Iklan Atas Zona Muslim

Bolehkah Laki-Laki Kencing Berdiri?
4/ 5 stars - "Bolehkah Laki-Laki Kencing Berdiri?" Islam sangat memperhatikan masalah adab dalam segal sesuatunya, termasuk adab saat buang air besar maupun kecil. Bolehkah seorang laki-la...

Bolehkah Laki-Laki Kencing Berdiri?



Islam sangat memperhatikan masalah adab dalam segal sesuatunya, termasuk adab saat buang air besar maupun kecil. Bolehkah seorang laki-laki kencing sambil berdiri? Dalam bab ini terdapat lima hadits tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiga hadits shahih.

Pertama: adalah tentang ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang mengingkari jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah buang air kecil berdiri.

Kedua: hadits tentang beliau yang buang air kecil berdiri.

Ketiga; hadits tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kencing dalam posisi duduk. Sedangkan dua hadits lainnya adalah hadits dhaif. Salah satunya adalah hadits tentang larangan kencing berdiri. Hadits yang lain mensifati bahwa kencing berdiri merupakan sebagian tanda bebalnya perilaku. Berikut ini kelima hadits tersebut:

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ia berkata:

مَنْ حَدَّثكَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُولُ قَائِمًا ، فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ, مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ قَاعِدًا

“Siapa yang memberitahumu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kencing berdiri maka jangan kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan posisi duduk”. (HR At-Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu ia berkata:

أنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انتهى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ " فَبَالَ قَائِمًا ، فَتَنَحَّيْتُ عَنْهُ ، فَقَالَ : ادْنُهُ ، فَدَنَوْتُ إِلَيْهِ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ فتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفِّيهِ

“Bahwa Rasulullah selesai dari (mendatangi) suatu kaum, setelah itu beliau kencing berdiri. Kemudian aku menjauhinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: dekatkan (air itu)”. Aku kemudian mendekatkannya hingga aku berdiri dibelakangnya. Kemudian beliau berwudhu dan mengusap khufnya” (Hadits Riwayat: Al-Bukhari)

3. Diriwayatkan dari Abrurrahman bin Hasanah radhiallahu ‘anhu ia berkata:

‏‏خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ الله ‏ ‏صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَفِي يَدِهِ كَهَيْئَةِ ‏ ‏الدَّرَقَةِ ‏ ‏فَوَضَعَهَا ثُمَّ جَلَسَ خَلْفَهَا فَبَالَ إِلَيْهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami dan di tangannya terdapat sesuatu seperti bentuk tameng. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkannya kemudian duduk di belakangnya dan kencing (menghadap ke tameng tersebut) (Hadits Riwayat: Abu Daud)

4. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dari ‘Umar radhiallahu 'anhuma ia berkata:

رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبُولُ قَائِمًا ، فَقَالَ : " يَا عُمَرُ لَا تَبُلْ قَائِمًا فَمَا بُلْتُ قَائِمًا بَعْدُ

“Rasulullah melihatku kencing berdiri, beliau lalu berkata: “Wahai ‘Umar jangan kencing berdiri”. Lalu sejak itu aku tidak pernah lagi kencing berdiri”. (Hadits Riwayat: Ibnu Majah)

5. Diriwayatkan dari Buraidah radhiallahu ‘anhu Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاثٌ مِنَ الْجَفَاءِ : أَنْ يَبُولَ الرَّجُلُ قَائِمًا ، أَوْ يَمْسَحَ جَبْهَتَهُ قَبْلَ أَنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلاتِهِ ، أَوْ يَنْفُخَ فِي سُجُودِهِ

“Tiga hal yang menyebabkan kerasnya perangai: kencing berdiri, mengusap kening sebelum selesai shalat dan menghembus-hembuskan nafas saat sujud”. (Hadits Munkar. Riwayat: Al-Bukhari dalam kitab At-Tarikh (496) dan Al-Bazzar (1/547). Al-Bukhari dan At-Tirmidzi mengingkarinya. Namun terdapat riwayat bahwa ini adalah perkataan Ibnu Mas’ud.)

Penulis berkata: Ada dua pendapat ulama tentang hadits-hadits di atas:

Pertama: Kencing berdiri hukumnya makruh jika tidak ada uzur. Diantara pendapat ini adalah ‘Aisyah, Ibnu Mas’ud, ‘Umar dalam satu riwayat, Abu Musa, Asy-Sya’bii, Ibnu ‘Ayyinah radhiallahu 'anhum, para pengikut Hanafi dan pengikut Syafi’i.

Kedua: Boleh secara mutlak. Diantara pendapat ini ialah ‘Umar. Dalam riwayat lainnya, ‘Ali , Zaid bin Tsabit , Ibnu ‘Umar, Sahal bin Sa’ad, Anas, Abu Hurairah, Hudzaifahradhiallahu 'anhum dan para pengikut mazhab Ahmad bin Hanbal.

Ketiga: Jika berada ditempat yang lunak yang sekiranya najis tidak memercik ke arahnya maka boleh kencing berdiri. Ini menurut mazhab Imam Malik dan pendapat ini dianggap kuat oleh Ibnul Mundzir.

Penulis berkata: Pendapat yang rajih adalah tidak dimakruhkan kencing berdiri selama aman dari percikan kencing. Pendapat ini dipilih karena sebab berikut:

Tidak ada satupun riwayat shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang hal itu.

Bahwa terdapat dua riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kencing duduk tidak berarti menunjukkan larangan kencing berdiri. Melainkan riwayat itu menunjukkan boleh keduanya.

Adanya hadits yang mengatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kencing berdiri.

Perkataan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang mengatakan tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kencing berdiri adalah sesuai apa yang diketahuinya di dalam rumah. Hal itu tidak menutup kemungkinan beliau kencing berdiri di luar rumah. Kaidahnya adalah orang yang tidak mengetahui seseuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada.

Hudzaifah dan Shahabat lainnya yang mengetahui Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam kencing berdiri adalah bukti bagi orang yang belum pernah mengetahui Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam kencing berdiri. Sesuatu yang sudah ada atau jelas harus diutamakan ketimbang sesuatu yang belum ada atau belum jelas. Wallahu A’lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru