Iklan Atas Zona Muslim

Kajian Ilmiah : Penjelasan Bid'ah Dan Contohnya Ust. Abdul Somad Lc. Ma, (Bag. 2)
4/ 5 stars - "Kajian Ilmiah : Penjelasan Bid'ah Dan Contohnya Ust. Abdul Somad Lc. Ma, (Bag. 2)" Ijtihad Shahabat Setelah Rasulullah Saw Wafat. Ijtihad Abu Bakar: Pengumpulan al-Qur’an Dalam Satu Mush-haf. Dari ‘Ubaid bin as-Sabba...

Kajian Ilmiah : Penjelasan Bid'ah Dan Contohnya Ust. Abdul Somad Lc. Ma, (Bag. 2)



Ijtihad Shahabat Setelah Rasulullah Saw Wafat.


Ijtihad Abu Bakar: Pengumpulan al-Qur’an Dalam Satu Mush-haf.

Dari ‘Ubaid bin as-Sabbaq, sesunggunya Zaid bin Tsabit berkata, “Abu Bakar mengirim korban perang Yamamah (memerangi nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab) kepada saya. Umar bin al- Khaththab ada bersamanya.
Baca Juga Artikel Sebelumnya : Kajian Ilmiah : Bid'ah Dan Contohnya, Ust Abdul Somad Lc MA, (Bag. 1)
Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya Umar datang kepada saya, ia berkata, ‘Sesungguhnya pembunuhan pada perang Yamamah telah menghabiskan para penghafal al-Qur’an. Aku khwatir pembunuhan juga menghabiskan para penghafal al-Qur’an di negeri-negeri lain sehingga kebanyak al-Qur’an akan hilang. Menurut pendapatku, engkau perintahkan pengumpulan al- Qur’an”. Saya katakan kepada Umar, “Bagaimana mungkin engkau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah Saw?’. Umar menjawab, “Demi Allah ini perbuatan baik”. Umar terus membahas itu kepada saya hingga Allah melapangkan dada saya untuk melakukan itu, akhirnya saya melihat apa yang dilihat Umar”. Zaid berkata, “Abu Bakar berkata, ‘Engkau (wahai Zaid) seorang pemuda yang cerdas, kami tidak menuduhmu tidak benar. Engkau pernah menjadi penulis wahyu untuk Rasulullah Saw. Engkau mengikuti al-Qur’an. Maka kumpulkanlah al-Qur’an”. Zaid berkata, “Demi Allah, andai mereka membebankan kepadaku untuk memindahkan bukit, tidak ada yang lebih berat bagiku daripada apa yang ia perintahkan kepadaku untuk mengumpulkan al-Qur’an (dalam satu mush-haf)”. Saya (Zaid bin Tsabit) katakan, “Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah Saw?”. Abu Bakar berkata, “Demi Allah ini perbuatan baik”. Abu Bakar terus membicarakan itu kepadaku hingga Allah melapangkan dadaku sebagaimana Allah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar. Maka aku pun mengikuti dan mengumpulkan al-Qur’an dari pelepah kurma, batu yang tipis dan dada para penghafal al-Qur’an, hingga aku dapatkan akhir surat at-Taubah bersama Abu Khuzaimah al-Anshari, aku tidak mendapatkannya bersama seorangpun selain dia. Ayat: (متنع ام هيلع زيزع مكسعنأ نم لوسر مكءاج دقل ) hingga akhir surat Bara’ah (at-Taubah). Lembaran-lembaran al-Qur’an bersama Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Kemudian bersama Umar selama hidupnya. Kemudian bersama Hafshah puteri Umar. (HR. al-Bukhari).

Lihatlah bagaimana kekhawatiran Zaid bin Tsabit melakukan perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, yaitu membukukan al-Qur’an, karena Rasulullah Saw tidak pernah melakukan dan memerintahkannya. Namun ketika Abu Bakar mampu meyakinkan Zaid bin Tsabit bahwa perbuatan itu baik dengan ucapannya, (ريخ اللَّو وه ) “Demi Allah, perbuatan ini baik”. Zaid bin Tsabit pun dapat menerima.

Bid’ah Hasanah Umar: Shalat Tarawih Berjamaah.

Ucapan Umar ketika orang banyak berkumpul melaksanakan Qiyam Ramadhan dengan satu imam di masjid. Umar keluar melihat mereka melaksanakan shalat, Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.

Diriwayatkan dari Umar bahwa ia berkata, “Jika ini adalah bid’ah, maka inilah sebaik –baik bid’ah”.

Diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab bahwa Ubai bin Ka’ab berkata kepada Umar, “Sesungguhnya shalat Qiyam Ramadhan (Tarawih) berjamaah ini tidak pernah dilakukan sebelumnya”. Umar menjawab, “Saya telah mengetahuinya, tapi ini baik” 72.

Ubai bin Ka’ab amat khawatir melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan dan diajarkan Rasulullah Saw. Namun ketika Umar dapat meyakinkan Ubai dengan ucapannya, ( دق نسح هنكلو تملع ) “Saya mengetahuinya, tapi perbuatan ini baik”. Akhirnya Ubai dapat menerima dan ia menjadi imam shalat Tarawih berjamaah di Madina. Umar sendiri memuji, ( ةعدب هذه تناك نإ ةعدبلا تمعنف) “Jika ini perbuatan bid’ah, maka ini adalah sebaik-baik bid’ah”.

Takbir Berjamaah Pada Hari Nahr.

Sesungguhnya Umar bin al-Khaththab keluar di pagi hari Nahr (10 Dzulhijjah) ketika matahari mulai naik. Umar bertakbir, maka orang banyak pun ikut bertakbir mengikuti takbir Umar.

Kemudian Umar keluar lagi untuk yang kedua kali di hari yang sama setelah matahari naik. Umar bertakbir, orang banyak ikut bertakbir mengikuti takbir Umar.

Kemudian Umar keluar lagi untuk yang ketiga kali ketika matahari telah beralih. Umar bertakbir, maka orang banyak ikut bertakbir mengikuti takbir Umar. Hingga takbir itu bersambung dan sampai ke Baitullah. Dapatlah diketahui bahwa Umar telah keluar melontar Jumrah . (HR. Malik dalam al-Muwaththa’).

Doa Qunut Shubuh Buatan Umar.

Dari Sa’id bin Abdirrahman bin Abza, dar i Bapaknya, ia berkata, “Saya shalat Shubuh di belakang Umar bin Khatthab, saya mendengar ia berkata setelah membaca ayat sebelum ruku’:

“Ya Allah, kepada-Mu kami menyembah. Untuk-Mu kami shalat dan sujud. Kepada-Mu kami berusaha dan beramal. Kami mengharap rahmat-Mu dan takut akan azab-Mu. Sesungguhnya azab-Mu terhadap orang-orang kafir pasti terbukti menyertai mereka.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu dan memohon ampunan-Mu. Kami memuji-Mu atas semua kebaikan dan tidak kufur kepada-Mu. Kami beriman kepada-Mu dan tunduk kepada-Mu. Kami berlepas diri dari orang yang kufur kepada-Mu” (Hadits ini disebutkan Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, Imam Abdurazzaq dalam al-Mushannaf, Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra dan kitab Ma’rifat as-Sunan wa al- Atsar dan Imam ath-Thahawi dalam Tahdzib al-Atsar).

Talbiyah Buatan Umar.

Dari Abdullah bin Umar, sesungguhnya Talbiyah Rasulullah Saw adalah: Aku sambut panggilan-Mu ya Allah. Panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.

Abdullah bin Umar menambahkan:

Aku sambut panggilan-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Kebaikan di tangan-Mu. Aku sambut panggilan-Mu. Berharap kepada-Mu, juga amal. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Bid’ah Hasanah Utsman: Azan Pertama Shalat Jum’at.

Sesungguhnya adzan pertama hari Jum’at ditambah oleh Khalifah Utsman bin ‘Affan karena hajat manusia terhadap adzan tersebut. Kemudian kaum muslimin terus mengamalkannya 73.

Jawaban Iqamat Buatan Utsman.

Dari Qatadah, sesungguhnya apabila Utsman mendengar mu’adzin mengumandangkan adzan, ia mengucapkan seperti ucapan pada Tasyahhud dan Takbir secara keseluruhan. Ketika mu’ad zin mengucapkan: (ةلاصلا ىلع يح ).

Utsman menjawab: (لِلّاب لاإ ةوق لاو لوح لاو ، اللَّ ءاش ام ). Ketika mu’adzin mengucapkan: (ةلاصلا تماق دق ). Utsman menjawab: (لاهأو ابحرم ةلاصلابو ، اقدصو لادع نيلئاقلاب ابحرم ). Kemudian Utsman bangun untuk melaksanakan shalat. (HR. Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al- Kabir). Itu Bukan Bid’ah, Tapi Sunnah Khulafa’ Rasyidin!

Jika ada yang mengatakan bahwa semua perbuatan di atas adalah Sunnah Khulafa’ Rasyidin, karena Rasulullah Saw bersabda,

“Hendaklah kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Rasyidin”. (HR. Abu Daud, at- Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Memang benar, tapi jangan lupa, semua itu tetaplah amalan berdasarkan ijtihad Khulafa’ Rasyidin, karena wahyu tidak turun kepada mereka. Andai mereka menerima wahyu yang absolut tidak terbantahkan, tentulah Zaid bin Tsabit tidak ragu mengikuti ajak an Abu Bakar untuk membukukan al-Qur’an. Tentulah pula Ubai bin Ka’ab tidak ragu mengikuti ajakan Umar untuk menjadi imam Tarawih di Madinah. Maka perbuatan-perbuatan itu tetap masuk kategori bid’ah, tapi bid’ah hasanah.

Andai tidak setuju menggunakan kata Bid’ah, walau pun Umar mengucapkannya, pilihlah salah satu dari istilah yang dibuat oleh para ulama:


Nama Ulama

Istilah Untuk Perkara Baru Yang Tidak

Dilakukan Rasulullah Saw, Tapi Baik Menurut Syariat Islam.


Imam Syafi’i

Bid’ah Huda

Bid’ah Mahmudah

Bid’ah Ghair Madzmumah


Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam

Bid’ah Wajib

Bid’ah Mandub

Bid’ah Mubah


Imam an-Nawawi

Bid’ah Hasanah


al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani

Bid’ah Hasanah

DR.Abdul Ilah bin Husain al-‘Arfaj Sunnah Hasanah74

Kalau alergi dengan istilah Bid’ah Hasanah, saya pilih kata Bid’ah Mahmudah, mengikuti istilah Imam Syafi’i -rahimahullah- untuk menyebut suatu perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, tapi perbuatan itu baik menurut syariat Islam dan dilakukan oleh orang-orang shaleh setelah Rasulullah Saw:

Bid’ah Mahmudah Para Shahabat.

Berikut ini beberapa amalan yang dilakukan para Shahabat yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw, tidak pernah beliau ajarkan dan tidak pula beliau ucapkan. Tapi para shahabat melakukannya. Mereka tidak khawatir sedikit pun melakukannya, karena perbuatan itu Bid’ah Mahmudah.

Bid’ah Mahmudah Aisyah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Malikah, sesungguhnya Aisyah melaksanakan puasa sepanjang tahun75.

Bid’ah Mahmudah Abu Hurairah: 12.000 Tasbih Dalam Sehari.

Dari ‘Ikrimah, sesungguhnya Abu Hurairah bertasbih setiap hari sebanyak dua belas ribu kali tasbih76.

Dua Teriakan Dalam Sehari.

Dari Maimun bin Maisarah, ia berkata, “Abu Hurairah memiliki dua teriakan setiap hari; pagi dan petang. Abu Hurairah men gatakan, ‘Malam telah pergi, siang telah datang, keluarga Fir’aun dimasukkan di dalam neraka’. Tidak seorang pun yang mendengarnya melainkan memohon perlindungan kepada Allah Swt 77.

1000 Tasbih Sebelum Tidur.

Dari Abdul Wahid bin Musa, Nu’aim bin al-Muharrar bin Abi Hurairah meriwayatkan kepada kami, dari kakeknya (Abu Hurairah), sesungguhnya Abu Hurairah memiliki tali benang, pada tali benang itu ada seribu simpul. Abu Hurairah tidak tidur sebelum bertasbih menggunakan seribu simpul tali benang itu78.

Bid’ah Mahmudah Abdullah bin Abbas:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwa ia memerintahkan agar menuliskan ayat al-Qur’an untuk perempuan yang sulit melahirkan, kemudian air dari tulisan itu dimandikan dan diberikan sebagai minuman bagi perempuan tersebut79.

Bid’ah Mahmudah Abdullah bin az-Zubair:

Yusuf bin al-Majisyun meriwayatkan dari periwayat yang tsiqah (terpercaya) dengan sanadnya, ia berkata, “Ibnu az-Zubair membagi masa menjadi tiga malam. Satu malam ia shalat berdiri hingga shubuh. Satu malam ia ruku’ hingga shubuh. Dan satu malam ia sujud hingga shubuh” 80.

Tasyahhud Buatan Abdullah bin Umar.

Dari Ibnu Umar, dari Rasulullah Saw. Lafaz Tasyahhud adalah:

Ibnu Umar berkata, “Saya tambahkan: هتاكربو Kemudian lafaz:

Ibnu Umar berkata, “Saya tambahkan: هل كيرش لا هدحو”.

(HR. Abu Daud). Syekh al-Albani berkata: ينلاقسعلا ظفاحلا هرقأو ،ينطقرادلا لاق اذكو ،حيحص هدانسإ

“Sanadnya shahih, demikian dikatakan ad-Daraquthni, diakui oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani”81.

Tasyahhud Buatan Ibnu Mas’ud.

Dari asy-Sya’bi, ia berkata, “Ibnu Mas’ud berkata setelah: هتاكربو الله ةمحرو يبنلا اهيأ كيلع ملاسلا Ia ucapkan: انبر نم انيلع ملاسلا (Keselamatan untuk kita dari Rabb kita).

Komentar Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, “Disebutkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al- Kabir, para periwayatnya adalah para periwayat shahih”82.

Bid’ah Mahmudah Abu ad-Darda’: Tasbih 100.000 Kali Dalam Satu Hari:

Ditanyakan kepada Abu ad-Darda’ –ia tidak pernah berhenti berzikir-, “Berapa banyak engkau berzikir dalam sehari?”.

Abu ad-Darda’ menjawab, “Seratus ribu kali, kecuali jika jari jemari keliru” 83.

Shalat Sunnat Buatan Abu Dzar.

Dari Mutharrif, ia berkata, “Saya duduk bersama beberapa orang Quraisy. Seorang laki-laki datang, ia melaksanakan shalat, ruku’ dan sujud. Ia tidak duduk. Saya katakan, “Demi Allah, saya tidak tahu apakah orang ini tahu ia berhenti pada bilangan genap atau ganjil”. Mereka berkata, “Mengapa engkau tidak datang dan mengatakan itu kepadanya”. Lalu saya bangkit dan saya katakan, “Wahai hamba Allah, saya tidak melihat kamu berhenti pada bilangan genap atau ganjil”. Ia menjawab, “Tapi Allah Maha Mengetahui. Saya telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang sujud karena Allah satu kali sujud, Allah tuliskan baginya satu kebaikan, digugurkan darinya satu kesalahan dan diangkat untuknya satu tingkatan”. Saya katakan, “Siapakah kamu?”. Ia menjawab, “Abu Dzar”. Lalu saya kembali kepada sahabat-sahabat saya, saya katakan, “Semoga Allah Swt memberikan balasan kepada kalian dari teman-teman yang buruk. Kalian suruh saya mengajar salah seorang shahabat Rasulullah Saw”.

Dalam riwayat lain, “Saya melihatnya memperlama tegak, banyak ruku’ dan sujud. Lalu saya sebutkan itu kepadanya. Ia menjawab, “Aku berusaha untuk berbuat baik. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang ruku’ satu kali ruku’ atau sujud satu kali sujud. Maka Allah Swt mengangkatnya dengan itu satu tingkatan dan digugurkan satu kesalahannya”.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar seperti riwayat ini dengan beberapa Sanad. Para periwayatnya adalah para periwayat Shahih. Disebutkan Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath84. Komentar Syekh Syu’aib al-Arnauth dalam ta’liqnya terhadap kitab Musnad Ahmad,

فيعض دانسإ اذهو حيحص ثيدح

“Hadits shahih, sanad ini dha’if”85.

Bid’ah Dhalalah Shahabat.

Tapi tidak semua perbuatan shahabat itu dibenarkan. Karena mereka bukan ma’shum. Jika perbuatan mereka itu tidak bertentangan dengan Sunnah, maka diterima. Tapi jik a perbuatan itu bertentangan dengan Sunnah, maka wajib ditolak dan disebut sebagai bid’ah Dhahalah, seperti yang dilakukan Marwan ibn al-Hakam membuat khutbah sebelum shalat ‘Ied. Ini ditolak karena bertentangan dengan Sunnah:

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah Saw keluar pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha ke tempat shalat. Perkara pertama yang beliau lakukan adalah shalat. Kemudian bergeser, beliau berdiri menghadap orang banyak. Orang banyak dalam keadaan duduk pada shaf -shaf mereka. Rasulullah Saw memberikan nasihat kepada mereka, menyampaikan pesan dan memerintahkan mereka. Jika Rasulullah Saw ingin menghentikan, ia berhenti. Atau ia ingin memerintahkan sesuatu, beliau perintahkan. Kemudian Rasulullah Saw pergi.

Abu Sa’id berkata, “Kaum muslimin terus melakukan seperti itu, hingga kaum muslimin keluar bersama Marwan -ia adalah Amir kota Madinah- pada shalat Idul Adha atau Idul Fithri. Ketika kami sampai di tempat shalat, ada mimbar yang dibuat Katsir bin ash-Shalat. Marwan ingin naik ke atas mimbar sebelum shalat, maka saya menarik pakaiannya, ia balas menarik, kemudian ia naik dan menyampaikan khutbah sebelum shalat ‘Ied. Saya katakan kepadanya, “Demi Allah kalian telah merubah”. Marwan berkata, “Wahai Abu Sa’id, apa yang engkau ketahui telah berlalu”. Saya jawab, “Demi Allah, apa yang aku ketahui lebih baik daripada apa yang tidak aku ketahui”. Marwan berkata, “Sesungguhnya orang banyak tidak akan duduk bersama kami setelah shalat, maka saya buat khutbah sebelum shalat ‘Ied”. (HR. al-Bukhari).

Komentar al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani,

Dalam riwayat ini terkandung pengingkaran ulama terhadap para pemimpin (umara’) jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Sunnah86.

Bid’ah Mahmudah Golongan Salaf (Tiga Abad Pertama Hijrah):

Bid’ah Mahmudah Imam Zainal ‘Abidin: Shalat 1000 Rakaat Sehari Semalam.

Imam Zainal Abidin melaksanakan shalat sehari semalam sebanyak seribu rakaat hingga ia wafat. Ia disebut Zain al-‘Abidin (perhiasan para ahli ibadah), karena ibadahnya87.

Siapa Imam Zainal ‘Abidin?

Imam adz-Dzahabi memperkenalkannya,

Beliau adalah Ali bin al-Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf. Bergelar Zain al-‘Abidin, al-Hasyimi (keturunan Bani Hasyim), al-‘Alawy (keturunan Ali), al-Madani (lahir dan besar di Madinah). Kun-yah panggilan Abu al-Husain. Juga disebut Abu al-Hasan. Juga disebut Abu Muhamad. Juga disebut Abu Abdillah. Ibunya adalah sahaya bernama Salamah binti Sulafah puteri Raja Persia bernama Yazdajard. Ada juga menyebut namanya Ghazzalah. Ia lahir pada tahun 38 Hijrah, perkiraan. Ia meriwayatkan hadits dari al-Husain ayahnya yang mati syahid. Ia bersama dengan al-Husain pada peristiwa Karbala’, saat itu ia berusia 23 tahun88.

Bid’ah Mahmudah Imam Ali bin Abdillah bin Abbas (Anak Abdullah bin Abbas):

1000 Kali Sujud Dalam Sehari.

Diriwayatkan dari Imam al-Auza’i dan ulama lainnya bahwa Ali bin Abdillah bin Abbas shalat satu hari 1000 kali sujud89.

Siapa Imam Ali bin Abdillah bin Abbas? Imam adz-Dzahabi memperkenalkan,

Beliau adalah Imam Ali bin Abdillah bin Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf. Seorang imam. Ahli ibadah. Disebut Abu Muhammad. Al-Hasyimi (keturunan Bani Hasyim). Al-Madani (berasal dari Madinah). As-Sajjad (ahli sujud/ibadah). Dilahirkan pada tahun terbunuhnya Imam Ali bin Abi Thalib, lalu ia diberi nama dengan nama Imam Ali. Ia meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abbas ayah kandungnya. Ia juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abu Sa’id al-Khudri dan para shahabat lainnya90.

Bid’ah Mahmudah ‘Amir bin ‘Abd Qais:

Shalat Dari Terbit Matahari Sampai ‘Ashar.

‘Amir bin ‘Abd Qais selalu melaksanakan shalat dari sejak terbit matahari hingga waktu ‘Ashar. Kemudian setelah itu ia berhenti, hingga kedua kakinya bengkak. Ia berkata, “Wahai nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan, sesungguhnya engkau diciptakan hanya untuk beribadah!”91.

Siapa ‘Amir bin ‘Abd Qais?

Imam adz-Dzahabi memperkenalkan ‘Amir bin ‘Abd Qais:

‘Amir bin ‘Abd Qais, seorang suri tauladan, penolong agama Allah, seorang yang zuhud. Dipanggil Abu Abdillah. Ada juga yang mengatakan ia dipanggil Abu ‘Amr. Berasal dari Tamim. Orang ‘Anbar. Menetap di Bashrah (Irak). Meriwayatkan hadits dari Umar bin al-Khattab dan Salman al-Farisi. Para perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Imam al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Abu Abdirrahman al-Habli dan selain mereka. Ia jarang meriwayatkan.

Imam al-‘Ijli berkata, “Ia seorang yang tsiqah (terpercaya). Ahli ibadah dari kalangan Tabi’in. suatu ketika Ka’b al-Ahbar melihatnya, maka Ka’b al-Ahbar berkata, “Inilah rahib ummat ini”.

Abu ‘Ubaid berkata dalam al-Qira’at, “’Amir bin Abdillah yang dikenal dengan Ibnu ‘Abd Qais membacakan qira’at kepada manusia (ia ahli qira’at)”92.

Bid’ah Mahmudah Baqi bin Makhlad:

Khatam al-Qur’an Setiap Malam, Shalat Siang 100 Rakaat, Puasa Setiap Hari. Baqi bin Makhlad mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam dalam shalat 13 rakaat. Shalat seratus raaat di siang hari dan puasa sepanjang tahun93.

Siapa Baqi bin Makhlad?

Imam adz-Dzahabi memperkenalkan:

" Baqi bin Makhlad. Ibnu Yazid, seorang imam, seorang tauladan, bergelar Syaik hul Islam. Abu Abdirrahman, orang Andalusia, dari Cordova. Seorang al-Hafizh. Penulis kitab Tafsir dan al- Musnad (kitab hadits) yang tidak ada tandingannya. Lahir pada batas tahun dua ratus, atau sedikit sebelum itu94. Ini menunjukkan bahwa Imam Baqi bin Makhlad masih tergolong kalangan Salaf (tiga abad pertama Hijrah).

Selanjutnya Imam adz-Dzahabi berkata,

Imam Baqi bin Makhlad seorang imam mujtahid, shaleh, rabbani, jujur, ikhlas, induk dalam ilmu dan amal, tidak ada bandingannya, tidak banyak bergaul (karena ibadah), berfatwa berdasarkan atsar, tidak bertaqlid kepada seorang pun95.

Bid’ah Mahmudah Imam Ahmad bin Hanbal: 300 Rakaat Sehari Semalam.

Abdullah putra Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Ayah saya melaksanakan shalat sehari semalam sebanyak tiga ratus rakaat. Ketika ia sakit disebabkan cambukan (karena fitnah khalq al-Qur’an), membuatnya lemah, ia shalat sehari semalam sebanyak seratus lima puluh rakaat”96.

Berdoa Untuk Imam Syafi’i Dalam Shalat Selama 40 Tahun.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku mendoakan Imam Syafi’i dalam shalatku sejak empat puluh tahun”. Imam Ahmad bin Hanbal mengucapkan doa, “Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris asy-Syafi’i”97.

Bid’ah Mahmudah Sebagian Kalangan Salaf: Meminum Air Tulisan Ayat al-Qur’an.

Sekelompok kalangan Salaf berpendapat, ayat-ayat dari al-Qur’an dituliskan, kemudian airnya diminum. Imam Mujahid berkata, “Boleh hukumnya menuliskan ayat al-Qur’an, airnya dimandikan, diberikan kepada orang yang sakit”. Riwayat yang sama dari Abu Qilabah”98.

Bid’ah Mahmudah Kalangan Khalaf (Setelah Tiga Abad Pertama Hijrah):

Bid’ah Mahmudah Imam Ibnu Taimiah (661 – 728H).

Imam Ibnu Taimiah berkata,

Siapa yang mengamalkan empat puluh kali setiap hari antara shalat Sunnat Fajar dan Shalat Shubuh, “Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Mengatur. Tidak ada tuhan selain Engkau. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan”.

Maka ia mendapatkan kehidupan hati. Hatinya tidak akan mati99.

Jelas Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan doa ini, apalagi dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu dengan keutamaan tertentu. Ini adalah doa buatan Imam Ibnu Taimiah.

Kebiasaan Imam Ibnu Taimiah:

Ketika selesaih melaksanakan shalat, Imam Ibnu Taimiah memuji Allah ‘Azza wa Jalla, ia dan

orang-orang yang hadir, mengucapkan seperti yang disebutkan dalam hadits, ( كنمو ملاسلا تنا مهللا ماركلااو للاجلا اذ اي تكرابت ملاسلا ) “Engkaulah Maha Keselamatan, dari Engkau keselamatan, Maha Suci Engkau wahai Yang Memiliki kemuliaan dan keagungan”.

Kemudian Imam Ibnu Taimiah menghadap ke arah jamaah. Kemudian beliau membaca Tahlil yang ada dalam hadits. Kemudian bertasbih, tahmid dan takbir 33 kali. Beliau sempurnakan 100 dengan Tahlil, sebagaimana yang terdapat dalam hadits. Demikian juga dengan para jamaah.

Kemudian Imam Ibnu Taimiah berdoa kepada Allah Swt unt uk dirinya dan untuk kaum muslimin, seperti doa-doa yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits.

Seringkali doa yang beliau baca adalah:

“Ya Allah, tolonglah kami, jangan Engkau beri pertolongan kepada musuh untuk menguasai kami. Berikan makar yang baik bagi kami, jangan Engkau berikan makar buruk kepada kami. Berilah kami hidayah. Mudahkanlah hidayah itu bagi kami. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur kepada-Mu. Orang-orang yang berzikir kepada-Mu. Orang-orang yang kembali kepada-Mu. Orang-orang yang merasa tenang kepada- Mu. Orang-orang yang berhadap kepada-Mu. Orang-orang yang takut kepada-Mu dengan sukarela. Wahai Tuhan kami, terimalah taubat kami. Sucikanlah kesalahan kami. Kuatkan hujjah kami. Berilah hidayah ke dalam hati kami. Alirkanlah darah hitam yang ada di dada kami (bersihkan hati kami)”.

Imam Ibnu Taimiah membuka dan menutupnya dengan shalawat kepada Rasulullah Saw. Kemudian Imam Ibnu Taimiah berzikir. Saya (al-Bazzar, murid Ibnu Taimiah) mengetahui kebiasaan Imam Ibnu Taimiah, tidak seorang pun berbicara dengannya tanpa kepentingan setelah shalat Shubuh. Imam Ibnu Taimiah terus berzikir, ia dengar sendiri, mungkin orang yang duduk di sampingnya dapat mendengar zikir Imam Ibnu Taimiah.

Selama berzikir itu Imam Ibnu Taimiah terus memandang ke atas arah langit.

Demikianlah kebiasaan Imam Ibnu Taimiah hingga matahari naik dan hilang waktu terlarang untuk shalat.

Selama saya berada di Damaskus, saya terus bersama Imam Ibnu Taimiah sepanjang siang hari, seringkali di waktu malam. Imam Ibnu Taimiah mendekatkan saya kepada dirinya hingga ia mendudukkan saya di sampingnya. Saya bisa mendengar apa yang ia baca dan apa yang ia sebut ketika itu. Saya melihat Imam Ibnu Taimiah membaca al-Fatihah. Ia terus mengulang-ulangi bacaan al- Fatihah. Ia menghabiskan waktu itu semuanya, maksudnya dari sejak Shubuh hingga matahari naik, terus mengulang-ulang bacaan surat al-Fatihah.

Saya berfikir tentang itu, mengapa Imam Ibnu Taimiah melazimkan diri dengan surat ini, bukan dengan surat lain. Maka jelaslah bagi saya, wallahu a’lam, sesungguhnya maksud Imam Ibnu Taimiah melakukan itu, ia ingin menggabungkan antara bacaan al-Fatihah antara apa yang terdapat dalam hadits-hadits dan apa yang disebutkan para ulama. Apakah dianjurkan mendahulukan zikir daripada membaca al-Qur’an? Atau sebaliknya? Menurut Imam Ibnu Taimiah, sesungguhnya dalam mengulang-ulang bacaan al-Fatihah itu menggabungkan antara dua pendapat dan mendapatkan dua keutamaan. Ini adalah bagian dari kuatnya kecerdasan Ibnu Taimiah dan tajamnya bashirah (pandangan batin) Ibnu Taimiah100.

Rasulullah Saw hanya mengajarkan duduk berzikir setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari. Demikian disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi. Membuat urutan zikir, doa dan shalawat seperti di atas jelas buatan Imam Ibnu Taimiah. Demikian juga dengan mengulang- ulang bacaan al-Fatihah sampai terbit matahari adalah buatan Imam Ibnu Taimiah.

Bid’ah Mahmudah Syekh Abdul Aziz bin Baz Mufti Saudi Arabia: Doa Pengusir Sihir Buatan Syekh Abdul Aziz bin Baz.

Syekh Abdul Aziz bin Baz mengajarkan doa menjaga diri agar selamat dari gangguan jin dan sihir,

Diantara sebab-sebab keselamatan juga adalah membaca surat al-Ikhlas, surat al-Falaq dan surat an-Nas setiap selesai shalat. Ini merupakan bagian dari sebab-sebab keselamatan. Dan setelah shalat Shubuh dan shalat Maghrib membaca surat al-Ikhlas, surat al-Falaq dan surat an-Nas sebanyak tiga kali101.

Memang ada hadits riwayat ‘Uqbah bin ‘Amir dalam Sunan at-Tirmidzi menyatakan membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas seteleh selesai shalat, tapi sebagai bacaan zikir selesai shalat, tidak disebutkan sebagai tangkal sihir.

Memang ada hadits riwayat Abdullah bin Khubaib dalan Sunan at-Tirmidzi memerintahkan membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas. Tapi sebagai bacaan pagi dan petang.

Adapun mengkhususkan bacaan setelah shalat Shubuh dan shalat Maghrib dengan tujuan tertentu, tidak disebutkan dalam hadits. Dengan demikian, maka ini buatan Syekh Abdullah Aziz bin Baz.

Ramuan Tangkal Sihir Buatan Syekh Abdul Aziz bin Baz:

Anda mesti menggunakan bacaan: al-Fatihah, ayat Kursi, surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas. Anda tiupkan ke diri Anda. Atau tiupkan ke air. Jika Anda masukkan tujuh lembar daun Sidr yang sudah dihaluskan, kemudian Anda pakain untuk mandi, maka ini mujarab untuk menghilangkan gangguan sihir. Jika Anda bacakan tanpa daur Sidr, sudah cukup. Karena Rasulullah Saw, apabila ia merasa ada sesuatu, beliau meniupkan ke kedua tangannya tiga kali ketika akan tidur, beliau membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas tiga kali. Kemudian mengusap wajah, dada dan kepala. Gangguan akan hilang insya Allah.

Anda mesti menggunakan ini, Anda bacakan ke telapak tangan Anda ketika akan tidur. Anda baca ayat Kursi, surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas tiga kali. Kemudian usapkan ke kepala dan wajah tiga kali. Gangguan akan hilang insya Allah.

Jika Anda bacakan ke air, kemudian dipakai untuk mandi, gangguan akan hilang. Jika Anda letakkan di dalam air itu tujuh lembar daun Sidr, sebagaimana yang dilakukan sebagian kalangan Salaf, kemudian Anda bacakan, atau orang lain yang membacakan, ayat Kursi, surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas, ditambah ayat-ayat Sihir yang ada dalam surat al- A’raf, surat Yunus, surat Thaha. Gangguan akan hilang insya Allah. Kemudian Anda pakai untuk mandi, gangguan akan hilang insya Allah102.

Tidak ada hadits Nabi Muhammad Saw menyebut seperti ini. Ini murni ijtihad Syekh Abdul Aziz bin Baz.

Bid’ah Mahmudah di Masjidil-Haram dan Masjid-Masjid di Saudi Arabia Sampai Saat Ini:

Doa Khatam Qur’an Dalam Shalat Tarawih.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sampai saat ini setiap malam imam Masjidil-haram membaca satu juz al-Qur’an dalam shalat Tarawih. Ketika selesai juz 30, sebelum ruku’ imam membaca doa khatam al-Qur’an. Ini disebutkan Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi:

Pasal: Tentang Khatam al-Qur’an.

Al-Fadhl bin Ziyad berkata, “Saya bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Ha nbal), saya katakan, “Jika saya khatam al-Qur’an. Saya lakukan pada shalat Witir atau pada shalat Tarawih?”.

Imam Ahmad bin Hanbal menjawab, “Lakukanlah dalam shalat Tarawih, agar kita mendapatkan doa dalam dua shalat tersebut (Tarawih dan Witir)”.

Saya katakan, “Bagaimanakah saya melakukannya?”.

Imam Ahmad menjawab, “Apabila engkau selesai membaca akhir al-Qur’an. Angkatlah kedua tanganmu sebelum engkau ruku’. Berdoalah untuk kita ketika kita dalam shalat. Lamakanlah tegak”.

Saya katakan, “Apakah doa yang saya ucapkan?”.

Imam Ahmad menjawab, “Apa saja yang engkau inginkan”.

Saya pun melakukan apa yang diperintahkan Imam Ahmad bin Hanbal. Ia berada di belakang saya berdoa dalam keadaan berdiri, ia mengangkat kedua tangannya.

Hanbal berkata, “Saya mendengar Imam Ahmad berkata tentang khatam al-Qur’an, “Apabila engkau selesai membaca surat an-Nas, maka angkatlah kedua tanganmu dalam berdoa sebelum ruku’.”

Saya katakan, “Kepada pendapat manakah engkau berpegang dalam masalah ini?”. Ia menjawab, “Saya telah melihat penduduk Mekah melakukanya. Imam Sufyan bin ‘Uyainah melakukannya bersama mereka di Mekah”.

Al-‘Abbas bin ‘Abd al-‘Azhim berkata, “Demikian juga kami dapati orang-orang melakukannya di Bashrah (Irak) dan di Mekah”. Penduduk Madinah meriwayatkan sesuatu tentang ini, disebutkan dari Utsman bin ‘Affan103.

Pendapat Syekh Ibnu Baz:

Doa Khatam Qur’an Dalam Shalat Tarawih.

Hukum Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat.

Pertanyaan: Sebagian orang mengingkari para imam masjid yang membaca doa khatam Qur’an di akhir bulan Ramadhan, mereka mengatakan bahwa tidak shahih ada kalangan Salaf melakukannya. Apakah itu benar?104

Jawaban: Tidak mengapa melakukan itu (boleh). Karena perbuatan itu benar dari sebagian kalangan Salaf melakukan itu. Karena doa itu adalah doa yang ada sebabnya di dalam shalat, maka tercakup dalil-dalil yang bersifat umum tentang doa dalam shalat, seperti doa Qunut dalam shalat Witir dan bencana-bencana. Wallahu Waliyyu at-Taufiq105.

Waktu Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat Tarawih:

Pertanyaan: Bila kah doa khatam al-Qur’an dibaca? Apakah sebelum ruku’ atau setelah ruku’?

Jawaban: afdhal dibaca setelah membaca surat al-Falaq dan an-Nas. Jika telah selesai membaca al-Quran secara sempurna, kemudian berdoa, apakah pada rakaat pertama atau pada rakaat kedua atau di akhir shalat. Maksudnya, setelah sempurna membaca al-Qur’an, mulai membaca doa khatam al-Qur’an di semua waktu dalam shalat, apakah di awal, di tengah atau di akhir rakaat. Semua itu boleh. Yang penting, membaca doa khatam al-Qur’an ketika membaca akhir al- Qur’an106.

Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin:

Adapun doa khatam al-Qur’an dalam shalat, saya tidak mengetahui ada dasarnya dari Sunnah Rasulullah Saw, tidak pula dari Sunnah para shahabat. Dalil paling kuat dalam masalah ini bahwa ketika Anas bin Malik ingin khatam al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarganya, kemudian ia berdoa. Tapi ini di luar shalat. Adapun membaca doa khatam al-Qur’an di dalam shalat, maka tidak ada dasarnya. Meskipun demikian, ini termasuk perkara ikhtilaf di antara para ulama, ulama Sunnah, bukan ulama bid’ah. Perkara ini luas, maksudnya, tidak selayaknya seseorang bersikap keras hingga keluar dari masjid dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin disebabkan doa khatam al-Qur’an107.

Standar Penetapan Bid’ah Dhalalah.

Jika tidak diberi batasan, semua orang akan membuat-buat ibadah dan menyatakannya sebagai bid’ah hasanah, maka perlu menetapkan standar, jika tidak maka dikhawatirkan ummat akan terjerumus ke dalam perbuatan bid’ah. Suatu perkara dapat disebut Bid’ah Dhalalah jika termasuk dalam beberapa poin berikut:

Pertama, keyakinan batil yang berkaitan dengan dasar-dasar agama Islam. Misalnya menyerupakan Allah dengan makhluk. Mengatakan Allah duduk bersemayam di atas ‘Arsy seperti manusia duduk di atas kursi. Atau menyatakan bersatu dengan tuhan, seperti keyakinan Pantheisme, atau Manunggaling Kawula Gusti. Atau menyembah Allah Swt, namun menghadapkan diri beribadah kepada selain Allah Swt. Atau mengatakan al-Qur’an tidak lengkap. Mengingkari takdir. Mengkafirkan sesama muslim. Mencaci maki shahabat nabi. Menyatakan selain nabi itu ma’shum. Pernyataan bahwa agama Islam tidak relevan dengan zaman. Dan semua keyakinan yang dibuat-buat yang menyebabkan orang meyakininya disebut sebagai kafir.

Kedua, merubah bentuk ibadah yang telah disyariatkan, seperti menambah atau mengurangi. Misalnya menambah rakaat shalat wajib. Mengurangi takaran zakat Fitrah. Menguran gi jumlah sujud dalam shalat. Mengganti surat al-Fatihah dengan surat lain. Merubah lafaz azan. Membuat sujud sebelum ruku’.

Ketiga, merubah waktu ibadah, seperti shalat Shubuh jam sembilan pagi. Atau puasa setengah hari. Atau merubah tempat ibadah, seperti thawaf di bukit keramat. Thawaf di kuburan dan sebagainya.

Keempat, meyakini ada suatu keutamaan pada suatu ibadah yang dilakukan dengan cara khusus, tanpa ada dalil syar’i. Misalnya, berpuasa dengan menjemur diri di panas akan mendatangkan keutamaan ini dan ini. Berpuasa selama empat puluh hari akan mendapat ini dan ini. Atau shalat dengan pakaian tertentu akan mendapatkan keutamaan tertentu. Atau diam pada hari senin akan mendapatkan keutamaan khusus.

Kelima, menyatakan keutamaan khusus pada waktu tertentu, atau tempat tertentu, atau orang tertentu, atau zikir tertentu, atau surat tertentu, tanpa ada dalil syar’i. Seperti menyatakan ada keutamaan pada malam 12 Rabi’ul-Awal. Atau keutamaan zikir yang dibuat oleh orang tertentu

Keenam, membuat ibadah khusus, dengan cara tertentu, dengan jumlah tertentu, dengan keutamaan tertentu. Misalnya, shalat 100 rakaat, pada malam maulid nabi, akan mendapatkan anu dan anu.

Ketujuh, berkumpul melakukan suatu ibadah, pada waktu tertentu dan tempat tertentu dengan keyakinan ada balasan tertentu terhadap perbuatan tersebut. Adapun berkumpul di masjid pada malam Maulid Nabi Muhammad Saw, dengan mendengarkan bacaan al-Qur’an dan ceramah agama seputar sejarah Nabi Muhammad Saw. Atau pada malam tahun baru Hijrah sebagai muhasabah diri, sangat dianjurkan untuk memanfaatkan momen tertentu dalam membahas masalah tertentu.

Kedelapan, membuat batasan tertentu dalam takaran, jarak, jumlah bilangan, waktu, yang telah ditetapkan syariat Islam. Seperti berat nishab zakat, jarak Qashar shalat, jumlah bilangan kafarat, jumlah batu melontar jumrah, jumlah putaran thawaf dan sa’i.

Kesembilan, semua perkara yang dibuat-buat, tanpa ada dalil dari syariat Islam, apakah dalil itu nash (teks), atau pemahaman terhadap nash, atau secara terperinci dalam dalil, atau dalilnya global bersifat umum, maka itu adalah bid’ah dhalalah. Jika terangkum dalam dalil, apakah dalil itu nash (teks), atau pemahaman terhadap nash, atau secara terperinci dalam dalil, atau dalilnya global bersifat umum, maka itu adalah Sunnah Hasanah. Ketika terjadi ikhtilaf antara dalil-dalil, maka dalil yang bersifat nash lebih didahulukan daripada dalil yang bersifat ijmaly (global). Dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil yang bersifat umum. Dalil yang disebutkan secara nash lebih didahulukan daripada dalil pemahaman terhadap nash. Dengan demikian maka pintu ijtihad tetap terbuka bagi para ulama108.

Andai Imam Syafi’i Tidak Membagi Bid’ah.

Imam Ibnu Taimiah merutinkan membaca al-Fatihah dari setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari, padahal Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan dan melakukannya. Syekh Abdul Aziz bin Baz mengajarkan ramuan tangkal sihir, padahal Rasulullah Saw tidak membuat dan mengajarkannya. Syekh Ibnu ‘Utsaimin mengajarkan shalat sunnat Tahyatal-masjid di tanah lapang tempat shalat ‘Ied, padahal Rasulullah Saw tidak pernah melakukan dan mengajarkannya. Para imam masjid di Saudi Arabia membaca doa khatam al-Qur’an dalam shalat Tarawih di akhir Ramadhan, padahal Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkannya, apalagi melakukannya. Andai Anda masih juga berpegang pada kaedah, “Setiap yang tidak dilakukan Rasulullah Saw, maka haram”. Maka Ibnu Taimiah, Syekh Ibnu Baz, Syekh Ibnu Utsaimin dan para imam Saudi Arabia, semuanya telah melakukan perbuatan haram.

Selesai...

Ust. Abdul Somad Lc. MA

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru