudamah seorang yang tsiqoh (kepercayaan). Akan tetapi dia telah menyelisih sekelompok para rawi tsiqoh yang lain yang lebih tinggi kedudukannya. Dimana para rawi yang lain tidak ada yang menyebutkan tambahan lafadz tersebut. Mereka semua hanya menyebutkan dengan lafadz “dengan tangannya.” Maka riwayat seperti ini dinamakan syadz (ganjil).
Dalam ilmu mushtholah hadits, syadz adalah  :

مخالفة الثقة لمن هو أَوثق منه

“Seorang rawi tsiqoh (kepercayaan) menyelisihi seorang yang lebih tsiqoh darinya.”

Lihat pembahasan kelemahan tambahan lafadz “dengan tangan kanannya” oleh Asy-Syaikh Al-Muhaddits Bakr bin Abdullah Abu Zaid –rahimahullah- dalam kitab beliau : [La Jadiida Fi Ahkamish Sholat hal : 26-29].

Dalam jalur periwayatkan lain, Abu Dawud berkata : Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) Syu’bah telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) dari Atho’ bin As-Saib, dari bapaknya dari Abdullah bin Amer dia berkata :

فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهَا بِيَدِهِ

“Aku pernah melihat Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam- menghitung dzikir dengan ruas-ruas jari tangannya.” [HR. Abu Dawud : 5065 dan sanadnya dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rohimahullah-].

Dalam riwayat ini dengan lafadz “ruas-ruas jari tangannya”, tanpa menentukan kanan atau kiri. Sehingga lafadz umum ini bisa meliputi tangan kanan dan kiri. Dalam kaidah ushul, sesuatu lafadz yang umum diamalkan keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.  Oleh karena termasuk perkara yang mubah, maka boleh bagi seorang untuk berdzikir dengan tangan kirinya.

Jika tambahan lafadz “dengan tangan kanannya” shohih, maka hanya memberikan faidah anjuran saja dan tidak sampai derajat wajib. Oleh karena itu, baik shohih atau dhoif tambahan lafadz tersebut, maka tetap akan bermuara kepada satu hukum yang sama, yaitu mubah (boleh) berdzikir dengan tangan kiri.

Bahkan ada suatu riwayat yang bisa dijadikan penguat untuk hal ini (dengan metode qiyas). Dimana dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa nabi -shollallahu 'alaihi wa sallam- pernah menghitung ayat Al Quran (surat Al Fatihah) dengan tangan kirinya. Al Quran lebih afdhol dari dzikir. Jika pada Al Quran saja dibolehkan, maka dalam dzikir lebih dibolehkan lagi. Dari Ummu Salamah-rodhiallohu 'anhu- beliau berkata:

وَعقد بِيَدِهِ الْيُسْرَى

"Dan beliau menghitung (ayat-ayat Al Fatihah) dengan tangan kirinya". [Dikeluarkan oleh Imam Abu Amer Ad Dani (wafat : 444 H) dalam "Al-Bayan fi 'Addi Ayi Al Quran" hal : 66].

Kemudian beliau membuat bab dengan riwayat di atas dengan judul "Bab berdzikir dengan tangan kiri bagi yang berpendapat demikian". Setelah itu, beliau menyebutkan beberapa ulama salaf yang melakukannya, diantara mereka Urwah bin Az Zubair, Muhammad bin Sirin, dan Thowus bin Kaisan.

Adapun  perkataan Aisyah -rodhiallohu 'anhu- beliau berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam segala aktifitasnya." [HR. Al Bukhari : 163].

Riwayat ini tidak menafikan (meniadakan) bolehnya berdzikir dengan tangan kiri. Karena kata "suka/senang" tidaklah dipahami bahwa lawannya haram atau bidah. Tapi status hukumnya hanya mubah. Kalau seorang berkata "saya senang buah durian", bukan berarti buah selain durian dia haramkan. Tidak sama sekali.

Mafhum mukolafah dari hadits di atas, untuk perkara-perkara yang "kotor", seperti istinja' dari buang air besar atau kecil, maka pakai tangan kiri. Tapi dalam perkara yang  "tidak kotor", maka boleh saja dengan tangan kiri. Misal : ambil HP dengan tangan kiri. Demikian dzikir dan menghitungnya dengan tangan, itu bukan perkara kotor.

Kesimpulan : Berdzikir boleh dengan tangan kanan, atau tangan kanan dan kiri, atau tangan kiri saja. Alhamdulillah Rabbil 'alamin.

Note: Biasakan membaca dengan cermat dan sampai selesai. Biar tidak gagal paham. Jika anda belum cukup ilmu untuk mengkritsi suatu pendapat yg berbeda dengan pandapat anda, maka diam merupakan pilihan yang cerdas. Kasihanilah diri anda. Apalagi hanya modal copy paste. Atau copy saja artikel tersebut dan serahkan kepada ustadz anda untuk mengkritisinya. Jika ustadz anda ingin dialog lansung (bertemu langsung) itu pilihan yang sangat baik.Jika ada yang kurang paham, bertanyalah dengan sopan. "Semoga Alloh merahmati orang-orang yang tahu kadar dirinya". Wallohu a'lam

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru