Iklan Atas Zona Muslim

Apa Hukum Membeli Emas Tidak Tunai?
4/ 5 stars - "Apa Hukum Membeli Emas Tidak Tunai?" Pertanyaan ke 41 dari Ibu Suci Sari di Jakarta Tentang MEMBELI EMAS DENGAN TIDAK TUNAI Dijawab oleh : Ustadz DR. Erwandi Tarmizi, M...

Apa Hukum Membeli Emas Tidak Tunai?



Pertanyaan ke 41 dari Ibu Suci Sari di Jakarta

Tentang MEMBELI EMAS DENGAN TIDAK TUNAI

Dijawab oleh : Ustadz DR. Erwandi Tarmizi, MA

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ya ustadz, beberapa waktu yang lalu saya pernah mengajukan pertanyaan, Mohon untuk ada penjelasan kembali karena ada beberapa hal sebagai berikut:

Saya ulangi pertanyaan yang dulu sempat saya ajukan, ya Ustadz.

Saya dulu pernah membeli emas di sebuah toko emas di sebuah mall di Jakarta Utara, dan rumah saya di Jakarta Selatan, karena jauh lokasi dari rumah maka saya mengambil atau tidak membawa uang cash untuk membelinya, dan di mall tersebut saya mengambil sejumlah uang di ATM untuk membeli emas tersebut, namun ternyata penarikan uang di ATM terbatasi, dan kemudian karena khawatir takut membawa uang tunai tersebut ke luar dari mall, maka saya menitipkan uang tersebut sebagai DP dari pembelian emas.

Namun setelah pertanyaan kemaren diajukan bahwa DP tersebut, Ustadz menganjurkan dititipkan saja ke toko emas tersebut. Akan tetapi, toko emas tersebut adalah seorang yang bukan islam (non muslim) dalam hal ini, lalu bagaimanakah sikap terhadap kasus ini apakah ada sesuatu di dalam transaksi saya? Terimakasih, Ustadz.


Jawaban

BarakAllahu fiik,

Pertanyaanya sudah terjadi kan ya?!

Kalau sudah terjadi, ini namanya riba bai', membeli emas dengan tidak tunai, sah sebanyak DPnya, sisanya tidak sah, maka solusinya bagaimana? Solusinya, kembalikan emasnya, kemudian bawa uangnya dan lakukan akad lagi, terhadap sisanya.

Membawa uang tadi, karena ibu khawatir umpamanya dalam jumlah besar, bisa kan dengan menggunakan cek. Cek terjamin atau cek terdaftar, bikin ibu tulis cek, datang ke BANK penerbit buku cek itu, minta untuk di ...endorse atau untuk di legalisir. Dengan demikian, dengan cek, cukup ibu bayar dan cek ini dianggap tunai. Cek yang terdaftar dan terjamin, para ulama mengatakan ini dianggap tunai sebagaimana keputusan Majma'- al fiqh al islamy dan keputusan Hai’ah al-Muhasabah wa al-Muraja’ah li-al-Mu’assasah al-Maliyah al-Islamiyah (AAOIFI) .

Karena sudah terjadi maka solusinya (ialah, -pent) seperti yang saya katakan tadi.

Kalau belum terjadi bisa solusinya seperti yang dikatakan di awal, yaitu menitipkan uang, atau meminjamkan uang.

Menitipkan dan meminjamkan, itu bisa dilakukan sekalipun dengan non muslim, karena persyaratan muamalat tidak ada harus dengan muslim. Rasulullah shalllahu 'alaihi wassalam berjual beli dengan yahudi, dengan musuh padahal jual beli Rasulullah juga bukan dengan cara tunai, dengan cara hutang. Maka, akad mumalat, transaksi muamalat dengan non muslim tidak masalah.

Bila belum terjadi, maka seperti yang saya katakan tadi, uang ini kita katakan "ini saya pinjamkan" kemudian ditanda dengan cara penitipan, kemudian minta emasnya sebagai hutang, tapi seperti yang saya katakan tadi, 'urf umpamanya, bila 'urf tidak memungkinkan, dia tidak mau tahu "gimana saya utangi kamu emas, nggak mungkin" kata dia, kecuali kalau sudah saling kenal ya.

Maka, untuk solusi yang terbaik seperti yang saya katakan tadi bawalah dalam bentuk cek terjamin atau cek terdaftar. Dengan demikian, sama saja dengan uang tunai.

Sumber : Bimbingan Muamalah Maaliyah, DR Erwandi Tarmizi MA

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru