Iklan Atas Zona Muslim

Sosok Ksatria Granada Yang Tampan, Musa Bin Abil Ghassan Al-Andalusi
4/ 5 stars - "Sosok Ksatria Granada Yang Tampan, Musa Bin Abil Ghassan Al-Andalusi" Kemegahan kota Granada di Andalusia adalah sekeping sejarah bangsa mulia yang telah tua. Berabad-abad mereka mengibarkan bendera kea...

Sosok Ksatria Granada Yang Tampan, Musa Bin Abil Ghassan Al-Andalusi

Mas Admin

Kemegahan kota Granada di Andalusia adalah sekeping sejarah bangsa mulia yang telah tua. Berabad-abad mereka mengibarkan bendera keagungan dan menegakkan peradaban di lembah-lembah Andalus. Tapi di sini tersimpan inti kesedihan dan sejuta prahara memilukan. Granada yang sekian abad telah menunjukkan puncak kemegahannya dan menjadi pusat kerajaan Islam, tiba-tiba pada tahun 1491M harus mencopot baju kemegahannya. Banyak kisah keperwiraan dari ksatria-ksatria agung yang gugur sebagai syuhada dalam mempertahankan setiap jengkal tanah Granada.

Lebih suka mati seribu kali 

Musa bin Abil Ghassan adalah satu dari sekian pahlawan Andalus. Beliau adalah keturunan bangsawan di Granada. Sejak kecil, keluarga Abil Ghassan mendidik anak-anak mereka untuk memendam kebencian dan dendam kepada orang-orang kafir Spanyol. Demikian pula Musa. Hasil didikan orang tuanya telah mendarah daging dalam jiwanya. Ia lebih suka mati seribu kali ketimbang melihat negerinya dirampas orang-orang salibis Spanyol.

Musa memiliki kelebihan dalam rnenunggang kuda dan kemampuan bertempur sejak usia muda. Tak heran bila kelak ia menjadi komandan perang pasukan berkuda yang handal dalam pertempuran melawan pasukan. Spanyol. Dengan gayanya yang Khas serta ketampanan wajahnya, ditambah kejujuran dan kemuliaan sifatnya, Musa mampu menarik simpati rakyat untuk siap menjadi pendukungnya.

Kepahlawanannya

Sejak Raja Abu Abdillah naik tahta Granada, Musa banyak mengecam sengit atas tindakan raja itu. Raja Ferdinand memberi maklumat kepada Raja Abu Abdillah untuk menyerahkan kekuasaan Granada ke tangan Ferdinand. Raja Abu Abdillah bersedia tunduk pada Spanyol.

Musa al-Ghassan menolak keras permintaan Raja Ferdinand itu. Dengan lantang, ia menyatakan perang sabil bila Spanyol tetap pada keinginannya. Di saat itulah ia menjadi pujaan bangsanya. Dan seluruh pasukannya segera bernaung di bawah panji-panjinya. Mereka bangkit dengan semangat kepahlawanan. Saat itu, Musa mengatakan,

“Biar Spanyol mengerti, bahwa laki-laki Moor dilahirkan untuk menunggang kuda, mengayun lembing dan melempar tombak. Andai mereka menginginkan senjata kita, suruh Ferdinand datang dan mengambilnya sendiri. Tapi ia harus menebusnya dengan harga mahal. Bagiku, terkubur di bawah tembok Granada lebih baik daripada hidup dalam keranda indah di tengah istana, namun harus menyerahkan kehormatan diri kepada musuh kafir.”

Secepat kilat jiwa penduduk Granada berkobar dan berapi-api.

Semangat perang sabil membakar seluruh Granada. Musa segera mengambil kendali. Seluruh pasukan Granada telah siap untuk melakukan pertempuran besar. Mau tak mau Raja Abu Abdullah bersama para pembesar kerajaan lainnya terbawa arus pemikiran Musa. Dikirimlah surat balasan kepada Raja Ferdinand, bahwa Rakyat Granada akan bertempur hingga tetes darah terakhir. Gemuruh peperangan menggema di seluruh penjuru Granada. Musa al-Ghassan maju ke muka memegang pimpinan angkatan berkuda. Berkali-kali Musa mengarahkan mereka ke benteng musuh yang berdekatan, hingga nama Musa al-Ghassan menjadi sosok yang menyeramkan bagi orang-orang Spanyol

Terkepung

Kepulangan Musa selalu membawa kemenangan yang gilang gemilang. Ini membuat Raja Ferdinand menjadi geram dan marah, Ferdinand segera memerintahkan pasukannya untuk membumihanguskan sawah-ladang kaum muslimin. Akan tetepi, dengan lihai, Musa melakukan serangan balik untuk menyiksa musuh dan memutuskan perhubungan serta merampas alat-alat dan perbekalan mereka.

Namun, tanpa diketahui Musa, angkatan perang Nasrani telah menguasai lembah Xenil dan mengepung kaum muslimin dari berbagai penjuru. Akibatnya, Granada terjepit dalam posisi yang sangat menyulitkan. Benteng-benteng kaum muslimin seperti Baza, Anderex dan Guadix telah dikuasai pasukan Spanyol. Kapal-kapal Spanyol berjaga di tapal batas perairan Giblatar guna menghalangi setiap bantuan yang datang kepada kaum muslimin.

Penderitaan kaum muslimin di Granada semakin parah. Suatu ketika Abul Kasim Malik selaku Gubernur Granada mengatakan bahwa persediaan bahan pangan hanya cukup untuk beberapa bulan lagi. Keputusasaan telah menyelinap di setiap dada rakyat Granada, dan bertahan adalah suatu usaha yang sia-sia.

Betapa marah Musa mendengar penuturan Abul Kasim. Ia menentang keras pemikiran itu. Dengan sikap ksatrianya, Musa terus memberi dorongan dan semangat kepada rakyat Granada untuk tetap melanjutkan pertempuran. Akhirnya, Raja Abu Abdillah dan sebahagian besar pembesar kerajaan kembali hanyut dalam pemikiran Musa al-Ghassan.

Tak Kenal Menyerah 

Tentara Spanyol semakin beringas dan bernafsu untuk mengepung kota Granada. Namun pasukan Musa telah siap menerimanya dengan serangan yang lebih dahsyat. Pasukan Spanyol cerai berai.

Ferdinand segera mengatur siasat terbarunya. Pasukannya di putar untuk menyerbu benteng dan tembok Granada. Akibatnya, sungguh mengerikan. Banyak sekali rakyat yang gugur. Begitupun pasukan Musa, banyak yang syahid.

Pasukan pengawal raja banyak yang mundur dari medan pertempuran. Mereka berlari menuju Tembok Granada. Raja Abu Abdillah mendahului di depan mereka. Akibatnya, di medan pertempuran, Musa hanya ditemani oleh beberapa pasukan setianya. Dengan terpaksa, ia kembali ke dalam kota dengan penuh amarah dan kecewa yang luar biasa. Ia amat menyesalkan tindakan orangorang yang mundur dari medan pertempuran itu.

Setelah itu pintu gerbang ditutup oleh kaum muslimin. Dengah penuh kedukaan dan kepasrahan, mereka hanya dapat menunggu taqdir. Rupanya, kebuasan pasukan Spanyol tidak hanya sampai di situ. Mereka memperkuat pengepungan dan memutuskan segala hubungan. Benar-benar kaum muslimin berada dalam penderitaan yang luar biasa.

Kelaparan dan kepapaan melebur di tengah serangan penyakit yang merajalela. Raja Abu Abdillah mengundang majlis panglima, ulama serta orang-orang terkemuka. Dalam suasana mencekam mereka berkumpul di ruangan Alhambra. Kembali Abu Kasim mengutarakan akan tpisnya persediaan bahan pangan kaum muslimin dan keputusasaan yang telah menyelinap di seluruh dada kaum muslimin. Akhirnya dengan suara bulat, mereka memutuskan untuk menyerah dan menerima perjanjian dengan Spanyol. Namun, Musa Ghassan tak lengah membiarkan mereka menyerahkan Granada begitu saja. Ia menolak keras keputusan tersebut. Dengan suara lantang ia mengatakan,

“Terlalu pagi rasanya untuk mengeluarkan kata menyerah. Jalan dan usaha kita jelas belum habis; justru sekaranglah kita akan mendapatkan sumber kekuatan yang terbesar. Kekuatan tenaga terpendam yang amat dahsyat, yang hasilnya akan membawa kita pada pintu kemenangan. Yang kumaksud sumber itu adalah keputusasaan itu! Mari kita kerahkan semua penduduk! Mari kita persenjatai mereka, Dan mari kita berjuang hingga nafas terakhir ...! Ketahuilah, aku sangat ingin masuk dalam kelompok orang-orang yang gugur dalam mempertahankan Granada daripada hidup berputih mata karena menyaksikan penyerahan Granada ke tangan musuh...”

Tapi kali ini ucapan Musa sudah tak lagi dapat membakar semangat rakyat Granada. Keputusasaan yang luar biasa kini menyelimuti mereka. Keperwiraan sudah tak berharga lagi. Kepahlawanan sudah terkubur dalam kerapuhan semangat sebahagian pembesar kerajaan. Mereka hanya menunggu keputusan orang-orang tua.

Perjanjian Damai 

Perjanjian damai itu terwujud juga. Kota Granada diserahkan ke tangan Ferdinand.
Sebagian isi perjanjian itu adalah:

1. Semua tawanan Spanyol akan dibebaskan tanpa syarat.

2. Kaum muslimin akan dijamin keselamatan dirinya.

3. Kaum Nasrani menjamin keselamatan jiwa, harta dan kehormatan serta memberi kebebasan beribadah kepada kaum muslimin.

4. Kaum muslimin tak akan diperintah oleh Yahudi maupun Nasrani

5. Kaum muslimin diberi kebebasan untuk menyeberang ke Afrika dengan perahu yang telah disediakan oleh Spanyol

Musa hanya tersenyum sinis terhadap perjanjian damai itu, seakan hatinya ingin segera melihat apa yang terjadi setelah perjanjian ini. Memang demikianlah isi perjanjian tersebut, dan begitulah syarat-syarat yang diakui dalam penyerahan Granada ke tangan Ferdinand. Tak usah dibantah bahwa semua itu syarat terbaik yang dicapai dalam suasana sulit seperti ini.

Sebelumnya, Musa al-Ghassan pernah meramalkan bahwa selamanya takkan pernah ada perampok yang ingin berdamai. Belum lagi kering tinta yang digunakan untuk menulis bait-bait perjanjian tersebut, Ferdinand telah melanggar satu per satu perjanjian tersebut. Dan akhirnya tak satu pun dari perjanjian yang menguntungkan kaum muslimin yang tak dikhianati. Raja Abu Abdillah baru sadar akan kekeliruannya. Namun sudah terlambat. Semua rakyat kecewa. Banyak di antara mereka yang tak mampu menahan tangis. Hanya Musa sendiri yang tenang. Ia mengatakan,

“Kawan-kawan, serahkanlah keluhan dan ratapan ini kepada anak-anak dan perempuan yang tak berdaya. Kita adalah laki-laki dan telah dewasa. Kita memang mempunyai hati. Tapi hati kita tak kita gunakan untuk mencucurkan air mata. Hati kita hanya untuk menumpahkan darah. Saya lihat bahwa semangat perang rakyat sudah menipis, hingga tak mungkin untuk menyelamatkan kerajaan.

Tapi masih ada satu kemungkinan bagi para bangsawan, yaitu mati sebagai ksatria. Marilah kita syahid dan membela kemerdekaan serta menghapus kedukaan Granada. Bumi ibu kita akan menerima putra-putranya dalam pangkuannya, terhindar dari rantai kaum penjajah. Seandainya seseorang tiada mempunyai kuburan untuk menyembunyikan mayatnya, maka seharusnya ia tak ingin lagi berlindung di kolong langit-Nya. Sebagaimana kita ketahui, Allah melarang bangsawan Granada lari dan takut mati dalarn mempertahankan bumi-Nya.

Musa berhenti bicara. Majlis pertemuan itu bening dan sepi. Raja Abdillah melihat sekeliling. Rupanya pada wajah-wajah mereka hanya tinggal keputusasaan. Kusut, kusam ditimpa penderitaan yang teramat dalam. Hati mereka patah. Semangat mereka padam.

Musa semakin muak melihat pengkhianatan para bangsawan itu. Dengan diam membisu, tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, ia melangkah panjang melalui ruangan singa dan terus maju menuju ruangan Alhambra. Ia segera menyiapkan senjata yang diperlukan. Ditungguinya kuda kesayangannya, terus keluar melalui gerbang Alhambra. Dan sejak itu, tak pernah terlihat lagi.”

Suatu sore, ada sepasukan tentara Spanyol lebih kurang 15 orang. Mereka menunggang kuda menyusuri sungai Xenil. Dalam cahaya senja, mereka melihat seorang Moor datang menghampiri dengan menunggang kuda. Orang tersebut memakai ketopong dari kepala hingga ujung kakinya. Wajahnya tertutup rapat hingga kedua matanya pun tak terlihat. Tombaknya mengacung menantang, sedang kudanya dilengkapi dengan ketopong besi.

Pasukan Spanyol memanggilnya. Tapi orang berkuda itu tak menyahut. Bahkan tiba-tiba ia menyerang dan menombak salah seorang pasukan higga mati. Sambil berputar-putar ia bersiap-siap untuk menyerang kembali dengan sebilah pedang bengkok. Pukulannya amat dahsyat. Ia menewaskan seorang lagi pasukan Spanyol. Namun ia tak dapat mengelak tatkala salah seorang pasukan menyerangnya. Salah satu bagian tubuhnya terluka. Tapi ia tak peduli. Ia masih bisa menghantam musuh-musuhnya.

Nyata sekali, ia bertempur untuk mencari mati dalam melepaskan dendam. Hampir separuh pasukan Spanyol itu tewas di tangannya. Tapi akhirnya pemuda Moor itu luka parah. Kudanya tersungkur karena tusukan tombak. Pemuda itu mencoba meneruskan perjuangannya dengan memainkan perisai tajamnya.

Akan tetapi dirinya merasa sudah tak kuat lagi menahan sakit. Ia tak sanggup lagi bertempur. Ia bertekad untuk tak mau ditawan. Dengan sisa tenaga, pemuda itu mencebur ke sungai Xenil. Sementara baju besinya membawanya tenggelam ke dasar sungai

Penunggang kuda yang perkasa dari suku Moor itu, tak lain ialah Musa bin Abil Ghassan al-Andalusi.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru