Iklan Atas Zona Muslim

Mimbar Khutbah Lebih Dari Tiga Tingkat Bid'ah?
4/ 5 stars - "Mimbar Khutbah Lebih Dari Tiga Tingkat Bid'ah?" Mengenai hukum mimbar lebih dari tiga tingkat, Imam Al Albani secara tegas mengatakan bahwa Mimbar yang lebih dari 3 tingkat adalah bid...

Mimbar Khutbah Lebih Dari Tiga Tingkat Bid'ah?




Mengenai hukum mimbar lebih dari tiga tingkat, Imam Al Albani secara tegas mengatakan bahwa Mimbar yang lebih dari 3 tingkat adalah bid’ah, beliau berkata dalam Ashlu Sifat Sholat Nabi (1/113 –pen. Maktabah al-Ma’aarif, Riyadh) :

ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺒﺮ؛ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﺍ ﺛﻼﺙ ﺩﺭﺟﺎﺕ، ﻻ ﺃﻛﺜﺮ، ﻭﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺑﺪﻋﺔ ﺃﻣَﻮِﻳَّﺔ

"Ini adalah Sunnah dalam mimbar, yaitu memiliki 3 tingkat, tidak lebih. Dan menambah lebih dari 3 tingkat adalah Bid’ahnya Bani Umayyah" -selesai-.

Bahkan ketika dikonfirmasi ulang oleh muridnya, Imam Al Albani tetap berpendapat bid’ahnya tambahan mimbar lebih dari 3 tingkat, dalam website (http://albanyimam.com/play.php?catsmktba=13007#) dinukil Tanya jawab beliau dengan salah satu muridnya:

Al-Halabiy : “engkau menyebutkan dalam sifat sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa tambahan pada mimbar lebih dari 3 tingkat adalah bid’ah. Kami mohon penjelasan terhadap masalah ini?

Baca juga : Inilah definisi Shalat Sunnah dan Macam-macamnya

Syaikh menjawab : “masalah ini tidak butuh penjelasan, karena mimbar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam memiliki 3 tingkat saja, sehingga menambahkan apa yang Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam telah memberinya petunjuk dan cahaya dalam perkara seperti ini, masuk kedalam bab “setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” -selesai-.

Sebelum beliau, Al Hafidz Ibnu Rojad dalam Fathul Bari (8/242 –Maktabah Darul Haromain, Kairo) sebagaimana dinukilkan oleh ikhwan di (http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-13007.html) telah menyebutkan beberapa ulama yang mengatakan bid’ahnya mimbar lebih dari ukuran seharusnya, beliau berkata :

"Yang shahih bahwa mimbar itu adalah 3 tingkat, hal tersebut terus berlangsung semenjak masa Khulaur Rosyidin, kemudian ditambahi oleh Mu’awiyyah Rodhiyallahu ‘anhu. Sebagian ulama menganggap menambah mimbar adalah bid’ah, diantara mereka adalah Ibnu Bathoh dari madzhab kami dan selainnya. Telah diriwayatkan dalam hadits marfu’ bahwa hal tersebut adalah diantara tanda kiamat, namun tidak shahih sanadnya. Sebagian Syafi’iyyah memakruhkan mimbar jika sangat besar, dimana masjidnya sempit" -selesai-.

Baca juga : Lengkap! Inilah pembahasan Hukum Membaca Ta'awudz dalam Shalat

Namun sebagian ulama memandang bahwa permasalahan 3 tingkat mimbar bukan perkara Ta’abudiyyah, hanya perkara mubah dan melihat kepada kebutuhannya. Hal ini dikatakan oleh asy-Syaikh Musthofa al-‘Adawiy dalam pelajaran Syarah Kitab Bid’ul Wahyu min Shahih Bukhori. Dalilnya kata beliau adalah pada awalnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berkhutbah di atas batang Kurma, kemudian ada salah seorang sahabat yang menawarkan untuk membuatkan mimbar yang dipakai oleh Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam untuk berkhutbah.

Imam Syafi’i dalam kitabnya al-Umm (1/228-229 –pen. Daarul Ma’rifah, Beirut) menyebutkan tentang kisah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berkhutbah diatas batang Kurma, kemudian salah seorang sahabat Beliau menawarkan untuk membuat mimbar, maka Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam pun menyetujuinya, kemudian dibuatkan mimbar dengan 3 tingkat yang senantiasa Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam gunakan untuk berkhutbah di masjid Beliau. Oleh karena itu, Imam Syafi’I memahami bahwa tingkatan mimbar ini bukan perkara Ta’abudiyyah, beliau berkata dalam kitabnya diatas (1/229) :

ﻓَﺒِﻬَﺬَﺍ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﻄُﺐَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻣُﺮْﺗَﻔِﻊٍ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻏَﻴْﺮِﻫَﺎ

"Oleh karenanya kami katakan, tidak mengapa seorang Imam berkhutbah di suatu tempat yang tinggi dari permukaan bumi atau semisalnya" -selesai-.

Barangkali atas hal ini, al-‘Alamah al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Rahimahullah, tidak berani untuk mengatakan bid’ahnya mimbar yang lebih dari 3 tingkat, beliau berfatwa :

"Kami tidak mampu untuk memutlakkan hal tersebut sebagai bid’ah, karena wanita yang memerintahkan budaknya untuk membuat mimbar 3 tingkat untuk Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, lalu dihadiahkan kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Namun kami katakan sesungguhnya 3 tingkat adalah yang paling utama dan paling sempurna, karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa telah memilihkan untuk Nabi-Nya Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam, dan disetujui juga oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, maka ini adalah sunnah qoul, fi’il dan taqriir.

Baca juga: Bolehkah Menjamak Shalat Jum'at dan Ashar Saat Safar?

Seandainya ditambahkan tingkatannya yang tidak sampai memutus shof -karena sebagian mimbar memutus 1 sampai 2 shoff-, maka kami tidak mampu untuk mengatakan itu bid’ah, namun kami menasehatkan dengan 3 tingkat, karena ini adalah pilihan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan disetujui oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam (http://www.djelfa.info/vb/archive/index.php/t-1675660.html#).

Bahkan secara khusus asy-Syaikh al-Muhaddits as-Sa’ad menyanggah pendapat yang mengatakan bahwa jumlah mimbar adalah Ta’abudiyyah, beliau berkata sebagaimana dinukil oleh salah seorang ikhwan :

ﻣﻼﺣﻈﺎﺕ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﺴﻌﺪ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻷﺳﺌﻠﺔ ﺍﻟﺠﺎﻣﻌﺔ ﺍﻟﻤﻘﺼﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﺒﺮ ﺇﻥ ﻳﺮﺍﻩ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﺎﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺻﻌﺪ ﺍﻟﺼﻔﺎ ﻭﺧﻄﺐ ﻭﺧﻄﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﺍﺑﻪ ﻭﻻ ﺷﻚ ﺍﻥ ﺍﻟﺪﺍﺑﺔ ﺃﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﺒﺮ ﺍﻧﻨﺎ ﻟﺴﻨﺎ ﻣﺘﻌﺒﺪﻳﻦ ﺑﻌﺪﺩ ﺍﻟﺪﺭﺟﺎﺕ ﻭﺍﻻ ﻛﻢ ﻣﻘﺪﺍﺭ ﻛﻞ ﺩﺭﺟﺔ

"Syaikh as-Sa’ad memberikan catatan terhadap kitab as’ilah Jamiah : “maksud dari mimbar adalah agar dapat dilihat manusia (ketika berkhutbah –pent.), maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah naik Shofa untuk berkhutbah dan pernah berkhutbah diatas hewan tunggangannya. Dan tidak diragukan lagi bahwa hewan tunggangan lebih tinggi dari mimbar. Sesungguhnya kita tidak beribadah dengan jumlah mimbar, jika seperti itu, maka berapa ukuran setiap tingkatnya?” (http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-53508.hhtm).

Oleh : Ust. Neno Triyono

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru