Iklan Atas Zona Muslim

Beriman Kepada Taqdir Adalah Ciri Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
4/ 5 stars - "Beriman Kepada Taqdir Adalah Ciri Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah" Beriman Kepada Takdir Adalah Ciri Ahlus Sunnah Beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk merupakan ciri khas Ahlus-Sunnah sepanjan...

Beriman Kepada Taqdir Adalah Ciri Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah



Beriman Kepada Takdir Adalah Ciri Ahlus Sunnah
Beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk merupakan ciri khas Ahlus-Sunnah sepanjang masa dan merupakan salah satu diantara ciri mereka yang paling menonjol.

Allah ta’ala berfirman :

: ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺯَﻳَّﻦَ ﻟِﻜَﺜِﻴﺮٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻗَﺘْﻞَ ﺃَﻭْﻻﺩِﻫِﻢْ ﺷُﺮَﻛَﺎﺅُﻫُﻢْ ﻟِﻴُﺮْﺩُﻭﻫُﻢْ ﻭَﻟِﻴَﻠْﺒِﺴُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺩِﻳﻨَﻬُﻢْ ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠُﻮﻩُ ﻓَﺬَﺭْﻫُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻔْﺘَﺮُﻭﻥ َ “

Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan” [QS. Al-An’aam : 137].

ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎ ﺍﻗْﺘَﺘَﻞَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﺗْﻬُﻢُ ﺍﻟْﺒَﻴِّﻨَﺎﺕُ ﻭَﻟَﻜِﻦِ ﺍﺧْﺘَﻠَﻔُﻮﺍ ﻓَﻤِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﺁﻣَﻦَ ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻛَﻔَﺮَ ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎ ﺍﻗْﺘَﺘَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻣَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪ ُ “

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” [QS. Al-Baqarah : 253]

ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺠَﻌَﻠَﻬُﻢْ ﺃُﻣَّﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳُﺪْﺧِﻞُ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻓِﻲ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪ ِ “

Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya” [QS. Asy-Syuuraa : 8].

Bahkan Allah ta’ala telah menetapkan bahagia celaka, serta kemana tempat kembali seseorang kelak (surga atau neraka) berdasarkan hadits

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ ﻗَﺘَﺎﺩَﺓَ ﺍﻟﺴُّﻠَﻤِﻲِّ، ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﷺ ﻳَﻘُﻮﻝُ : " ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺧَﻠَﻖَ ﺁﺩَﻡَ، ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ ﻣِﻦْ ﻇَﻬْﺮِﻩِ، ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﻟَﺎ ﺃُﺑَﺎﻟِﻲ، ﻭَﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﻟَﺎ ﺃُﺑَﺎﻟِﻲ ." ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻗَﺎﺋِﻞٌ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻓَﻌَﻠَﻰ ﻣَﺎﺫَﺍ ﻧَﻌْﻤَﻞُ؟ ﻗَﺎﻝَ : " ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻮَﺍﻗِﻊِ ﺍﻟْﻘَﺪَﺭِ "

Dari ‘Abdurrahmaan bin Qataadah As-Sulamiy, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam, kemudian ia menciptakan makhluk (yaitu keturunannya) dari tulang punggungnya seraya berfirman : ‘Mereka akan berada di surga sedangkan Aku tidak peduli; dan mereka akan berada di neraka, sedangkan Aku tidak peduli”. Seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, lantas atas dasar apa kita beramal ?”. Beliau ﷺ menjawab : “Di atas dasar/pijakan qadar” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/186, Ibnu Hibbaan no. 338, Al-Haakim 1/31, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dkk. dalam Takhriij Musnad Al-Imaam Ahmad 29/206]

ﻋَﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢِ ﺑْﻦِ ﻳَﺴَﺎﺭٍ ﺍﻟْﺠُﻬَﻨِﻲِّ، ﺃَﻥَّ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦَ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔِ ﻭَﺇِﺫْ ﺃَﺧَﺬَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻣِﻦْ ﺑَﻨِﻲ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻇُﻬُﻮﺭِﻫِﻢْ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺮَﺃَ ﺍﻟْﻘَﻌْﻨَﺒِﻲُّ ﺍﻟْﺂﻳَﺔَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﷺ ﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﷺ " : ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺧَﻠَﻖَ ﺁﺩَﻡَ، ﺛُﻢَّ ﻣَﺴَﺢَ ﻇَﻬْﺮَﻩُ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻪِ، ﻓَﺎﺳْﺘَﺨْﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻟِﻠْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﺑِﻌَﻤَﻞِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻣَﺴَﺢَ ﻇَﻬْﺮَﻩُ ﻓَﺎﺳْﺘَﺨْﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﻟِﻠﻨَّﺎﺭِ، ﻭَﺑِﻌَﻤَﻞِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻔِﻴﻢَ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﷺ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺇِﺫَﺍ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ ﻟِﻠْﺠَﻨَّﺔِ ﺍﺳْﺘَﻌْﻤَﻠَﻪُ ﺑِﻌَﻤَﻞِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻤُﻮﺕَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻤَﻞٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻓَﻴُﺪْﺧِﻠَﻪُ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺭِ ﺍﺳْﺘَﻌْﻤَﻠَﻪُ ﺑِﻌَﻤَﻞِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻤُﻮﺕَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻤَﻞٍ ﻣِﻦْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻓَﻴُﺪْﺧِﻠَﻪُ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ "

Dari Muslim bin Yasaar Al-Juhaniy : Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab pernah ditanya tentang ayat ini : ‘Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka’ (QS. Al-A’raaf : 172).

Al-Qa’nabiy membaca ayat tersebut - . Maka ‘Umar berkata : Aku mendengar Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang ayat tersebut, lalu bersabda : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam, lalu Ia mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, dan mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya. Allah berfirman : ‘Aku telah menciptakan mereka untuk dimasukkan ke dalam surga dengan amalan penduduk surga, dan mereka pun mengamalkannya.’. Kemudian Allah mengusap punggungnya lagi, lalu mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, dan Allah berfirman : ‘Aku telah menciptakan mereka untuk neraka dengan amalan penduduk neraka, dan mereka pun mengamalkannya”. Ada seorang laki-laki bertanya : "Wahai Rasulullah, lantas apa gunanya beramal?”. Maka Rasulullah ﷺ menjawab : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla apabila menciptakan seorang hamba untuk surga, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan penduduk surga, hingga ia mati dalam keadaan beramal dengan amalan-amalan penduduk surga, lalu ia dimasukkan ke dalam surga dengan amalan tersebut. Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan penduduk neraka, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan penduduk neraka, lalu ia dimasukkan ke dalam neraka dengan amalan tersebut” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3075, Abu Daawud no. 4703, Ahmad 1/44-45, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 3/149-150 dan Al-Arna’uth dalam Takhriij Musnad Al-Imaam Ahmad 1/399-400].

 ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮٍ، ﻗَﺎﻝَ : ﺟَﺎﺀَ ﺳُﺮَﺍﻗَﺔُ ﺑْﻦُ ﻣَﺎﻟِﻚِ ﺑْﻦِ ﺟُﻌْﺸُﻢٍ، ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺑَﻴِّﻦْ ﻟَﻨَﺎ ﺩِﻳﻨَﻨَﺎ ﻛَﺄَﻧَّﺎ ﺧُﻠِﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﺂﻥَ، ﻓِﻴﻤَﺎ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ؟ ﺃَﻓِﻴﻤَﺎ ﺟَﻔَّﺖْ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺄَﻗْﻠَﺎﻡُ ﻭَﺟَﺮَﺕْ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺩِﻳﺮُ؟ ﺃَﻡْ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻧَﺴْﺘَﻘْﺒِﻞُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﺎ، ﺑَﻞْ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺟَﻔَّﺖْ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺄَﻗْﻠَﺎﻡُ ﻭَﺟَﺮَﺕْ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺩِﻳﺮُ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻔِﻴﻢَ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﻋْﻤَﻠُﻮﺍ، ﻓَﻜُﻞٌّ ﻣُﻴَﺴَّﺮٌ "

Dari Jaabir, ia berkata : Suraaqah bin Maalik bin Ju’syum datang dan berkata : “Wahai Rasulullah, berikanlah penjelasan kepada kami tentang agama kami, seakan-akan kami baru diciptakan sekarang. Untuk apakah kita beramal hari ini?. Apakah itu terjadi pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?”. Beliau ﷺ menjawab : “Bahkan pada hal-hal yang dengannya pena telah kering dan takdir yang berjalan”. Ia bertanya : “Lalu apa gunanya beramal?”. Beliau ﷺ bersabda : “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2648]

 ﻋَﻦْ ﻋِﻤْﺮَﺍﻥَ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻌْﻤَﻞُ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ؟، ﻗَﺎﻝَ : ﻛُﻞٌّ ﻣُﻴَﺴَّﺮٌ ﻟِﻤَﺎ ﺧُﻠِﻖَ ﻟَﻪ ُ

Dari ‘Imraan, ia berkata : Aku berkata : “Wahai Rasulullah, lantas untuk apa orang-orang yang beramal melakukan amalan mereka ?”. Beliau ﷺ : “Setiap orang akan dimudahkan (menuju jalan) penciptaannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7551].

Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim rahimahullah berkata:

 ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﺃَﺑِﻲ ﻭَﺃَﺑَﺎ ﺯُﺭْﻋَﺔَ ﻋَﻦْ ﻣَﺬَﺍﻫِﺐِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻓِﻲ ﺃُﺻُﻮﻝِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ، ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﻛَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀَ ﻓِﻲ ﺟَﻤِﻴﻊِ ﺍﻷَﻣْﺼَﺎﺭِ، ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﺘَﻘِﺪَﺍﻥِ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ، ﻓَﻘَﺎﻻ : ﺃَﺩْﺭَﻛْﻨَﺎ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀَ ﻓِﻲ ﺟَﻤِﻴﻊِ ﺍﻷَﻣْﺼَﺎﺭِ ﺣِﺠَﺎﺯًﺍ ﻭَﻋِﺮَﺍﻗًﺎ ﻭَﺷَﺎﻣًﺎ ﻭَﻳَﻤَﻨًﺎ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﻣَﺬْﻫَﺒِﻬِﻢُ : ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥُ ﻗَﻮْﻝٌ ﻭَﻋَﻤَﻞٌ، ﻳَﺰِﻳﺪُ ﻭَﻳَﻨْﻘُﺺُ، ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻛَﻼﻡُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﺨْﻠُﻮﻕٍ ﺑِﺠَﻤِﻴﻊِ ﺟِﻬَﺎﺗِﻪِ، ﻭَﺍﻟْﻘَﺪَﺭُ ﺧَﻴْﺮُﻩُ ﻭَﺷَﺮُّﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞّ َ

Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus-Sunnah dalam ushuuluddiin dan apa yang mereka temui tentang hal tersebut dari kalangan ulama di seluruh kota, serta apa yang mereka yakini dalam hal tersebut. Mereka berdua berkata : “Kami telah berjumpa dengan para ulama di seluruh kota baik di Hijaaz, ‘Iraaq, Syam, dan Yaman, maka diantara madzhab yang mereka anut adalah : iman itu perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang; Al-Qur’an adalah Kalaamullah, bukan makhluk dari semua sisinya; takdir yang baik dan yang buruk berasak dari Allah ‘azza wa jalla…” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 321].

 ‘Abdul-Ghaniy Al-Maqdisiy rahimahullah berkata :

ﻭﺃﺟﻤﻊ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﺎﻟﻘﺪﺭ ﺧﻴﺮﻩ ﻭﺷﺮﻩ، ﺣﻠﻮﻩ ﻭﻣﺮﻩ .... “

Para imam salaf dari kaum muslimin telah bersepakat tentang keimanan terhadap takdir yang baik dan yang buruk, yang manis dan yang pahit….” [Al-Iqtishaad fil-I’tiqaad, hal. 151].

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

ﻭَﻗَﺪْ ﺗَﻈَﺎﻫَﺮَﺕْ ﺍﻟْﺄَﺩِﻟَّﺔ ﺍﻟْﻘَﻄْﻌِﻴَّﺎﺕ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔ ﻭَﺇِﺟْﻤَﺎﻉ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔ ﻭَﺃَﻫْﻞ ﺍﻟْﺤَﻞِّ ﻭَﺍﻟْﻌَﻘْﺪِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒ ﻭَﺍﻟْﺨَﻠَﻒ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺛْﺒَﺎﺕ ﻗَﺪَﺭ ﺍﻟﻠَّﻪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧﻪ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ “

Dan telah nampak jelas dalil-dalil yang pasti dari Al-Qur’an, As-Sunnah, serta ijmaa’ para shahabat dan ahlul-halli wal-‘aqdiy (para ulama) dari kalangan salaf dan khalaf tentang penetapan takdir Allah subhaanahu wa ta’ala” [Syarh Shahiih Muslim, 1/155].

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru