Menengok Keindahan 8 Gunung Di Jawa Tengah Yang Perlu Dicoba


Anda seorang pecinta alam? Rasanya belum lengkap jika belum mencicipi keindahan eksotika 8 gunung yang ada di jawa tengah ini. Gunung yang hampir berdekatan jaraknya ini menawarkan kemolekannya saat berada diatas puncaknya. Selain tentu memiliki nilai historis yang sakral, gunung-gunung ini adalah karya agung sang Pencipta, Alloh Subhanahu wata'alaa. Yuuk langsung saja kita simak ulasan singkat 8 gunung indah yang membentang di jawa tengah.

1. Gunung Merapi

Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak kurang dari 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat permukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api

2. Gunung Slamet

Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Kawah IV merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang, dan terakhir aktif hingga pada level siaga medio-2009.

3. Gunung Sumbing

Gunung Sumbing adalah gunung api yang terdapat di Jawa Tengah, Indonesia. (Ketinggian puncak 3.371 mdpl), gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet. Gunung ini secara administratif terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang; Kabupaten Temanggung; dan Kabupaten Wonosobo. Bersama dengan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing membentuk bentang alam gunung kembar, seperti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, apabila dilihat dari arah Temanggung. Celah antara gunung ini dan Gunung Sindoro dilalui oleh jalan provinsi yang menghubungkan kota Temanggung dan kota Wonosobo. Jalan ini biasa dijuluki sebagai "Kledung Pass".

4. Gunung Sindoro

Gunung Sindoro, biasa disebut Sindara, atau juga Sundoro (Ketinggian puncak 3.150 mdpl) merupakan sebuah gunung volkano aktif yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindoro terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing.Gunung sindara dapat terlihat jelas dari puncak sikunir dieng

Kawah yang disertai jurang dapat ditemukan di sisi barat laut ke selatan gunung, dan yang terbesar disebut Kembang. Sebuah kubah lavakecil menempati puncak gunung berapi. Sejarah letusan Gunung Sindara yang telah terjadi sebagian besar berjenis ringan sampai sedang (letusan freatik).

5. Gunung Kembang

Ada yang tau tentang gunung kembang? Sebuah gunung kecil yang terletak tepat di sebelah gunung sindoro ini sering dijuluki dengan nama “anak gunung sindoro” karena memang lokasinya yang menempel dengan gunung sindoro.

Dulu gunung kembang tidaklah populer di kalangan para pendaki, tapi kini gunung kembang menjadi salah satu gunung yang cukup diminati oleh pendaki karena pemandangannya yang tak kalah indah dengan gunung di sekitarnya.

Ada beberapa jalur pendakian gunung kembang yang bisa kita coba, salah satunya dan yang paling populer adalah jalur via Blembem Wonosobo.

6. Gunung Prau

Puncak Gunung Prahu merupakan padang rumput luas yang memanjang dari barat ke timur. Bukit-bukit kecil dan sabana dengan sedikit pepohonan dapat kita jumpai di puncak. Gunung Prahu merupakan puncak tertinggi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, dengan beberapa puncak yang lebih rendah di sekitarnya, antara lain Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun, dan Gunung Juranggrawah.

7. Gunung Merbabu

Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manikpada abad ke-15. Menurut etimologi, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.

Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.

8. Gunung Telomoyo

Gunung ini diapit oleh Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sumbing, dan Gunung Ungaran. Ia terbentuk dari sisi selatan Gunung Soropati yang telah tererosi dan runtuh sejak Pleistosen. Akibat runtuhan ini, terbentuk cekungan berbentuk U. Gunung Telomoyo muncul di sebelah selatan depresi ini setinggi 600 m dari dasar cekungan.

Orang-orang dapat naik hingga ke puncak Gunung Telomoyo dengan menggunakan kendaraan maupun jalan kaki.Terdapat air terjun kecil disaat menapaki jalan menuju puncak gunung. Pemandangan di sekitar gunung ini sangat bagus. Di puncak gunung ini sekarang banyak didirikan menara penerus sinyal radio. [Muhammad Djafar Ibrahim]

Mengenal Biografi Dr. Mawardi M Saleh, Pakar Fikih Asal Riau


Mengenal Sosok Dr. Mawardi M Saleh.,Lc.MA yang sering disebut oleh Ustad Abdul Somad dalam ceramahnya

Sosok ilmuwan Muslim yang satu ini bisa dikatakan manusia langka. Usianya masih cukup muda. Ia lahir pada 24 Juni 1969, di Bangkinang, Kampar, Riau. Dengan tubuh mungil, setinggi 158 cm, putra Bangkinang, ini mampu meraih prestasi tertinggi di Universitas Islam Madinah. Tahun 2004 lalu, dia menamatkan program doktornya di bidang fiqih dan ushul fiqih dengan predikat Summa Cum Laude (al-Mumtaz ma’a martabati asy-Syarafil Ula). Nilai seluruh pelajarannya adalah ”A Plus”.

Disertasi doktor yang ditulisnya pun bukan biasa-biasa saja. Tebalnya, 1.100 halaman. Judulnya, Ziyadat was-Tidrakaat al-Imam al-Nawawi, ‘alal Imam ar-Rafi’iy fi Babi al-Zakat. Seorang penguji mengaku keheranan, karena baru saat itu, dia menemukan ada disertasi setebal 1.000 halaman lebih di Universitas Madinah, tanpa ada satu kesalahan pun dalam nahwu dan sharaf. Mawardi adalah orang Indonesia kelima yang meraih doktor di Universitas Madinah. Empat sebelumnya adalah Dr Salim Segaf al-Jufri, Dr. Ahsin Sakha, Dr. Abd Muhith, dan Dr. Hidayat Nurwahid.

Putra Bangkinang ini mulai memasuki jenjang S-1 di Universitas Madinah tahun 1990. Di tingkat ini, setiap semester juga dia lalui dengan predikat summa cum laude. Tahun 2000, ia menyelesaikan pendidikan S2-nya, dengan tesis berjudul Tahqiq al-Matlabal ‘Aliy fi Syarhi Wasith al-Imam al-Ghazali. Tesis setebal 900 halaman ini merupakan studi tentang filologi terhadap buku al-Matlabul Aliy, sebuah kitab fiqih terbesar dalam mazhab Syafii, karya Ibnu Rif’ah. Padahal, Mawardi hanya mengkaji bab wudhu saja, yang naskah aslinya saja sekitar 600 halaman. Manuskrip ini belum dibukukan. Jika nantinya, dibukukan, dipekrirakan akan menjadi sekitar 100 jilid.

Ibnu Rif’ah memulai kitabnya dari bab buyu’. Kenapa? Karena bab mu’amalah rumit dan membutuhkan energi. ”Mumpung semangatnya sedang tinggi beliau mulai dari yang susah. Baru balik ke bab awal, thaharah, sampai kitab zakat, haji, Ibnu Rifah meninggal. Kitabnya dilanjutkan oleh muridnya yang bernama al-Qamuliy,” papar Mawardi yang kini diamanahi sebagai Imam Besar Masjid Raya Bangkinang.

Tentang Imam al-Ghazali, Mawardi menyimpulkan, bahwa dialah yang mematangkan fiqih Syafii. ”Beliau adalah ahli fiqih. Metodologi hukum dimatangkan dengan kitab al-Mustashfa. Kitab al-Ghazali ini menjadi rujukan,” papar Mawardi. Al-Ghazali menulis kitab-kitab fiqihnya berdasarkan tingkatan pendidikan seseorang. Kitab al-Basith diringkas menjadi al-Wasith; diringkas lagi menjadi al-Wajiz. Diringkas lagi menjadi al-Khulashah. Kitab al-Wajiz dikaji oleh Imam Rofi’i, yang menyatakan, bahwa al-Wajiz adalah yang paling matang dalam karya fiqih al-Ghazali. Oleh Rofi’i, al-Wajiz diringkas menjadi al-Muharrar, yang kemudian diringkas oleh Imam Nawawi menjadi Minhajut Thalibin.

Kajian manuskrip memerlukan ketekunan dan penguasaan bahasa yang tinggi. Mawardi termasuk yang menyukai tantangan semacam ini. Penguasaan Dr. Mawardi dalam soal tata bahasa Arab sudah tampak menonjol sejak dia belajar di Pesantren Darun Nahdhah Thawalib, Bangkinang. Ketika itu, dia sudah hafal Kitab nahwu Alfiyah Ibn Malik, yang berisikan 1.000 lebih bait syair di bidang nahwu. Bakat Mawardi dalam penguasaan tata bahasa Arab diwarisi oleh ayahnya, Muhammad Shaleh, seorang guru pesantren di tempat Mawardi belajar.

Sebenarnya, ketika duduk di bangku sekolah dasar, Mawardi sangat menyukai pelajaran matematika. Dia juara dalam pelajaran matematika. ”Kalau guru tidak ada, saya yang gantikan,” kata Mawardi kepada Islamia-Republika. Semula, dia terpikir untuk melanjutkan ke SMP. Tapi, akhirnya, sebelum meninggal dunia, ayahnya sempat berpesan kepada seseorang, bahwa Mawardi harus melanjutkan pendidikan ke pesantren. Pesan ayahnya itu pun diikutinya.

Meskipun ditinggal ayahnya sejak kelas VI SD, Mawardi sangat mengidolakan sosok sang ayah. Sang ayah aktif di Majlis Tarjih Muhammadiyah, tetapi ia sangat toleran dengan perbedaan pendapat. Ayahnya membaca doa qunut subuh, ketika menjadi Imam di masjid yang biasa membaca qunut. Ayahnya juga menanamkan semangat kerja keras. ”Kelas tiga SD saya sudah diajak ayah mencari kayu bakar di hutan dan membuka lahan,” kenang Mawardi yang kini memimpin Majelis Ulama Kabupaten Kampar.

Karena itulah, disamping belajar sungguh-sungguh, di Madinah Mawardi juga menyempatkan diri bekerja di sejumlah instansi. Ia sempat bekerja sebagai penerjemah di Mahkamah Syariah Madinah dan di Rumah Sakit. Ia juga salah satu staf di lembaga Penelitian Peninggalan Madinah. Mawardi mengaku bersyukur sempat menyelesaikan jenjang pendidikannya sampai S3 di Universitas Madinah. Selepas menyelesaikan S2, ia sempat melamar ke sejumlah universitas. Salah satu yang menerimanya adalah Islamic Studies McGill University. ”Alhamdulillah, saya diterima di Madinah,” ujarnya.

Maka, ia putuskan untuk melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Madinah. ”Saya pikir, apa ada tempat lain yang lebih baik dari Madinah,” kata Mawardi yang kini juga aktif sebagai dosen di Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Riau. Menurutnya, tradisi ilmu dan budaya ilmiah di sana sangat tinggi. Kurikulum di Madinah, seluruhnya diberikan dalam bentuk komparatif. Sejak di bangku S1, mahasiswa harus mempelajari Tafsir Ibn Katsir, Fiqih Bidayatul Ijtihad, Hadits Ahkam Subulus Salam. Aqidah diberikan juga secara komparatif. ”Jadi tidak menggiring pada fanatisme kelompok tertentu. Kita diajar menjadi manusia yang berargumen,” kata Mawardi.

Kecintaan dan prestasi Mawardi kepada ilmu pengetahuan keislaman telah menarik simpati sejumlah dosen-dosennya. Mawardi menyebut seorang dosen bernama Prof. Dr. Naif al-Amri yang sangat peduli kepada mahasiswa. Ia seorang ahli fiqih. ”Kalau saya perlu buku, dia belikan dan diantar ke rumah saya,” paparnya mengenang. Ia pun kadangkala dibelikan tiket pesawat saat melakukan penelitian ke Mesir. ”Seminggu saya tidak menelepon, dia yang cari,” katanya lagi.

Kini, di wilayah Riau, Mawardi termasuk sedikit ilmuwan Muslim yang memiliki jadwal aktivitas super sibuk. Ia bertekad mengembangkan tradisi keilmuan yang sehat di wilayahnya. Di masjid Agung Kampar yang dipimpinnya, dia mengembangkan kajian-kajian kitab secara rutin dalam berbagai bidang keilmuan. Setiap pekan, ribuan jamaah antusias mengikuti kajian Kitab.

Apakah Kafarat Jima` Di Bulan Ramadhan Berlaku Untuk Suami Istri?


Oleh : Ust. Abdullah Al Jirani

Seorang suami yang menyetubuhi istrinya di siang hari bulan Ramadan secara sengaja dan tahu akan keharamannya, maka ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam dosa yang sangat besar. Otomatis puasa keduanya batal dan wajib untuk mengqadha’nya (menggantinya) di waktu yang lain. Adapun kafaratnya (tebusannya), hanya wajib bagi suami saja, istri tidak. Ini merupakan pendapat yang shahih dalam madzhab Syafi’i dan madzhab Hambali. Bentuk kafaratnya adalah : (1). Memerdekakan budak, kalau tidak mampu, (2). Puasa dua bulan berturut-turut, kalau tidak mampu, (3). Memberi makan kepada enam puluh orang fakir miskin dengan kadar satu mud perhari ( kurang lebih : 600 gram ).

Imam An-Nawawi –rahimahullah- (wafat : 676 H) berkata :

قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الصَّحِيحَ مِنْ مَذْهَبِنَا أَنَّهُ لَا يَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ كَفَّارَةٌ أُخْرَى وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ

“Telah kami sebutkan, sesungguhnya yang shahih (yang benar) dari madzhab kami (Syafi’iyyah) bahwa istri tidak wajib mengeluarkan tebusan lain. Dan ini merupakan pendapat imam Ahmad.” [ Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 6/345 ].

Ucapan beliau : “Istri tidak wajib mengeluarkan tebusan lain “,artinya : Istri cukup mengqadha’ puasanya saja, adapun membayar kafarat, maka tidak. Hal ini dipertegas oleh imam Asy-Syirbini Asy-Syafi’i –rahimahullah – (wafat : 977 H) dalam kitab beliau “Al-Iqna’ fi Hilli Al-Fadzi Abi Syuja’ “ : (1/240) :

(فَعَلَيهِ) وعَلى الْمَوْطُوءَة المكلفة (الْقَضَاء) لإفساد صومهما بِالْجِمَاعِ (و) عَلَيْهِ وَحده (الْكَفَّارَة) دونهَا

“(Maka wajib bagi yang menjimaki/suami) dan yang dijimaki/istri yang mukallaf untuk mengadha’ (mengganti puasanya) karena puasa keduanya telah rusak dengan jimak, dan wajib bagi suami saja untuk membayar (kafarah/tebusan), tanpa istri.” – selesai penukilan.

Dasarnya, sebuah hadis dari sahabat Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: هَلَكْتُ، يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «وَمَا أَهْلَكَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ، قَالَ: «هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا؟» قَالَ: لَا، قَالَ: ثُمَّ جَلَسَ، فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ، فَقَالَ: «تَصَدَّقْ بِهَذَا» قَالَ: أَفْقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: «اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ»

“Ada seorang laki-laki mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya berkata : “Wahai Rasulullah, celaka aku !”. Nabi bertanya : “Apa yang membuat kamu celaka?”. Laki-laki itu menjawab : “Aku telah menjimaki istriku di siang hari bulan Ramadan.” Nabi : “Apakah kamu punya budak untuk dimerdekakan ? Laki-laki : “Tidak.” Nabi : “Apakah kamu mampu puasa dua bulan berturut-turut ?” Laki-laki : “Tidak”. Nabi : “Apakah kamu mampu untuk memberi makan enam puluh orang fakir miskin ?”. Laki-laki : “Tidak”. Kemudian nabi duduk, lalu didatangkan satu karung kurma kepada beliau, seraya berkata : “Sedekahkan ini.” Laki-laki : “Apakah ada yang lebih fakir dari aku ?” Tidak ada di kota Madinah ini sebuah keluarga yang lebih membutuhkan kepada sedekah ini dari saya.” Maka nabi tertawa sampai kelihatan sisi serinya, lalu berkata : “Pergilah ! dan beri makan keluargamu dengannya.” [HR. Al-Bukhari : 1936 dan Muslim : 1111].

Dalam hadits di atas, Nabi ﷺ tidak memerintahkan istri laki-laki tersebut untuk membayar kafarat. Jika memang wajib, tentu moment tersebut tidak akan disia-siakan oleh nabi untuk menjelaskannya. Karena masalah ini masalah yang sangat penting. Jika tidak dijelaskan, maka hal ini menunjukkan bahwa yang wajib membayar kafarat hanyalah suami.

Adapun illat (sebab) tidak diwajibkannya istri untuk membayar kafarat dalam hal ini, telah disebutkan di dalam kitab “Al-qna’” (1/240) ada dua :

1). Karena sudah berkurangnya kesempatan puasa bagi seorang wanita disebabkan hal-hal yang menghalanginya seperti haid dan yang semisalnya.

2). Kafarat di sini merupakan denda yang berupa harta yang berkaitan dengan jimak, sebagaimana mahar (mas kawin) yang hanya wajib bagi laki-laki saja.

Demikian pembahasan kali ini. semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan keilmuan kita. Al-Hamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam.

------

Faidah :

Seorang yang saat itu belum mampu untuk membayar kafarat dengan memberi makan enam puluh orang fakir miskin, tetap wajib pada tanggungannya sampai nanti ada kelonggaran, alias tidak gugur. Adapun kasus di dalam hadis di atas sifatnya “Qadhiyyatul ‘ain” (suatu kejadian yang menimpa orang tertentu), hukumnya khusus untuk laki-laki yang disebutkan dalam kisah tersebut, tanpa berlaku untuk semua orang. Demikian dinyatakan oleh Imam An-Nawawi –rahimahullah- dalam “Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab”.

Penerimaan Santri Baru Griya Tahfidzul Qur'an Al-Husainiy Purbalingga Tahun Ajaran 1440-1441 H


Bismillahirrahmanirrahim. Seraya bersyukur kepada Alloh, GRIYA TAHFIDZUL QUR'AN AL - HUSAINIY PADAMARA-PURBALINGGA Kembali membuka PENERIMAAN SANTRI BARU TAHUN AJARAN 1440-1441 H (2019-2020)


* * *

Misi: Mencetak generasi qur'ani, berwawasan islami dan mandiri

* * *


Target Kelulusan:
  1. Hafal al-Qur'an minimal 15 juz (selama 3 tahun)
  2. Hafal minimal 100 hadits shahih pilihan (selama 3 tahun)
  3. Terbentuknya 'aqidah yang kokoh dan ibadah yang benar
  4. Terbentuknya akhlak islami
  5. Mampu berbahasa arab dasar
  6. Memiliki life skill (keterampilan hidup)
  7. Mendapat ijazah Paket C /setara SMA
  8. Siap melanjutkan kuliah di dalam dan luar negeri

Materi Pembelajaran:
  1. Tahsin dan tahfidz
  2. 'Aqidah
  3. Fikih
  4. Hadits
  5. Bahasa Arab
  6. Akhlaq
  7. Life skill
  8. Olah raga (karate, memanah, futsal dan renang)

Persyaratan:
  1. Laki-laki minimal 15 tahun/ lulus SMA
  2. Mengisi formulir pendaftaran
  3. Menyerahkan fc KK dan Ijazah terakhir
  4. Siap menaati peraturan yang ada
  5. Bisa membaca al-Qur'an

Waktu Pendaftaran dan Tes:
6 Mei - 28 Juni 2019
Tes : 29-30 Juni 2019
Pengumuman: 1 Juni 2019
Pendaftaran via SMS atau WA dengan format : Nama#Alamat#Umur

Contoh : Fauzan#Kemangkon#16 th
Kirim ke : 0831-4447-9991

Biaya:
Infak sarpras : Rp. 500.000 (sesuai kemampuan)
Infaq bulanan : Rp. 200.000 (sesuai kemampuan)

"GRATIS UNTUK DU'AFA"


Lama belajar: Santri belajar selama tiga tahun dengan asumsi lulus program paket C (persamaan SMA)

Alamat:
Griya Tahfidzul Qur'an Al-Husainiy, Ds. Dawuhan Kec. Padamara-Purbalingga, HP 0831-4447-9991

--------------------

Mohon bantu share informasi ini Terima kasih, bârokallôhu fîkum.

Mengatasi Shalat yang Tidak Khusyu


Berikut ini adalah fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengenai solusi mengatasi shalat yang tidak khusyu'.

Pertanyaan:

"Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ketika saya hendak shalat, saya sedang kacau pikiran dan banyak yang dipikirkan, dan rasanya saya tidak begitu sadar terhadap diri saya sendiri kecuali setelah salam, lalu saya mengulangi lagi, namun saya rasakan seperti semula, sampai-sampai saya lupa tasyahud awal dan tidak tahu lagi berapa rakaat yang telah saya kerjakan. Hal ini semakin menambah kekhawatiran dan rasa takut saya kepada murka Allah, kemudian saya sujud sahwi. Saya mohon bimbingannya, dan saya haturkan terima kasih."

Jawaban:

Bisikan itu berasal dari syetan, yang wajib bagi anda adalah memelihara shalat, konsentrasi dan thuma’ninah dalam melaksanakannya sehingga anda dapat melaksanakannya dengan penuh kesadaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. [Al-Mukminun/23 : 1-2]

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang tidak sempurna shalatnya dan tidak thuma’ninah dalam melaksanakannya, beliau menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya, beliaupun bersabda.

إِذَ قُمْتَ إِلَى الَّصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَاْ مَاتَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَع حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Artinya : Jika engkau hendak mendirikan shalat, sempurnakanlah wudhu, lalu berdirilah menghadap kiblat kemudian bertakbirlah (takbiratul ihram), lalu bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah sampai engkau tenang dalam posisi ruku, lalu bangkitlah (berdiri dari ruku’) sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau tenang dalam posisi sujud, lalu bangkitlah (dari sujud) sampai engkau tenang dalam posisi duduk. Kemudian, lakukan itu semua dalam semua shalatmu”. [1]

Jika anda sadar bahwa anda sedang shalat di hadapan Allah dan bemunajat kepadaNya, maka hal itu akan mendorong anda untuk khusyu’ dan konsentrasi ketika shalat, syetan pun akan menjauh dari anda sehingga selamatlah anda dari bisikkannya. Jika dalam shalat anda terasa banyak godaan, meniuplah tiga kali ke samping kiri dan memohonlah perlindungan Allah tiga kali dari godaan syetan yang terkutuk, insya Allah hal ini akan membebaskan anda.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh salah seorang sahabatnya melakukan itu, ketika orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah menyelinap diantara diriku dan shalatku serta bacaanku, ia mengacaukan shalatku”. [2]

Jadi, anda tidak perlu mengulangi shalat karena godaan, akan tetapi hendaknya anda sujud sahwi jika anda telah melakukan apa yang diwajibkan itu. Misalnya, anda tidak melakukan tasyahud awal karena lupa, atau tidak membaca tasbih ketika ruku’ atau sujud karena lupa, atau anda ragu apakah tiga raka’at atau empat raka’at ketika shalat Zhuhur umpamanya, maka anggaplah itu tiga raka’at, lalu sempurnakanlah shalat, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum salam. Jika dalam shalat Maghrib anda ragu apakah baru dua raka’at atau sudah tiga raka’at, maka anggaplah itu baru dua raka’at lalu sempurnakan, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum salam, karena demikianlah yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah melindungi anda dari godaan setan dan menunjuki anda kepada yang diridahiNya. [Kitab Ad-Da’wah, hal 76, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisu, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

Footnote:
[1]. Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 757, Muslim kitab Ash-Shalah 397

Kisah Taubatnya Raja Maksiat, Malik bin Dinar


Malik Bin Dinar sebelum bertaobat adalah Raja maksiat, semua maksiat yang ada di muka bumi ini kalau di tanyakan ke Malik Bin Dinar pasti dijawab, “sudah”.

Suatu ketika orang bertanya kepadanya, bagaimana ia dapat mengubah kelakuannya yang buruk itu?. Pada mulanya Malik enggan memberitahu, tetapi setelah didesak beberapa kali, dia pun bersetuju menceritakan kisah dirinya.

Menurutnya, dulu dia seprang satpam atau penjaga keamanan di pasar. Kehidupannya dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba dan memukuli manusia,. Ia lakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat pun melainkan ia telah melakukannya.

Malik sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargainya karena kebejatannya. Maliak bin Dirham RA, Menurutku: “suatu waktu, akau merindukan pernikahan dan memiliki anak. Aku pun menikah dan dikaruniai seorang puteri yang kuberi nama Fathimah. Aku sangat mencintainya. Setiap kali dia bertambah besar, bertambah lah pula keimanan didalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku. Pernah suatu ketika Fathimah melihatku memegang segelas khamer, dia pun mendekat kepadaku dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat itu umurnya belum genap dua tahun. Seakan-akan Allah swt –lah yang mendorong melakukan hal tersebut.

Setiap kali ia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah swt selangkah, setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal.

Aku pun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Setanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari, setan kepadaku: “sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan yang belum pernah engku lakukan sebelumnya.”

Aku bertekad untuk mabuk dan meminum khamar sepanjang malam. Aku minum, minum dan minum. Aku lihat diriku telah terlempar di dalam mimpi.

Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat.

Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil. “Fulan bin fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar.” Aku melihat si fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan. Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku, “Mari menghadap al-Jabbar!”

Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku, seakan-akan tidak ada seorang pundi padang Mashsyar. Aku melihat seekor ular besar yang ganas lagi kuat merayap megejar ke arahku dengan membuka mulutnya. Aku pun lari karena sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah.

Aku berkata, “ Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” dia menjawab “ Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini mudah-mudahan engkau selamat!”

Aku pun berlari kearah yang ditujukkan. Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata, “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri kedalam api?”

Akupun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata, “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.”

Dia menangis karena iba dengan keadaanku seraya berkata, “Aku lemah sebagimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatu pun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat.

Aku berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan memakanku. Aku melihat di ats gunung terdapat anak kecil-kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak, “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu”.

Aku mengetahui bahwa dia putriku. Aku pun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Dia pun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Dia duduk di pangkuanku sebagimana dulu di dunia.

Dia berkata kepadaku, “Wahai ayah, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.”

Kujawab, “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu,”

Dia berkata, “itu adalah amal keburukanmu, engkau rela membesarkan dan menumbuhkaannya hingga hamper memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal di dunia akan dirupakan menjadi sosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan seuatu untuk membantu kondisimu. Seandainya engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih keci, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.”

Dia berkata,”Aku tebangun dari tidurku dan berteriak : Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai rabbku, ya ‘belumkah datang waktunya bagiku orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantasan aku mandi dan keluar untuk melaksanakan shalat shubuh dan ingin segera bertobat dan kembali kepada Allah swt. Itulah kisah tobat Malik Bin Dinar RA, yang beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi’in dan termasuk ulama Basrah, dia terkenal dalam hidupnya sebagai ulama yang selalu menangis sepanjang malam memohon ampunan kepada Allah swt.

Apa Batasan Pengakuan Rasululloh (Taqrir)

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Bentuk dalil sunnah ada tiga macam, yakni: apa yang dilakukan Rasulullah (sunnah fi'liyah), apa yang dikatakan oleh Rasulullah (sunnah qauliyah) dan apa yang diakui oleh Rasulullah (sunnah taqririyah).

Saat ini saya akan sedikit menyinggung yang ketiga, yakni taqririyah. Ketika Rasulullah melihat suatu kejadian tetapi tidak melarangnya, maka dengan sendirinya itu menunjukkan bahwa tindakan tersebut boleh dilakukan sebab tak mungkin Rasulullah membiarkan suatu kesalahan terjadi tanpa mengoreksinya. Ini yang disebut sunnah taqririyah atau sunnah yang berupa pengakuan dari Rasulullah. Sampai poin ini banyak yang tahu.

Namun perlu diketahui juga bahwa pembiaran Rasulullah terhadap suatu kejadian bisa dianggap taqrir (pengakuan Rasulullah bahwa suatu hal diperbolehkan) hanya apabila itu dilakukan oleh seorang Muslim saja. Syaikh as-Syaukani menjelaskan:

إرشاد الفحول إلى تحقيق الحق من علم الأصول (1/ 117)
وَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ الْمُقَرَّرُ مُنْقَادًا لِلشَّرْعِ، فَلَا يَكُونُ تَقْرِيرُ الْكَافِرِ عَلَى قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ دَالًّا عَلَى الْجَوَازِ.

"Hal yang diakui haruslah bermuara pada syariat, maka pembiaran terhadap orang kafir atas perkataan atau perbuatannya tidaklah menunjukkan kebolehan".

Dari sini kita tahu bahwa pembiaran Rasul pada beberapa komentar atau perbuatan orang kafir seperti tercatat dalam beberapa hadis tidaklah bisa dijadikan hujjah bahwa Rasulullah merestui itu.

Dalam hal akidah, pernah ada orang kafir Yahudi yang berkata bahwa langit ada di satu jari Tuhan, bumi di satu jari lain, dan gunung di satu jari lain. Nabi Muhammad ternyata tertawa mendengat hal itu dan salah satu perawi hadisnya (فضيل) menyimpulkan bahwa Nabi setuju atau iqrar terhadap pernyataan Yahudi itu. Beberapa tokoh terkemuka menjadikan hal ini sebagai dalil bahwa Allah punya beberapa jari tangan dan bahkan menyesatkan siapa pun yang tak mau mengakuinya. Padahal, kesimpulan itu secara akidah sangat bermasalah sebab kandungan tajsim di dalamnya.

Kesimpulan perawi dan beberapa tokoh tersebut salah sebab ucapan Yahudi sama sekali bukan rujukan dan diamnya Nabi terhadap itu tak bisa diartikan persetujuan. Hal yang sama berlaku pada hadis yang menceritakan bahwa Nabi bertanya pada seorang musyrik bernama Abu Hushain, "Berapa tuhan yang kau sembah hari ini?". Dia jawab: "Ada tujuh, enam di bumi dan satu di langit". Beberapa tokoh menjadikannya dalil bahwa Allah berada secara fisik di langit sebagaimana berhala berada secara fisik di bumi dan mereka menyangka bahwa Nabi mengakuinya. Ini kesimpulan yang gegabah. Meyakini bahwa Allah bertempat dalam ruang tertentu seperti halnya berhala dan bahkan kita semua bertempat dalam ruang tertentu adalah akidah bid'ah. Saya sudah sering membahas ini secara mendetail sehingga tak perlu diulang.

Semoga bermanfaat