Iklan Atas Zona Muslim

Memanfaatkan Rumah Hasil Gadai, Bolehkah?
4/ 5 stars - "Memanfaatkan Rumah Hasil Gadai, Bolehkah?" Pertanyaan : Salah satu kebiasaan yang ada pada kami ada semacam aturan gadai rumah seperti ini, rumah digadaikan untuk memperoleh uan...

Memanfaatkan Rumah Hasil Gadai, Bolehkah?



Pertanyaan :
Salah satu kebiasaan yang ada pada kami ada semacam aturan gadai rumah seperti ini, rumah digadaikan untuk memperoleh uang tertentu sebesar lebih kurang sejuta lira. Sebagai Imbalannya rumah tersebut disewa oleh kreditur (yang menerima gadai) selama setahun atau 2 tahun. Setelah selesai maka uang yang dipinjamkan dikembalikan tanpa tambahan sedikitpun disertai biaya sewa yang rendah sekali misalnya 100 dollar pertahun. Apakah hal ini halal atau haram? Apakah ini termasuk salah satu bentuk riba?


Jawab:

Segala puji hanya milik Allah, jika yang di maksud anda meminjam uang sebesar sejuta lira lalu dengan uang itu anda menggadaikan rumah kepada kreditur anda dan dia menempati rumah itu dengan biaya sewa hanya 1 dollar setahun maka ini termasuk riba, karena termasuk piutang yang mengambil/menyeret manfaat.

Maka dalam kasus ini kreditur mendapatkan manfaat dari piutangnya dengan bisa menyewa rumah dengan harga rendah yaitu lebih murah dibandingkan harga pasaran, anggaplah harga pasarannya 200 dolar setahun, tapi si kreditur ini hanya menyewa 100 berarti dia telah mendapat keuntungan 100 dollar lantaran dia telah memberi anda pinjaman uang. Padahal para ulama fikih telah sepakat bahwa setiap pinjaman yang menyeret keuntungan berarti riba.

Imam Ibnu Qudamah berkata, “Setiap akad qardh (pinjaman uang) yang disyaratkan di dalamnya ada tambahan pembayaran maka itu haram tanpa ada perbedaan pendapat. Ibnu Al-Mundzir mengatakan, “Mereka telah ijma' bahwa bila kreditur mensyaratkan kepada debitur tambahan atau hadiah, lalu dia akan memberi pinjaman karena itu maka tambahan tersebut adalah riba. Telah ada riwayat dari Ubay bin Ka’b, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud bahwa mereka melarang pinjaman yang menyeret keuntungan.” (Selesai dari kitab Al-Mughni 6/436).

Di tempat lain Ibnu Qudamah rahimahullah juga menyebutkan bahwa kreditur tidak boleh memanfaatkan barang gadaian tanpa membayar upahnya, karena itu sama saja piutang yang menyeret keuntungan yang diharamkan.

Ibnu Qudamah menulis, “Telah dinukil dari Imam Ahmad bahwa dia berkata, “Aku tidak suka mengutangkan rumah, karena itu adalah riba murni.” Maksudnya adalah kalau rumah itu dijadikan gadaian yang dimanfaatkan oleh pihak kreditur. Namun lain halnya jika pemanfaatan itu dengan berupa imbalan, misalnya kreditur ini menyewa rumah tersebut dengan harga pasaran tanpa ada kolusi di dalamnya maka itu diperbolehkan karena dia tidak memperoleh keuntungan dari piutangnya tersebut. Tapi kalau ada kolusi, misalnya dengan menyewa di bawah harga pasar maka itu tidak boleh.” Lihat Al-Mughni 4/250.

Dengan demikian dari sini dapat diketahui tidak bolehnya (haram) berkolusi untuk menurunkan harga sewa, harus tetap sesuai dengan harga sewajarnya, kalau tidak maka akan terkena riba. Padahal Riba diharamkan meskipun berdasarkan kerelaan kedua pihak.

Pada kesempatan lain Ada pertanyaan masuk ke komisi tetap untuk fatwa Kerajaan Arab Saudi:

“Ada fenomena di sebagian wilayah pedesaan di Mesir di mana kebiasaan masyarakat disana menggadaikan tanah pertanian. Orang yang perlu uang meminjam uang dari yang orang kaya dan sebagai imbalannya dia menyerahkan tanahnya itu kepada yang memberi pinjaman sebagai gadaian. Hasil dari tanah itu kemudian diambil oleh yang memberi pinjaman (kreditur) dan si pemilik tanah (yang meminjam uang dan menggadaikan) tidak mendapatkan apapun. Tanah itu akan tetap berada dalam kuasa kreditur sampai piutangnya dibayarkan. Bagaimana hukumnya yang seperti ini?

Komisi tetap fatwa menjawab:

Barang Siapa yang memberi pinjaman maka dia tidak boleh mensyaratkan kepada debitur untuk bisa mendapatkan keuntungan dari pinjamannya itu, karena ada riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Setiap qardh yang menyeret keuntunan maka dia riba.” Para ulama juga sudah sepakat akan hal ini. Termasuk apa yang ditanyakan di atas di mana debitur menggadaikan tanahnya yang boleh dimanfaatkan oleh kreditur sampai hutangnya dibayar.

Dalam hal ini, bila ada hutang maka kreditur tidak boleh mengambil hasil tanah itu atau memanfaatkannya sebagai imbalan menunggu dibayarkannya utang tersebut. Sebab tujuan dari gadai hanyalah sebagai penjamin agar piutangnya terbayarkan, bukan untuk mendapatkan manfaat dari barang gadaian sebagai imbalan piutang atau semacam denda keterlambatan pembayaran. (Sumber :Kumpulan Fatwa Komisi Tetap jilid 14 hal. 177).

Peringatan penulis :

Adapun maksud pertanyaan kasus di atas adalah anda sendiri yang menempati rumah itu dengan membayar sewa kepada kreditur anda padahal rumah itu sendiri milik anda dengan biaya rendah sebesar 100 dolar pertahun tadi maka tetap saja tidak boleh. Karena kreditur yang menerima gadai ini tidak boleh mengambil apapun sebagai imbalan dari piutangnya meski hanya sedikit. Gadai hanyalah untuk menjaga haknya bukan untuk dia ambil keuntungan darinya sedikitpun. Wallahu a’lam.

Artikel : www.islamqa,com
Penerjemah : Ust. Anshari Taslim Lc

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru