Iklan Atas Zona Muslim

Memahami Makna Beriman Kepada Taqdir Berdasar Al-Qur'an Dan Sunnah
4/ 5 stars - "Memahami Makna Beriman Kepada Taqdir Berdasar Al-Qur'an Dan Sunnah" Kali ini Zona Muslim akan memuat artikel tentang Beriman kepada Taqdir, Syaikh Abdul Wahhab rohimahulloh ta'alaa berkata : - ...

Memahami Makna Beriman Kepada Taqdir Berdasar Al-Qur'an Dan Sunnah



Kali ini Zona Muslim akan memuat artikel tentang Beriman kepada Taqdir, Syaikh Abdul Wahhab rohimahulloh ta'alaa berkata :

- ﺍﻟْﺈِﻳْﻤَﺎﻥُ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩِ ﻭَﺷَﺮِّﻩِ، ﻭَﺍﻟﺘَّﺼْﺪِﻳﻖُ ﺑِﺎﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳﺚِ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﺍﻟْﺈِﻳْﻤَﺎﻥُ ﺑِﻬَﺎ، ﻟَﺎ ﻳُﻘَﺎﻝُ )) : ﻟِﻢَ؟ (( ﻭَﻟَﺎ )) ﻛَﻴْﻒَ؟ (( ، ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺘَّﺼْﺪِﻳﻖُ ﻭَﺍﻹِﻳْﻤَﺎﻥُ ﺑِﻬَﺎ . ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻌْﺮِﻑْ ﺗَﻔْﺴِﻴﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ، ﻭَﻳَﺒْﻠُﻐْﻪُ ﻋَﻘْﻠُﻪُ، ﻓَﻘَﺪْ ﻛُﻔِﻲَ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﺇُﺣْﻜِﻢَ ﻟَﻪُ، ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥُ ﺑِﻪِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺴْﻠِﻴﻢُ ﻟَﻪُ، ﻣِﺜْﻞُ ﺣَﺪِﻳْﺚِ )) ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕِ ﺍﻟْﻤَﺼْﺪُﻭﻕِ (( ، ﻭَﻣِﺜْﻞُ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﺜْﻠُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘَﺪَﺭِ، ﻭَﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺣَﺎﺩِﻳﺚِ ﺍﻟﺮُّﺅْﻳَﺔِ ﻛُﻠِّﻬَﺎ، ﻭَﺇِﻥْ ﻧَﺒَﺖْ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺄَﺳْﻤَﺎﻉِ ﻭَﺍﺳْﺘَﻮْﺣَﺶَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻤِﻊُ، ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﺈِﻳْﻤَﺎﻥُ ﺑِﻬَﺎ، ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﺮَﺩَّ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺣَﺮْﻓﺎً ﻭَﺍﺣِﺪﺍً، ﻭَﻏَﻴْﺮِﻫَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳْﺚِ ﺍﻟْﻤَﺄْﺛُﻮﺭَﺍﺕِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺜِّﻘَﺎﺕِ

Beriman kepada al-qadar (takdir) yang baik dan yang buruk, membenarkan hadits-hadits tentangnya dan mengimaninya, tanpa mengatakan : ‘mengapa?’ dan ‘bagaimana?’; akan tetapi kewajiban kita hanyalah membenarkannya dan mengimaninya. Barangsiapa yang tidak mengetahui penafsiran hadits dan tidak dapat dicapai akalnya, maka hal itu telah cukup dan kokoh baginya (sehingga tidak perlu berdalam-dalam lagi). Yang wajib baginya hanyalah beriman dan tunduk kepadanya, seperti hadits Ash-Shaadiqul-Mashduuq dan hadits-hadits yang semisalnya dalam masalah takdir dan seperti semua hadits tentang masalah ar-ru’yah (melihat Allah di akhirat); meskipun jarang terdengar dan terasa berat bagi orang yang mendengarnya. Yang wajib baginya hanyalah mengimaninya dan tidak boleh menolaknya satu hurufpun, dan hadits-hadits lainnya yang diriwayatkan dari para perawi tsiqaat (terpercaya).

Penjelasan:

Makna Al-qadar secara bahasa artinya adalah keputusan dan hukum, yaitu segala sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla tentukan dari keputusan dan hukum dalam berbagai perkara.

Adapun secara istilah, al-qadar maknanya adalah:
 ﺗﻘﺪﻳﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻠﻜﺎﺋﻨﺎﺕ ﺣﺴﺒﻤﺎ ﺳﺒﻖ ﺑﻪ ﻋﻠﻤُﻪ، ﻭﺍﻗﺘﻀﺘﻪ ﺣﻜﻤته  

“Ketetapan Allah bagi semua makhluk sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu dan yang dikehendaki oleh hikmah-Nya” [Rasaail fil-‘Aqiidah oleh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin, hal. 37].

Syaikhul-Islaam Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil Ash-Shaabuuniy rahimahullah (w. 449 H) berkata

: ﻭﻳﺸﻬﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻳﻌﺘﻘﺪﻭﻥ : ﺃﻥ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﺍﻟﺸﺮ، ﻭﺍﻟﻨﻔﻊ ﻭﺍﻟﻀﺮ ‏[ ﻭﺍﻟﺤﻠﻮ ‏] ﻭﺍﻟﻤﺮ ﺑﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻗﺪﺭﻩ ﻻ ﻣﺮﺩ ﻟﻬﺎ ﻭﻻ ﻣﺤﻴﺺ ﻭﻻ ﻣﺤﻴﺪ ﻋﻨﻬﺎ ، ﻭﻻ ﻳﺼﻴﺐ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛﺘﺐ ﻟﻪ ﺭﺑﻪ ، ﻭﻟﻮ ﺟﻬﺪ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻌﻮﺍ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﻟﻢ ﻳﻘﺪﺭﻭﺍ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﻟﻮ ﺟﻬﺪﻭﺍ ﺃﻥ ﻳﻀﺮﻭﻩ ﺑﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﻀﻪ ﺍﻟﻠﻪ ‏[ ﻋﻠﻴﻪ ‏] ﻟﻢ ﻳﻘﺪﺭﻭﺍ . ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻭﺭﺩ ﺑﻪ ﺧﺒﺮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ‏[ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ‏] ، ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﷺ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ : ﻭَﺇِﻥ ﻳَﻤْﺴَﺴْﻚَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺑِﻀُﺮٍّ ﻓَﻼَ ﻛَﺎﺷِﻒَ ﻟَﻪُ ﺇِﻻَّ ﻫُﻮَ ﻭَﺇِﻥ ﻳُﺮِﺩْﻙَ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻓَﻼَ ﺭَﺁﺩَّ ﻟِﻔَﻀْﻠِﻪ ِ “

Ahlus-Sunnah bersaksi dan meyakini bahwa kebaikan dan kejelekan, manfaat dan mudlarat, serta manis dan pahitnya, terjadi dengan ketetapan dan takdir (qadar) Allah. Tidak ada yang dapat mencegahnya, menyimpangkannya, dan menjauhkannya. Seseorang tidak tertimpa sesuatu kecuali dengan ketentuan yang telah Rabbnya tuliskan untuknya. Seandainya seluruh makhluk berusaha keras untuk memberikan manfaat seseorang dengan sesuatu yang tidak Allah tetapkan untuknya, maka mereka tidak mampu melakukannya. Dan seandainya seluruh makhluk berusaha keras untuk memberikan mudlarat kepadanya dengan sesuatu yang tidak Allah tetapkan untuknya, maka mereka pun tidak mampu melakukannya. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wassalam Allah ‘azza wa jalla berfirman : “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya” (QS. Yuunus : 107)” [‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabul-Hadiits, hal. 70-71].

Beriman kepada takdir merupakan salah satu diantara rukun-rukun iman yang barangsiapa tidak beriman kepadanya, maka ia tidak disebut mukmin atau Ahlus-Sunnah. Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menetapkan adanya takdir Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman

: ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﻣِﻦْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺽِ ﻭَﻻ ﻓِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺇِﻻ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﻧَﺒْﺮَﺃَﻫَﺎ “

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuudh) sebelum Kami menciptakannya” [QS. Al-Hadiid : 22]

. ﺇِﻧَّﺎ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻩُ ﺑِﻘَﺪَﺭ ٍ “

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu berdasarkan takdir” [QS. Al-Qamar : 49].

ﻗُﻞْ ﻟَﻦْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻨَﺎ ﺇِﻻ ﻣَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻨَﺎ ﻫُﻮَ ﻣَﻮْﻻﻧَﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﻛَّﻞِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥ َ “

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” [QS. At-Taubah : 51]

ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﻘَﺪَّﺭَﻩُ ﺗَﻘْﺪِﻳﺮًﺍ “

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” [QS. Al-Furqaan : 2]

. ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺝٍ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻓَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻪُ ﺳُﻨَّﺔَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺧَﻠَﻮْﺍ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﻣْﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺪَﺭًﺍ ﻣَﻘْﺪُﻭﺭًﺍ “

Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku” [QS. Al-Ahzaab : 38].

Adapun dalam hadits

: ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻘَﺎﺩِﻳﺮَ ﺍﻟْﺨَﻠَﺎﺋِﻖِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﻠُﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﺑِﺨَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ﺳَﻨَﺔ ٍ “

Allah telah menulis seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653].

ﺇِﻥَّ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﻘَﻠَﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ : ﺍﻛْﺘُﺐْ ﻗَﺎﻝَ : ﺭَﺏِّ ﻭَﻣَﺎﺫَﺍ ﺃَﻛْﺘُﺐُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺍﻛْﺘُﺐْ ﻣَﻘَﺎﺩِﻳﺮَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔ ُ “

Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Allah ta’ala berfirman kepadanya : ‘Tulislah’. Pena bertanya : ‘Wahai Rabbku, apa yang mesti aku tuliskan?’. Allah ta’ala berfirman : ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga datang hari kiamat” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2155 & 3319, Abu Daawud no. 470 ; dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 3/148]

ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﺃَﺑِﻲ ﻧﺎ ﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞُ، ﻋَﻦْ ﻣَﻨْﺼُﻮﺭِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟْﻐُﺪَﺍﻧِﻲِّ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ ﻟِﻠْﺤَﺴَﻦِ ﻗَﻮْﻟُﻪُ : ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﻣِﻦْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻭَﻻ ﻓِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺇِﻻ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﻧَﺒْﺮَﺃَﻫَﺎ، ﻗَﺎﻝَ : ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺸُﻚُّ ﻓِﻲ ﻫَﺬَﺍ، ﻛُﻞُّ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﻓَﻔِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺒْﺮَﺃَ ﺍﻟﻨَّﺴَﻤَﺔ َ

Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Ismaa’iil (bin ‘Ulayyah), dari Manshuur bin ‘Abdirrahmaan Al-Ghudaaniy, ia berkata : Aku bertanya kepada Al-Hasan (Al-Bashriy) tentang firman-Nya : ‘Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya’ (QS. Al-Hadiid : 22), ia berkata : “Subhaanallah, dan siapakah yang meragukan ayat ini ?. Semua musibah yang terjadi antara langit dan bumi, maka itu telah ditetapkan dalam Kitab Allah (Lauh Mahfuudh) sebelum Allah menciptakan manusia” [Diriwayatkan ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 961; sanadnya hasan]

ﻋَﻦْ ﻋُﻤَﺮ ﺑْﻦ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ، ﺃﻥَّ ﺟِﺒْﺮﻳْﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮْﻧِﻲ ﻋَﻦِ ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥِ، ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻥْ ﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘِﻪِ، ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪِ، ﻭَﺭُﺳُﻠِﻪِ، ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ، ﻭَﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩِ ﻭَﺷَﺮِّﻩ ِ

Dari ‘Umar bin Al-Khaththaab : Bahwasannya Jibriil ‘alaihis-salaam pernah berkata kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Lalu khabarkanlah kepadaku tentang iman”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada taqdir yang baik maupun yang buruk ” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 8]

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﺍﻟْﻘَﻮِﻱُّ ﺧَﻴْﺮٌ ﻭَﺃَﺣَﺐُّ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺍﻟﻀَّﻌِﻴﻒِ، ﻭَﻓِﻲ ﻛُﻞٍّ ﺧَﻴْﺮٌ ﺍﺣْﺮِﺹْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻚَ، ﻭَﺍﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌْﺠَﺰْ، ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﺷَﻲْﺀٌ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻘُﻞْ : ﻟَﻮْ ﺃَﻧِّﻲ ﻓَﻌَﻠْﺖُ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ، ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻗُﻞْ : ﻗَﺪَﺭُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﻓَﻌَﻞَ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻟَﻮْ ﺗَﻔْﺘَﺢُ ﻋَﻤَﻞَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥ ِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Orang mukmin yang kuat lebih baik daripada orang mukmin, dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (musibah), maka jangan katakan : ‘Seandainya aku melakukan demikian, niscaya akan begini dan begitu’. Akan tetapi ucapkanlah : ‘(Ini adalah) takdir Allah. Apa saja yang Ia kehendaki, niscaya Ia akan melakukannya.

Sesungguhnya perkataan ‘seandainya’ membuka pintu setan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2664].

ﻋَﻦْ ﻃَﺎﻭُﺱٍ، ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﺩْﺭَﻛْﺖُ ﻧَﺎﺳًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ : ﻛُﻞُّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑِﻘَﺪَﺭٍ، ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﺳَﻤِﻌْﺖُ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦَ ﻋُﻤَﺮَ، ﻳَﻘُﻮﻝُ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﻛُﻞُّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑِﻘَﺪَﺭٍ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟْﻌَﺠْﺰِ ﻭَﺍﻟْﻜَﻴْﺲِ، ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻜَﻴْﺲِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺠْﺰ ِ

Dari Thaawus, ia berkata : Aku berjumpa dengan orang-orang dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka berkata : “Segala sesuatu berdasarkan takdir”. Thaawus melanjutkan : Dan aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Segala sesuatu berdasarkan takdir hingga orang yang lemah dan orang yang cerdas, atau orang yang cerdas dan orang yang lemah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2655].

An-Nawawiy rahimahullah berkata menjelaskan makna hadits di atas

: ﻭَﻣَﻌْﻨَﺎﻩُ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰ ﻗَﺪْ ﻗَﺪَّﺭَ ﻋَﺠْﺰﻩ ، ﻭَﺍﻟْﻜَﻴِّﺲ ﻗَﺪْ ﻗَﺪَّﺭَ ﻛَﻴْﺴﻪ “

Maknanya, bahwa orang yang lemah telah ditakdirkan kelemahannya dan orang yang cerdas telah ditakdirkan kecerdasannya” [Syarh Shahiih Muslim, 16/205].

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru